Advertisement

iklan

5 Indikator Momentum Terbaik Yang Perlu Anda Tahu

Penulis

+ -

Indikator momentum sering digunakan untuk menganalisa trend dan potensi reversal. Dari sekian banyak jenisnya, apa saja indikator momentum terbaik untuk trading?

iklan

iklan

Dari sekian banyak indikator di luar sana, indikator momentum merupakan salah satu yang penting untuk dipahami karena memberikan banyak informasi tentang konfirmasi ataupun pembalikan trend. Maka tak heran bila indikator momentum menjadi salah satu alat analisa teknikal terfavorit trader pemula maupun profesional.

 

Apa Itu Indikator Momentum?

Dalam istilah trading, momentum berfungsi mengukur kecepatan perubahan harga relatif terhadap tingkat harga aktual. Sehingga, indikator momentum didefinisikan sebagai alat yang digunakan untuk mengukur perubahan harga antara harga saat ini dan periode sebelumnya.

indikator momentum

Tahukah Anda bahwa ada 2 tipe indikator momentum? Pertama, ada indikator trend untuk menentukan apakah suatu aset bergerak dalam trend tertentu atau berpotensi menyimpang. Contoh indikator trend paling populer yang sudah tak asing lagi ialah Moving Average dan Bollinger Bands.

Kedua, ada indikator volume yang bermanfaat menunjukkan peluang pergerakan harga dari aspek arus transaksi di pasar. Beberapa jenis indikator volume meliputi Volume Weighted Average Price (VWAP) dan Volume Weighted Moving Average (VWMA).

Selain klasifikasi tersebut, indikator momentum juga bisa dikategorikan berdasarkan tipe-tipe berikut:

 

Indikator Momentum Berdasarkan Cara Membacanya

Pertama, ada osilator momentum yang bertugas mengidentifikasi level overbought dan oversold. Level overbought adalah keadaan aset saat reli berkelanjutan dan akhirnya menjadi overvalued. Di sisi lain, level oversold menunjukkan posisi di mana aset telah turun tajam sehingga menjadi undervalued. Contoh indikator tersebut yaitu Relative Strength Index (RSI) dan Stochastic Oscillator.

Kedua, ada osilator momentum yang memiliki titik nol. Ketika grafik indikator bergerak di atas titik nol, maka hal itu mengindikasikan momentum bullish akan berlanjut. Sedangkan pergerakan grafik di bawah nol menandakan momentum bearish. Salah satu contoh populer dari indikator ini adalah MACD.

 

Indikator Momentum Berdasarkan Perbandingan Harga Penutupan

  • Perbandingan Harga Penutupan Dengan Harga Sebelumnya
    Indikator momentum jenis ini membandingkan harga penutupan suatu aset dengan harga sebelumnya. Ketika harga aset terus ditutup di atas penutupan sebelumnya, maka terbentuklah momentum bullish. Dengan demikian, indikator-indikator dalam kategori ini berusaha mengidentifikasi apakah suatu aset berada dalam level overbought atau oversold. Contoh indikator tersebut meliputi Relative Strength Index (RSI) dan Rate of Change (ROC).

  • Perbandingan Harga Penutupan Dengan Harga Kisaran
    Indikator ini melihat bagaimana harga suatu aset diperdagangkan menurut kinerjanya dalam periode waktu tertentu. Sistem indikator mendeteksi apakah pasar menguat atau melemah setelah membandingkannya dengan kinerja historis sebuah aset. Commodity Channel Index (CCI) dan Stochastic Momentum Index (SMI) termasuk dalam jenis indikator ini.

  • Perbandingan Harga Penutupan Dengan MA
    Jenis indikator momentum ini membandingkan harga penutupan dengan Moving Average untuk melihat apakah suatu aset ditradingkan di atas atau di bawah garis Moving Average tertentu. Contoh terbaik dari indikator ini ialah Moving Average Convergence Divergence (MACD).

 

Apa Saja Indikator Momentum Terbaik Yang Bisa Dicoba?

Terlepas dari beragam jenis indikator momentum di atas, berikut adalah yang paling sering digunakan oleh trader forex:

 

1. Relative Strength Index (RSI)

RSI adalah salah satu indikator paling populer di pasar forex ciptaan Welles Wilder. Tak hanya RSI, Wilder juga turut mengembangkan beberapa indikator lain seperti Average True Range (ATR).

RSI berfungsi mengukur kecepatan dan perubahan pergerakan harga di antara level 0 sampai 100. Aset yang bergerak di atas 70 dikatakan berada di level overbought, sementara bila bergerak di bawah 30 adalah tanda oversold.

rsi

 

2. Squeeze Momentum Oscillator (SMI)

SMI diciptakan oleh John Carter dengan menggabungkan Bollinger Bands dan Keltner Channel. Indikator ini menunjukkan kapan momentum meningkat atau menurun, di mana grafiknya akan berkonsolidasi di dekat garis nol ketika tidak ada volatilitas dan naik ketika volatilitas meningkat. Grafik di bawah ini menunjukkan indikator SMI yang diterapkan pada EUR/USD.

smi

 

3. MACD

Moving Average Convergence Divergence (MACD) adalah indikator momentum trend-following yang menunjukkan hubungan antara dua EMA dari harga aset. MACD dapat membantu mengukur apakah suatu aset mengalami overbought atau oversold sekaligus menunjukkan situasi divergensi bullish/bearish.

MACD dihitung dengan mengurangi EMA-26 dari EMA-12. Hasil dari perhitungan tersebut adalah garis MACD. Garis sinyal EMA-9 dari MACD kemudian diplot di atas garis MACD, yang berfungsi sebagai pemicu sinyal beli dan jual.

Momentum bullish akan muncul ketika harga aset bergerak di atas garis netral dan bearish saat berada di bawah level 0.

macd

 

4. Stochastic Oscillator

Pertama kali diciptakan oleh George Lane pada tahun 1950-an, Stochastic Oscillator adalah indikator teknikal populer yang berfungsi mengukur momentum harga untuk menentukan trend dan memprediksi pembalikan. Mirip dengan RSI, Iindikator ini mengukur harga terkini pada skala 0 hingga 100, dengan pengukuran di atas 80 mensinyalkan overbought dan di bawah 20 menunjukkan oversold.

stochastic

 

5. Know Sure Thing

Know Sure Thing (KST) adalah salah satu indikator momentum terpopuler yang diciptakan oleh Martin Pring. Indikator momentum ini menginterpretasikan data Rate of Change agar mudah dibaca, di mana sinyal entry muncul ketika KST melintasi garis sinyal.

Indikator ini memiliki dua garis dan satu garis patah-patah di angka 0. Momentum bullish bakal terkonfirmasi ketika harga bergerak di atas level 0, sedangkan kondisi bearish terlihat saat indikator berada di bawah level 0. Biasanya, trader menggabungkan KST dengan indikator teknikal lainnya untuk memaksimalkan peluang profit.

know sure thing

 

Kesimpulan

Terlepas dari apapun jenis indikator momentum yang digunakan, Anda sangat disarankan untuk memasang indikator tambahan agar sinyal entry menjadi lebih akurat. Terlebih, mengetahui kombinasi terbaik dari indikator momentum dapat meningkatkan peluang trading.

Anda perlu hati-hati karena menggunakan indikator teknikal yang kurang tepat karena hal itu mampu menyebabkan interpretasi harga menjadi tidak akurat. Untuk belajar trading dengan indikator gabungan, Anda bisa menyimak contohnya di "Penggabungan Beberapa Indikator".

298338
Penulis

Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik sejak duduk di bangku kuliah. Kini tengah sibuk melanjutkan kuliah di jurusan Media Komunikasi Universitas Airlangga sekaligus menjadi jurnalis seputarforex.com