Advertisement

iklan

Rupiah 26-30 November 2018: G20 Meeting, Notulen FOMC, GDP AS

286311

Minggu lalu, Rupiah kembali menguat didukung oleh anjloknya harga minyak dan kenaikan suku bunga serta kebijakan pemerintah. Minggu ini, Rupiah masih akan cenderung menguat.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar minggu lalu (23 November 2018), dan dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Pelemahan harga minyak dunia yang signifikan minggu lalu, membawa keuntungan pada nilai tukar Rupiah. Di tengah sorotan pasar pada defisit transaksi berjalan (Current Account) yang semakin melebar, analis memperkirakan neraca perdagangan Indonesia hingga akhir tahun ini akan membaik akibat turunnya laju nilai impor minyak. Membaiknya neraca perdagangan akan mengurangi defisit transaksi berjalan.

Faktor yang bisa menghambat penguatan Rupiah adalah turunnya indeks harga komoditi, yang berarti juga turunnya harga sejumlah komoditi andalan ekspor Indonesia seperti minyak kelapa sawit (CPO) dan batu bara. Meski demikian, analis memperkirakan dampak penurunan nilai impor minyak masih akan lebih besar.

Minggu lalu, Rupiah menjadi mata uang Asia yang paling menguat terhadap US Dollar, melebihi persentase penguatan Yen Jepang dan Rupee India. Mata uang Garuda menguat 0.5% sepanjang minggu lalu, dan ditutup pada level 14535 per USD, tertinggi selama 4 bulan terakhir. Menurut Bank Indonesia (BI), pasar merespon positif kenaikan suku bunga acuan BI, dan kebijakan pemerintah untuk menarik Dana Hasil Ekspor (DHE) yang diparkir di luar negeri.

Minggu lalu, lebih banyak yang melepas valuta asing dari devisa hasil ekspor, sehingga mendorong laju penguatan Rupiah. Di samping itu, kecemasan terhadap ekspektasi pelemahan ekonomi global dan terlalu cepatnya kenaikan suku bunga The Fed juga ikut mendukung penguatan Rupiah.

Minggu ini, pasar akan fokus pada pertemuan G20 di Buenos Aires, Argentina, yang mana Indonesia menjadi salah satu anggotanya. Pada pertemuan tersebut, presiden AS Donald Trump dijadwalkan mengadakan pembicaraan dengan presiden China Xi Jinping mengenai perdagangan kedua negara. Analis memperkirakan pertemuan tersebut berpotensi mengakhiri perang dagang kedua negara.

Data penting dari AS minggu ini adalah notulen FOMC, GDP (Second Estimate), Core PCE Price Index, dan kepercayaan konsumen versi CB. Selain itu, pasar juga akan mencermati pidato ketua The Fed Jerome Powell di New York, terutama mengenai kemungkinan frekuensi kenaikan suku bunga tahun depan.

Secara teknikal, diperkirakan Rupiah masih akan cenderung menguat, dengan support kuat pada level 14389.

 

Jadwal Rilis Data Fundamental:

Senin, 26 November 2018:

  • Waktu Tentative: data pertumbuhan kredit bulan Oktober 2018 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +12.75% (tertinggi dalam 3 tahun terakhir).


Rupiah 26-30 November 2018: G20

 

Jumat, 30 November 2018:

  • Jam 16:50 WIB: Uang beredar M2 di Indonesia bulan Oktober 2018 y/y: bulan sebelumnya: +6.7%.


Rupiah 26-30 November 2018: G20

 

Senin, 3 Desember 2018:

  • Jam 07:30 WIB: Indeks Manufacturing PMI Indonesia versi Nikkei bulan November 2018: bulan sebelumnya: 50.5. Perkiraan: 50.7.


Rupiah 26-30 November 2018: G20

 

Data dan peristiwa berdampak dari AS minggu ini: notulen meeting FOMC, pidato ketua The Fed Jerome Powell, Preliminary GDP, Core PCE Price Index, dan indeks kepercayaan konsumen versi CB.

 

Tinjauan Teknikal


Rupiah 26-30 November 2018: G20

Chart Daily:

USD/IDR masih cenderung bearish (Rupiah masih cenderung menguat), menyusul terbentuknya pola triple top pada level 14645:

  1. Harga berada di bawah kurva middle band indikator Bollinger Bands, dan titik indikator Parabolic SAR masih berada di atas bar candlestick.
  2. Kurva indikator MACD masih berada di bawah kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA juga berada di bawah level 0.00
  3. Garis histogram indikator ADX berwarna merah dan berada di atas level 25, menunjukkan sentimen bearish yang masih kuat.

Support kuat ada pada level 14530, yang selama 3 minggu terakhir sulit ditembus. Jika level ini bisa ditembus, support kuat berikutnya ada di sekitar level 14389 (61.8% Fibo Retracement).

Level Pivot mingguan : 14564.67

Resistance : 14565.00 ; 14645.00 ; 14723.00 (level 38.2% Fibo Retracement) ; 14785.00 ; 14840.00 ; 14929.83 (23.6% Fibo Retracement) ; 15050.00 ; 15140.00 ; 15200.00 ; 15265.00 ; 15327.00 ; 15400.00.

Support : 14510.00 ; 14445.00 ; 14388.98 (61.8% Fibo Retracement) ; 14298.00 ; 14179.81 (76.4% Fibo Retracement) ; 14106.00 ; 14038.00 ; 13983.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 89 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; ADX (14).

Fibonacci Retracement :

  • Titik Swing Low  : 13845.00 (harga terendah 6 Juni 2018).
  • Titik Swing High : 15265.00 (harga tertinggi 11 Oktober 2018).
Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.