Advertisement

iklan

Profil Penulis : pandawa

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.
Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Lonjakan kasus COVID-19 di AS menjadi katalis utama yang menopang penguatan Dolar AS. Selain itu, putusan Mahkamah Agung AS terkait pengungkapan keuangan Trump turut menjadi pemicu.
Pesanan Mesin Inti Jepang naik di bulan Mei karena didukung oleh meningkatnya pesanan sektor jasa dari pasar domestik. USD/JPY tak merespon kabar ini dengan pergerakan berarti.
Penyebaran Corona yang kembali meluas telah memicu keraguan investor terhadap prospek pemulihan ekonomi AS. Dolar AS menguat, tapi masih dibayangi trend bearish secara teknikal.
Pengeluaran konsumen Jepang terperosok ke rekor terdalam pada bulan Mei, disusul oleh tingkat upah pekerja yang turun hingga menyentuh level terendah 5 tahun.
Dolar AS bergerak tenang usai rilis NFP yang positif. Investor enggan beraksi karena masih menimbang risiko lonjakan kasus COVID-19 dan prospek pemulihan ekonomi.
Dolar AS tidak banyak bergerak pada perdagangan Asia pagi ini, karena investor cenderung mengantisipasi rilis data NFP nanti malam.
Kondisi sektor manufaktur China terus membaik karena ditopang oleh meningkatnya sub Indikator pesanan baru. Akan tetapi, pesanan ekspor belum keluar dari zona kontraksi.
Kemerosotan permintaan dari pasar domestik dan luar negeri memaksa banyak pabrik Jepang menurunkan produksinya. USD/JPY cenderung menguat.
Meski pemerintah Jepang sudah mencabut status darurat Corona, penjualan ritel tetap lesu karena ketakutan warga yang masih tinggi terhadap pandemi.
Kasus COVID-19 kembali melonjak di AS, sehingga meredupkan harapan akan terjadinya pemulihan ekonomi dalam waktu dekat. Dolar AS sebagai mata uang safe haven pun kembali diburu.
Bank Sentral New Zealand mempertahankan suku bunga di level 0.25 persen, tetapi menyatakan outlook dovish terkait program stimulus yang tengah dijalankan.
Survei Markit menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Australia berangsur pulih setelah pemerintah mencabut lockdown. Pemulihan terpusat pada sektor jasa.
Meski naik tipis di awal pekan, harga minyak sejatinya masih sangat rentan karena kekhawatiran munculnya gelombang kedua COVID-19.
Penerapan lockdown memicu kontraksi GDP New Zealand kuartal pertama setelah hampir semua sektor ekonomi terkena dampak pandemi COVID-19. Perekonomian pun diprediksi masuk resesi pada kuartal kedua.
Ekspor Jepang kembali jatuh karena turunnya pengiriman mobil ke AS dan negara kawasan Asia lainnya. Trend Impor juga merosot akibat lemahnya permintaan domestik Jepang.
BoJ mempertahankan kebijakan moneter karena optimis perekonomian akan pulih setelah pandemi mereda. Namun, BoJ akan menggelentorkan lebih banyak stimulus kepada perusahaan.
Keputusan Fed yang akan memulai pembelian obligasi korporasi menumbuhkan minat risiko investor, sehingga permintaan Dolar AS sebagai safe haven pun berkurang.
Reli harga minyak tertahan oleh lonjakan persediaan minyak AS yang menegaskan lemahnya prospek permintaan pasar. Selain itu, proyeksi kemerosotan ekonomi AS tahun ini juga membebani harga minyak.
The Fed memproyeksikan perekonomian AS akan menyusut 6.5 persen tahun ini dan tingkat pengangguran akan berada di level 9.3 persen di akhir tahun nanti.
Meski naik dari periode sebelumnya, Indeks sentimen konsumen Australia sejatinya masih di zona pesimis karena berada di bawah level 100.
Dolar bergerak di area terendah 3 bulan menjelang rapat kebijakan moneter The Fed pekan ini. Naiknya minat risiko pasar membuat Dolar AS melemah terhadap Dolar Komoditas.
Keputusan OPEC untuk mempertahankan pemotongan output hingga akhir Juli telah mendorong harga minyak ke level tertinggi 3 bulan.
Langkah pemerintah Jepang mengumumkan darurat COVID-19 pada awal April lalu menekan pengeluaran konsumen hingga merosot ke rekor terburuk sejak 2001.
Pelaku pasar masih menanti seperti apa keputusan ECB terkait program pembelian obligasi, sehingga memilih untuk melakukan profit-taking pada EUR/USD.
Harga minyak stabil di level tinggi 2 bulan menjelang pertemuan OPEC yang diekspektasikan untuk menghasilkan kesepakatan baru terkait pemangkasan output.

Kesulitan Akses Seputarforex?

Lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone