Advertisement

iklan

Hard vs Soft: Dua Golongan Komoditas Yang Perlu Anda Tahu

Selain forex, trading juga bisa dilakukan pada komoditas. Namun sebelum itu, ketahui dulu golongan komoditas yang potensial untuk ditradingkan, antara lain Hard Commodity dan Soft Commodity.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Agar trading Anda tak melulu soal perdagangan mata uang alias valas, maka tak ada salahnya mulai melirik peluang di  instrumen lain dari golongan komoditas. Istilah yang berasal dari bahasa Perancis commodité ini digunakan untuk menyebut sesuatu atau benda yang relatif mudah diperdagangkan, dapat diserahkan secara fisik, ditukarkan dengan produk lain yang sejenis, hingga disimpan dalam jangka waktu tertentu.

Jenis-jenis Komoditas Yang Bisa Ditradingkan

Berdasarkan jenisnya, komoditas dapat dikelompokkan menjadi dua: Hard Commodity dan Soft Commodity. Hard Commodity berhubungan dengan berbagai golongan komoditas yang perlu proses pertambangan atau ekstraksi, sementara Soft Commodity digunakan untuk menyebut komoditas dari sektor agrikultur. Lantas, adakah perbedaan lainnya dari dua golongan komoditas tersebut? Mari simak ulasan selengkapnya berikut ini.

 

Mengenal Dua Golongan Komoditas: Hard VS Soft Commodity

1. Hard Commodity

Hard Commodity adalah istilah untuk menyebut komoditas yang diambil dari alam melalui aktivitas pertambangan atau ekstraksi, seperti minyak, emas, dan komoditas tambang lainnya. Hard Commodity juga kerap digunakan sebagai tolok ukur kondisi kesehatan ekonomi negara pengekspornya, karena permintaan global akan golongan komoditas ini dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi negara yang bersangkutan di masa mendatang.

Contohnya, ekspor minyak menjadi sektor utama penggerak roda perekonomian Venezuela. Pada September 2015, pemerintah Venezuela merasa amat terpukul ketika harga minyak mengalami penurunan. Saat itu, komoditas yang mendominasi pasar global adalah gas alam dan emas. Akibatnya, negara-negara di Amerika Selatan -termasuk Venezuela- harus rela mengalami krisis ekonomi dan politik. Bahkan, krisis ekonomi Venezuela terus berlangsung hingga sekarang dan menyebabkan hiperinflasi (baca juga: Krisis Venezuela - Ketika Secangkir Kopi Berharga 2 Juta).

Terlepas dari kemampuannya menggerakkan perekonomian suatu negara, golongan komoditas satu ini juga banyak dipilih oleh investor karena sifatnya yang lebih tahan lama dan tidak mudah rusak. Perubahan cuaca maupun iklim tidak berdampak langsung pada jumlah produksi maupun ketersediaannya. Sebaliknya, fluktuasi harga pada Hard Commodity lebih bergantung pada aspek fundamental makro ekonomi global, seperti pertumbuhan GDP (Gross Domestic Product), produksi industri, dan perubahan suku bunga.

Perubahan Suku Bunga(Baca Juga: Pengaruh Suku Bunga Terhadap Perekonomian Suatu Negara)

Satu jenis komoditas dari golongan Hard Commodity yang dianggap aman untuk ditradingkan kapanpun adalah emas. Selain sangat berharga, emas juga banyak dimanfaatkan oleh investor sebagai aset lindung nilai (safe haven) bila terjadi konflik atau gonjang ganjing di pasar finansial. Tidak seperti uang atau aset lainnya, emas tidak berisiko kehilangan nilainya di tengah ketidakjelasan finansial atau politik. Bahkan, emas dalam portfolio investasi dapat membantu mengurangi kerugian saat pasar saham ambruk.

 

2. Soft Commodity

Berbeda dengan Hard Commodity, golongan komoditas yang termasuk Soft Commodity berasal dari sektor agrikultur atau peternakan, misalnya jagung, gandum, karet, susu, atau daging. Karena berasal dari sektor non-pertambangan, maka tak heran jika berbagai komoditas dari kelompok ini tidak berumur panjang.

Sementara faktor penggerak Hard Commodity didominasi oleh aspek-aspek fundamental perekonomian, fluktuasi harga pada Soft Commodity lebih dipengaruhi oleh faktor iklim dan cuaca. Apabila kondisi cuaca serta iklim di lingkungan tanam sedang bagus dan sesuai kebutuhan, maka jumlah produksi berikut harga komoditas terkait akan stabil. Namun lain halnya jika cuaca mendadak ekstrem; pergerakan harga pada Soft Commodity bisa jadi tak terkontrol.

Jenis Komoditas - Soft Commodity

Selain karena iklim dan cuaca, fluktuasi harga komoditas dari sektor agrikultur juga dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari kenaikan harga input (pupuk, bibit, benih, obat, peralatan, serta tenaga kerja), penemuan teknologi baru yang bisa meningkatkan produktivitas budidaya, hingga harga aset komoditas lain yang berhubungan (misalnya harga ayam dengan pakan ayam).

Berdasarkan ilustrasi tersebut, dapat dikatakan bahwa harga-harga Soft Commodity lebih tidak stabil karena mekanisme penetapan harganya bergantung pada berbagai faktor eksternal. Alasan ini pulalah yang mendasari beberapa negara lebih memilih untuk tidak menggantungkan roda perekonomiannya pada aktivitas produksi maupun ekspor Soft Commodity.

