Advertisement

iklan

Rupiah Masih Tertekan Krisis Corona Dan Penguatan USD

Minggu lalu, Rupiah melemah tajam dipicu oleh aksi jual di pasar saham dan obligasi. Minggu ini, isu perkembangan wabah corona, Statement FOMC, dan BI akan menjadi katalis.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan tanggal 13 Maret 2020, serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Kejatuhan pasar saham AS yang tiba-tiba pada pekan lalu telah memicu aksi jual masif di bursa saham global, termasuk Indonesia. Keluarnya arus modal yang besar dari pasar saham dan pasar obligasi Indonesia berdampak pada pelemahan mata uang Rupiah secara cukup tajam.

Minggu lalu, IHSG merosot hingga 10.75% dan ditutup pada level 4907.5 (terendah sejak Februari 2016), sementara Rupiah melemah 3.8% dan ditutup pada level 14770.00 per USD. Harga penutupan tersebut adalah yang terendah sejak November 2018, dan membuat kinerja mata uang Garuda sebagai yang terburuk di Asia sepanjang pekan lalu.

Panic selling di pasar saham berawal dari bursa AS, menyusul pengumuman mengenai virus corona, pembatasan perjalanan dari Eropa ke AS, dan pengumuman keadaan darurat nasional di AS oleh Presiden Trump. Dari dalam negeri, sentimen negatif dipicu oleh peningkatan jumlah kasus corona yang cukup signifikan, meskipun pemerintah belum secara resmi mengumumkan keadaan darurat nasional.

Untuk meredam dampak krisis corona dan pelemahan Rupiah, pada hari Jumat (13/Maret), pemerintah mengumumkan stimulus fiskal berupa relaksasi pajak penghasilan (PPh 21), relaksasi pajak impor (PPh 22), dan pengurangan pajak korporasi hingga 30% yang berlaku selama 6 bulan.

 

Breaking News

Per hari Senin, 16 Maret 2020 jam 04:00 WIB, The Fed kembali menurunkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin ke level 0 hingga +0.25%, guna mendukung perekonomian AS dari ancaman krisis corona. Langkah The Fed ini mendapat pujian dari Presiden Trump.

Pekan ini, Rupiah masih akan dibayangi oleh dampak krisis corona dan penguatan indeks USD pada akhir pekan lalu. Secara fundamental, diperkirakan Rupiah masih akan melemah, dengan resistance kuat pada level 15000.

Data yang akan mempengaruhi pergerakan mata uang Garuda minggu ini adalah Statement FOMC dan Statement Bank Indonesia (BI). Mengingat Indonesia juga tengah terdampak krisis corona, BI diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level +4.50%.

 

Jadwal Rilis Data Fundamental

Senin, 16 Maret 2020:

  • Jam 09:00 WIB: data neraca perdagangan Indonesia bulan Februari 2020 y/y: bulan sebelumnya: -USD0.87 milliar. Perkiraan: +USD0.09 miliar.

Rupiah Masih Akan Tertekan Oleh Krisis

 

Kamis, 19 Maret 2020:

  • Jam 14:30 WIB: suku bunga Bank Indonesia bulan Maret 2020: bulan sebelumnya: +4.75%. Perkiraan: +4.50%.

Rupiah Masih Akan Tertekan Oleh Krisis

Data dan peristiwa berdampak minggu ini: FOMC meeting, BoJ meeting, Retail Sales AS.

 

Tinjauan Teknikal

Rupiah Masih Akan Tertekan Oleh Krisis

Chart Daily:

Pergerakan USD/IDR masih bullish (Rupiah masih cenderung melemah), menyusul terbentuknya runaway gap yang diikuti oleh bullish bar. Kecenderungan ini didukung oleh penunjukan indikator trend:

  1. Harga berada di atas kurva upper band indikator Bollinger Bands dan di atas kurva SMA 200-day.
  2. Titik indikator Parabolic SAR masih berada di bawah bar candlestick.
  3. Kurva indikator MACD berada di atas kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA berada di atas level 0.00.
  4. Garis histogram indikator ADX berwarna hijau dan berada di atas level 25, menunjukkan sentimen bullish yang masih kuat.

Resistance berada pada sekitar level 14865 hingga 15000, support pada level 14600 hingga 14525.

Level Pivot mingguan: 14627.50

Resistance: 14863.87 (76.4% Fibo Retracement) ; 15000.00 ; 15140.00 ; 15200.00 ; 15265.00 ; 15327.00 ; 15400.00.

Support: 14618.29 (61.8% Fibo Retracement) ; 14525.00 ; 14475.00 ; 14418.12 (50% Fibo Retracement) ; 14347.50 ; 14286.00 ; 14218.74 (38.2% Fibo Retracement) ; 14150.00 ; 14095.00 ; 14035.00 ; 13970.62 (23.6% Fibo Retracement) ; 13900.00 ; 13770.00 ; 13650.00 ; 13572.50 ; 13543.50 ; 13500.00 ; 13489.43 ; 13400.00 ; 13328.84 ; 13263.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 144 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; ADX (14).

Fibonacci Retracement:

  • Titik Swing High: 15265.00 (harga tertinggi 11 Oktober 2018).
  • Titik Swing Low: 13572.50 (harga terendah 24 Januari 2020).
Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.