Advertisement

iklan

Isu Surplus Global Mengemuka Lagi, Jagal Harga Minyak

Harga minyak mentah jatuh akibat kerisauan mengenai peningkatan inventori AS kembali mengemuka. Peningkatan ekspor Libya juga membebani harga.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak kembali ambruk dan makin tertekan ke bawah ambang $50 pada perdagangan hari Rabu pagi ini (22/3). Rilis laporan mingguan inventori minyak AS versi American Petroleum Institute (API) menggarisbawahi berlanjutnya surplus minyak global, meski Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) telah merintis upaya pemangkasan output.

 

ilustrasi harga minyak

 

Inventori AS Menggembung

Saat berita ditulis, harga minyak mentah berjangka Brent berada pada kisaran $50.78, atau menurun nyaris 20 sen dari harga penutupan di sesi perdagangan sebelumnya. Sementara kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di sekitar $48.01, sudah menurun lebih dari 20 sen.

"Harga minyak mentah jatuh akibat kerisauan mengenai peningkatan inventori AS kembali mengemuka... Peningkatan ekspor Libya juga membebani harga," ungkap ANZ Bank, sebagaimana dikutip oleh Reuters.

Inventori minyak mentah AS dalam laporan mingguan API disebutkan mengalami peningkatan sebanyak 4.5 juta barel dalam periode sepekan yang berakhir tanggal 17 Maret. Total inventori kini berada pada 533.6 juta barel.

 

Dilema OPEC

Kian menggembungnya isi tanki-tanki penyimpanan di negeri Paman Sam tak lepas dari fakta bahwa produksi minyak di sana telah meningkat lebih dari 8 persen sejak pertengahan tahun 2006. Level produksi naik lebih dari 9.1 juta barel per hari (bph) hingga nyaris mencapai level tinggi produksi pada akhir tahun 2014, masa-masa ketika keterpurukan pasar minyak dimulai.

Menjelang rapat OPEC tanggal 25 Mei mendatang, bank investasi Goldmans Sach mensinyalir kartel minyak tersebut akan menimbang manfaat relatif antara stabilitas (memperpanjang masa pemangkasan output yang sedianya berakhir pada Juni 2017) versus risiko kehilangan pangsa pasar dalam jangka panjang (karena konsumennya diambil alih oleh negara-negara yang bukannya memangkas malah meningkatkan produksi).

278166

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.