Akan tetapi, ada pula negara yang berhasil mengandalkan golongan komoditas ini sebagai penyumbang devisa terbesar. Sebut saja Brazil yang menjadi negara penghasil kopi terbesar di dunia, di mana tingginya nilai produksi kopi memiliki peran penting dalam perkembangan perekonomian negeri Samba tersebut. Ada pula Ghana yang mengandalkan kakao sebagai komoditas agrikultur terpentingnya.

10 Negara Penghasil Kakao(Baca Juga: 10 Negara Penghasil Kakao Terbesar Di Dunia)

 

Tips Trading Hard Dan Soft Commodity

Meski sama-sama berstatus sebagai trader, tetapi aktivitas trading yang Anda lakukan di pasar forex dengan pasar komoditas berjangka akan memiliki beberapa perbedaan. Sebelum memutuskan untuk trading komoditas, perhatikan dulu beberapa tips berikut ini:

 

1. Tentukan Bagaimana Anda Ingin Bertrading Komoditas

Baik Hard maupun Soft Commodity dapat ditradingkan dengan banyak cara. Anda bisa membeli kontrak futures di bursa berjangka, membeli saham perusahaan yang basis bisnisnya berdasar pada suatu komoditas, atau membeli reksadana komoditas. Selain itu, Anda juga bisa trading komoditas berbasis CFD (Contract For Difference) seperti halnya trading forex online secara ritel. Akan tetapi, komoditas biasanya banyak diperdagangkan dalam bentuk futures.

 

2. Ketahui Faktor-faktor Penyebab Fluktuasi Pada Komoditas

Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, harga golongan komoditas dari kelompok Hard Commodity banyak dipengaruhi oleh aspek fundamental ekonomi global serta situasi negara-negara produsen maupun konsumennya. Misalnya, harga minyak bergerak fluktuatif karena dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah yang merupakan salah satu area terbesar penghasil minyak.

Dari ilustrasi tersebut, maka penting bagi Anda mengetahui berita-berita fundamental berdampak terbaru jika ingin trading Hard Commodity.

Di sisi lain, faktor yang mempengaruhi fluktuasi harga pada Soft Commodity banyak didominasi oleh iklim dan cuaca. Kedua faktor tersebut dapat mempengaruhi Supply and Demand-nya di pasar global.

Sebagai contoh adalah harga kakao. Apabila cuaca di Pantai Gading dan Ghana bagus, maka hasil panen kakao akan berlimpah. Praktis pasokan Kakao dunia akan meningkat, sehingga harga cenderung melemah. Begitupun sebaliknya bila cuaca sedang tidak mendukung, maka jumlah produksi kakao pun hanya sedikit. Akibatnya, harga kakao akan cenderung menguat.

Faktor Penyebab Fluktuasi Harga Kakao(Baca Juga: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Kakao)

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa trading Soft Commodity "memaksa" Anda untuk mengetahui dinamika Supply and Demand suatu komoditas di pasar, berikut kondisi negara-negara yang berstatus sebagai produsen maupun konsumennya. Sayang, beberapa trader enggan memilih golongan komoditas ini mengingat pergerakan harganya yang cukup labil.

 

3. Pilih Strategi Trading Komoditas Yang Ideal

Baik trading komoditas secara CFD maupun futures menawarkan risiko dan keuntungan yang berbeda. Jika Anda memilih trading komoditas secara futures di bursa berjangka, maka Anda akan terhindar dari risiko fluktuasi tajam perubahan harga, karena harga aset pada kontrak berjangka sudah terlebih dahulu ditentukan. Akan tetapi, ada risiko leverage tinggi yang mengintai. Pastikan Anda memperhitungkan nilai kontrak futures yang menguntungkan, sekaligus besarnya risiko yang dapat Anda tanggung.

Di sisi lain, trading komoditas secara CFD sama dengan ketika Anda tengah trading forex. Gunakan bantuan indikator teknikal serta pertimbangan-pertimbangan secara fundamental untuk mengetahui posisi entry yang tepat. Patuhi pula sistem trading yang telah Anda buat, sehingga hasilnya bisa sesuai dengan yang direncanakan.

Secara lebih jelas, berbagai golongan komoditas berikut cara tradingnya bisa Anda lihat di infografi berikut ini:

Golongan Komoditas Untuk Ditradingkan

 

Akhir Kata

Trading dengan berbagai golongan komoditas menawarkan kesempatan untuk memperkaya koleksi portofolio agar tidak hanya berisi instrumen itu-itu saja. Selain itu, komoditas juga bisa menjadi "pelindung" inflasi, karena fluktuasi harganya di pasar barang dan jasa ditentukan oleh hukum penawaran dan permintaan (Supply and Demand).

Jika Anda tertarik untuk menambahkan komoditas dalam portofolio trading, maka sebaiknya perhatikan jenis komoditas yang diperdagangkan, faktor-faktor penggerak harganya, serta strategi trading yang hendak digunakan. 

 

Tak cukup sekedar mengetahui golongan komoditas yang potensial untuk ditradingkan, ada baiknya Anda juga memahami golongan komoditas mana sajakah yang menjadi penggerak harga di pasar. Menariknya, komoditas-komoditas penggerak pasar justru banyak berasal dari golongan komoditas agrikultur. Untuk mengetahui ulasan selengkapnya, silahkan bertolak ke artikel "Jenis-Jenis Komoditas Penggerak Pasar".

Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang sudah mengenal dunia jurnalistik sejak SMP. Sempat aktif sebagai Editor dan Reporter di UKM Pers UWKS, kini bekerja sebagai salah satu Online Journalist di seputarforex.com.