Irving Khan, Investor Veteran Yang Abaikan Spekulasi Pasar

195837

Irving Kahn sang investor tertua di dunia punya banyak pelajaran bermanfaat bagi trader muda. Di sini, ia mengungkapkan strategi andalannya.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Irving Kahn adalah investor sukses tertua di dunia. Pria yang wafat di usia lebih dari 1 abad ini punya perjalanan panjang di dunia investasi dan trading. Ketika ia diwawancara The Telegraph pada tahun 2014, ia sudah berusia 108 tahun dan masih aktif bertrading. Informasi apa saja yang berhasil digali dari figur veteran ini?

irving khan
Irving Khan mulai terjun ke dunia trading pada tahun 1920-an, sebelum terjadi crash di Wall Street. Dalam perjalanannya yang hampir 90 tahun itu, Khan telah bertahan melewati masa depresi besar tahun 1930-an di AS, perang dunia kedua, perang dingin, beberapa kali resesi dan krisis finansial hingga krisis yang terjadi akhir-akhir ini. Ditempa berbagai cobaan besar dari peristiwa-peristiwa penting tersebut, Irving Khan mengaku punya strategi investasi yang dibentuk dari pengalamannya menghadapi berbagai event besar dunia.

 

Strategi Utama Irving Khan: Abaikan Spekulasi Pasar

"Saat saya baru terjun, pasar saham didominasi oleh para spekulan yang mencari keuntungan jangka pendek, beli, jual, beli lagi, jual, dan seterusnya. Hanya institusi keuangan besar saja yang serius investasi di bond dan saham-saham perusahaan yang benar-benar bagus. Aksi spekulasi itu makin tidak terkendali hingga harga saham-saham naik ke level yang tidak masuk akal, itu terjadi pada musim panas tahun 1929. Saya pikir keadaannya tidak akan terus begini, oleh karenanya saya mulai short-sell (semacam open sell pada trading sekarang) pada saham-saham yang saya kira kenaikan harganya sudah tidak wajar."

"Saya pinjam uang untuk short-sell Magma Copper, perusahaan tambang yang harganya sudah selangit, dan mereka menganggap saya kurang waras karena melawan trend yang sedang bullish. Ketika tiba musim gugur, berguguran pula harga-harga saham, dan keuntungan yang saya peroleh hampir dua kali lipat. Itu adalah pelajaran bahwa antusias yang berlebihan juga mendatangkan resiko besar." Menurut Kahn, akibat crash yang terjadi di Wall Street saat itu berbeda dengan akibat krisis keuangan akhir-akhir ini. Waktu itu belum ada badan regulator yang mengatur perdagangan saham, dan tidak ada proteksi secara legal.

Setelah masa depresi panjang berlalu, Irving Kahn berganti strategi dengan membeli saham-saham perusahaan yang dinilainya bagus secara fundamental tetapi harganya lebih rendah dari yang sebenarnya (undervalued). Ia belajar mengenai ‘nilai hakiki’ (intrinsic value) sebuah saham dari investor legendaris Benjamin Graham sewaktu masih bekerja sebagai asisten Graham ketika mengajar di Columbia University, dimana Warren Buffett menjadi salah seorang muridnya.


Bagaimana Dengan Keadaan Pasar Sekarang?

"Jika Anda amati keadaan pasar sekarang, tampaknya spekulasi pasar kembali dominan. Anda lihat indeks S&P 500 telah kembali mencetak rekor tertingginya." Irving Kahn menyarankan agar trader menghindari leverage yang terlalu tinggi, yang bisa menyebabkan spekulasi berlebihan. “Tugas pertama investor adalah mempertahankan modal awalnya, setelah itu baru mencari keuntungan.” kata pendiri perusahaan investasi Kahn Brothers yang sekarang dikelola puteranya, Tom Kahn dan cucunya Andrew Kahn itu.

Selain Irving Khan, satu lagi investor sukses yang belajar dari Benjamin Graham adalah Seth Klarman. Bagaimana sepak terjang dan kesuksesan figur pendiri salah satu perusahaan hedge fund terbesar itu? Ikuti kisah lengkapnya di: Seth Klarman, Investor Sukses Anti "Mainstream".

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.


Muhammad Kamal
sangat berguna terutama membuka cakrawala trading didunia investasi