iklan

Profil Penulis : pandawa

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.

iklan

iklan

Jerome Powell menegaskan bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga hanya karena ancaman lonjakan inflasi. Masih ada komponen lain seperti kondisi tenaga kerja AS yang perlu dicermati.
Aktivitas pabrik Jepang berekspansi dalam laju terlemah 4 bulan karena penurunan output. Hal ini merupakan dampak pembatasan sosial yang diterapkan pemerintah Jepang
Prospek pembicaraan nuklir Iran semakin tidak pasti setelah Presiden terpilih Iran mengatakan bahwa dirinya tidak ingin bertemu Biden. Harga minyak menguat karena isu ini.
Indeks Dolar AS diperdagangkan di dekat level tertinggi sejak bulan April, masih didukung oleh sikap hawkish The Fed yang kontras dengan bank sentral negara maju lainnya.
Employment Change Australia tumbuh di bulan Mei. Pemulihan berkelanjutan pada sektor tenaga kerja juga semakin dipertegas oleh tingkat pengangguran yang turun ke level pra-pandemi.
The Fed mengumumkan akan memajukan rencana kenaikan suku bunga untuk merespon lonjakan inflasi. Dolar AS menguat tajam merespon pernyataan tersebut.
Ekspor Jepang melonjak signifikan karena rebound permintaan global yang mencerminkan berlanjutnya pemulihan ekonomi dari dampak pandemi. USD/JPY bergerak tipis pasca rilis data ini.
Notulen rapat RBA bulan Juni menyoroti kondisi perekonomian global dan domestik yang semakin pulih. Akan tetapi, bank sentral tetap mempertahankan komitmen untuk kebijakan longgar dalam waktu lama.
Harga minyak bertahan di atas level 70 karena prospek permintaan yang diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun. Namun, kekhawatiran terhadap varian terbaru virus Corona berpotensi membebani harga minyak.
Inflasi produsen China melonjak ke level tertinggi 12 tahun karena semakin mahalnya harga komoditas yang mengerek biaya produksi. Namun, kenaikan ini belum terasa di tingkat konsumen.
Indeks kepercayaan konsumen turun di bulan Juni karena meningkatnya kekhawatiran terhadap lockdown selama dua minggu di Melbourne. Pair AUD/USD nyaris tidak bereaksi.
Meski masih terkontraksi, GDP Jepang kuartal pertama direvisi naik karena adanya penyesuaian data belanja modal dan pengeluaran pemerintah.
Lonjakan impor China didorong oleh kenaikan permintaan barang luar negeri. Sementara itu, laju ekspor sedikit melambat karena mahalnya harga bahan baku.
Harga minyak turun dari level tertinggi 2 tahun karena aksi profit taking investor. Para pelaku pasar tengah mengantisipasi hasil pembicaraan nuklir AS-Iran.
Dolar hari ini bergerak terbatas menanti data ketenagakerjaan AS. Investor masih wait and see karena hasil data tersebut bisa menjadi petunjuk mengenai outlook kebijakan The Fed ke depan.
Perekonomian Australia meningkat karena optimisme yang mengerek konsumsi dan berpengaruh terhadap sektor properti, bisnis, serta investasi.
Harga minyak melonjak hingga menembus level psikologis $70 per barel, dipicu oleh optimisme peningkatan permintaan saat kawasan Eropa dan AS memasuki musim panas.
Perlambatan aktivitas manufaktur China dipicu oleh kenaikan harga komoditas dan kemacetan pasokan yang berorientasi ekspor. Namun, sektor jasa masih melaju seiring dengan keberhasilan China mengendalikan pandemi.
Kenaikan output industri Jepang tidak terlepas dari semakin pulihnya permintaan dari China dan AS. Namun, ekonomi Jepang diperkirakan merosot di kuartal kedua karena lockdown.
Kenaikan kasus Corona yang memicu diberlakukannya pembatasan membuat tingkat pengangguran naik dan ketersediaan lapangan kerja menurun. BoJ diyakini siap merespon pelemahan ini dengan kebijakan longgar.
RBNZ mengindikasikan kenaikan suku bunga pada akhir tahun 2022. Hal ini memicu penguatan signifikan pada pergerakan Dolar New Zealand versus Dolar AS.
Menteri Luar Negeri AS mengatakan bahwa belum ada indikasi Iran mau tunduk terhadap komitmen nuklir. Harga minyak naik karena hal ini mengendurkan prospek melimpahnya pasokan minyak.
Pelemahan Dolar AS pada perdagangan awal pekan masih berlanjut setelah pejabat The Fed mengatakan bahwa pengetatan kebijakan tidak mungkin dilakukan dalam kondisi pandemi.
Prospek damai AS-Iran berpotensi meningkatkan pasokan minyak di pasar global, sehingga menekan harga minyak yang saat ini juga dibebani oleh kenaikan inflasi dan kenaikan kasus COVID-19 di Asia.
Lonjakan ekspor Jepang disebabkan oleh meningkatnya permintaan global. Hasil ini sukses menopang Yen di tengah penguatan Dolar AS setelah rilis notulen The Fed.

Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone