Advertisement

iklan

5 Tips Jitu Untuk Trading Mengikuti Trend

Trading mengikuti trend (trend following) dalam jangka panjang bisa sangat menguntungkan bagi para trader yang tahu bagaimana caranya.

Xm

iklan

Advertisement

iklan

Trading mengikuti trend (trend following) dalam jangka panjang bisa sangat menguntungkan bagi para trader yang tahu bagaimana caranya dan mampu mengelola posisi dan emosinya dengan baik. Pertanyaannya, bagaimana cara trading mengikuti trend yang tepat? Berikut beberapa tips dari Jay Norris, penulis buku "The Secret to Trading: Risk Tolerance Threshold Theory", tentang trading mengikuti trend.

5 Aturan Jitu Dalam Trading Mengikuti Trend

 

1. Percaya Pada Apa Yang Terlihat, Bukan Apa Yang Didengar Atau Dibaca.

Percayalah bahwa harga dan pola-pola harga (price patterns) adalah refleksi akurat dari fundamental yang mendasari pergerakan di pasar. Menurut Norris, sebuah trend harga takkan bertahan lama tanpa adanya fundamental ekonomi yang mendasari. Namun demikian, dengan banyaknya informasi yang beredar di internet masa kini, akan mudah mencurigai ada penjelasan logis untuk setiap geseran kecil di pasar.

Saat melakukan trading yang mengikuti trend (trend following) sebaiknya tak perlu kelewat serius dalam menelaah analisis gejolak harga intraday yang berkaitan dengan rilis berita jangka pendek. Sebaliknya, yakinlah bahwa pada di akhir hari atau di akhir minggu ini (tergantung timeframe trading Anda), pergerakan harga akan sesuai dengan trend yang sedang berlangsung.

Sebagaimana bisa Anda lihat di bawah ini, pola pergerakan harga di atas chart tak menampilkan kondisi kenaikan harga mulus terus ke atas, melainkan ada higher low dan higher high. Bagi trading mengikuti trend, informasi-informasi ini adalah bahan trading penting, lebih penting daripada apa yang dikatakan atau ditulis analis tentang kondisi pasar (read the chart, not the news).

5 Aturan Jitu Dalam Trading Mengikuti Trend

 (Ditulis oleh A. Muttaqiena untuk Seputarforex.com)

2. Jangan Membesar-besarkan Korelasi Pasar.

Di pasar finansial, dikenal korelasi pergerakan harga antara beberapa aset. Misalnya antara Dolar Kanada dengan harga Minyak. Atau antara harga Emas dan Dolar AS. Atau Greenback dengan pasar saham AS. Perlu dipahami disini bahwa meskipun ada hubungan diantara aset-aset finansial tersebut, tetapi akan ada masa-masa di mana keduanya tidak bergerak seirama.

Jika Anda akan trading mengikuti trend (trend following), maka jangan berupaya menduga-duga pergerakan trend berdasarkan korelasi yang sudah berlalu. Korelasi tidak bersifat mutlak.

 

3. Belajar Untuk "Set It And Forget It".

Ada yang menyarankan trader agar jangan sampai tergoda untuk Close posisi terlalu dini, tapi ada juga saran sebaliknya, untuk mengabaikan aturan Money Management agar bisa mendapatkan profit sesuai perkembangan di pasar. Realitanya, tak peduli seberapa siap secara psikologis, Anda akan selalu menanyakan lagi pada diri sendiri kalau-kalau langkah yang diambil sudah tepat atau belum.

Nah, dalam hal ini, Anda perlu belajar untuk melupakan posisi trading yang sudah dibuka. Ketika OP (open posisi), pasang level stop loss dan take profit yang cukup longgar sesuai setting risk/reward Anda, lalu tutup platform dan coba lupakan posisi trading itu.

Tak perlu berpikir dua kali, bertanya-tanya kalau tadi kelupaan sesuatu. Tak perlu juga berupaya mencari artikel untuk mendukung analisa Anda pada posisi yang sudah dibuka. Tak perlu menengok posisi trading setiap menit. Singkatnya, tunggu saja hingga tanaman bertumbuh, tak ada gunanya membongkar tanah untuk melihat apakah benih sudah bersemi atau belum.

 

4. BUY Saat Harga Naik Terkoreksi Dan SELL Saat Harga Turun Tertunda.

Norris menyatakan bahwa "buy dips in uptrends and sell rallies in downtrends" adalah "golden rule" dalam trading mengikuti trend. Tak peduli seberapa kuat sebuah trend dalam jangka panjang, akan selalu ada pergerakan yang berlawanan dengan trend tersebut dalam periode intraday atau intraweek. Pergerakan yang dikenal dengan koreksi itu merupakan peluang bagi trader yang jeli.

Perlu diketahui bahwa pergerakan-pergerakan counter-trend tersebut seringkali terjadi menyusul news yang berlawanan dengan trend yang sedang berlangsung. Karenanya, ketahuilah kapan rilis berita-berita penting dijadwalkan di kalender forex. Pergerakan counter-trend biasanya muncul menyusul kepanikan trader jangka pendek. Sedangkan bagi mereka yang trading mengikuti trend, ini bisa menghantarkan terbukanya peluang untuk "buy dips in uptrends and sell rallies in downtrends".

(Ditulis oleh A. Muttaqiena untuk Seputarforex.com)

5. Tak Perlu Cari "Top" Maupun "Bottom".

Banyak trader yang mengikuti trend ingin bisa mengidentifikasi Top (puncak harga) dan Bottom (level harga terendah) dengan anggapan risiko trading bakal lebih kecil. Akan tetapi menurut Jay Norris, trader profesional yang trading dengan mengikuti trend hanya berpartisipasi dalam sepertiga teratas sebuah pergerakan harga, karena itulah tempat di mana reward bisa didapat dalam jumlah terbesar dan waktu tercepat.

Mayoritas trader profesional mengandalkan suatu pengukur momentum untuk menentukan kapan akan bertrading. Di kursus tradingnya, ia biasa mengajarkan dua jenis trigger dalam bertrading:

  • Zone Trade, yaitu ketika buy atau sell di level-level support dan resistance.
  • Momentum trade, yaitu ketika buy dan sell ditentukan oleh pola-pola harga secara menyeluruh dan momentum jangka pendek.

Pada akhirnya, Norris menemukan bahwa peluang yang muncul dari Momentum Trade bisa lebih besar dibanding Zone Trade, sementara risikonya juga lebih rendah. Dari sini dapat disimpulkan bahwa meski saran "buy low, sell high" tidaklah buruk, tetapi bagi pengguna Momentum Trade saran terbaik adalah "buy high, sell higher".

"Buy high, sell higher" inilah yang direkomendasikan oleh Norris untuk dilakukan oleh Anda para trader forex yang ingin trading mengikuti trend (trend following).

 

Jika Anda masih memiliki pertanyaan seputar tren forex ini, selain pada kolom komentar, Anda juga bisa langsung bertanya pada ahli kami di forum tanya jawab berikut.

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.