Advertisement

iklan

Retail Sales Lemah, Ekonomi China Berisiko Melambat

Penulis

+ -

Pertumbuhan retail sales China turun di bawah ekspektasi, begitu pula dengan investasi aset tetap. Ekonomi China diperkirakan melambat pada kuartal terakhir tahun ini.

iklan

iklan

Seputarforex - Pada hari Rabu (15/Desember), Biro Statistik Nasional China mempublikasikan data penjualan ritel yang naik sebesar 3.9 persen secara tahunan (Year-over-Year) pada bulan November. Angka ini menurun dibandingkan pencapaian 4.9 persen pada bulan Oktober, sekaligus lebih rendah dari ekspektasi kenaikan 4.6 persen.

Ekonomi Hadapi Tantangan, Retail Sales

Data penjualan ritel cukup penting karena mengukur konsumsi yang berkontribusi lebih dari setengah GDP China. Sehingga, perlambatan kali ini bisa dikatakan menggarisbawahi perekonomian yang sedang menghadapi lemahnya permintaan domestik.

Sementara itu, investasi aset tetap (Fixed Asset Investment) melambat cukup drastis dari 6.1 persen ke 5.2 persen secara Year-to Date. Padahal, analis hanya memproyeksikan perlambatan ke 5.4 persen.

Industrial Production tercatat naik dari 3.5 persen menjadi 3.8 persen pada bulan November, melewati ekspektasi kenaikan 3.6 persen. Apiknya data tersebut sebagian besar didukung oleh kenaikan manufaktur high tech sebesar 15.1 persen secara tahunan. Bahkan, output untuk kendaraan listrik melonjak hingga 112 persen dari tahun sebelumnya.

 

Pertumbuhan Ekonomi China Terancam Melemah

Secara keseluruhan, rilis data ekonomi China hari ini cukup beragam, dengan penurunan cukup mencolok terjadi pada sektor konsumsi dan investasi. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pembuat kebijakan. Tidak hanya itu saja, permasalahan yang semakin kompleks di luar negeri ikut membayangi perekonomian.

"Secara umum, perekonomian nasional masih mempertahankan momentum dan indikator ekonomi tetap dalam kisaran wajar meski terjadi perlambatan di beberapa sektor… Namun, perlu dicatat bahwa dinamika internasional yang semakin kompleks dan parah menciptakan banyak kendala bagi perekonomian domestik," kata Biro Statistik Nasional China dalam pernyataan pagi ini.

Perekonomian China diperkirakan hanya akan tumbuh sebesar 4 persen pada kuartal terakhir 2021, jauh merosot dari pertumbuhan 18.3 persen yang tercapai pada kuartal sebelumnya. Kekhawatiran akan hard landing membuat banyak pihak berasumsi jika pemerintah China perlu melakukan intervensi ekonomi.

Dalam pernyataan resmi akhir pekan lalu, pemerintah China memperingatkan bahwa mereka sedang menghadapi "tiga tekanan sekaligus" dari kontraksi permintaan, guncangan pasokan, dan ekspektasi yang lebih lemah. Merespon hal tersebut, Presiden Xi Jinping berkomitmen untuk menempatkan stabilitas sebagai prioritas utama dalam pengambilan kebijakan ekonomi di tahun 2022.

Download Seputarforex App

296968
Penulis

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.