Advertisement

iklan

Profil Penulis : Pandawa

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.
FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Konten Oleh Pandawa

Dolar AS menguat terbatas setelah pidato Powell tadi malam tidak se-dovish ekspektasi pasar. Selain itu, aksi profit taking posisi sell Dolar AS juga membantu kenaikan USD.


Bank Sentral Selandia Baru mempertahankan suku bunga acuan di level 1.50 persen. Dolar NZ pun melanjutkan penguatannya terhadap USD.


Prospek Fed Rate Cut dan memanasnya tensi geopolitik AS-Iran merupakan dua faktor utama yang memicu aksi sell-off Dolar AS, dan melambungkan safe haven seperti Yen dan Franc.


Harga minyak bertahan di dekat level tinggi bulan Juni, di tengah panasnya ketegangan AS-Iran. Pelaku pasar mengantisipasi reaksi Iran terhadap sanksi ekonomi baru dari AS.


Meski diyakini tidak akan mengubah suku bunganya, RBNZ hampir dipastikan akan kembali memangkas suku bunga pada bulan Agustus mendatang.


Inflasi Jepang bulan Mei 2019 yang menggarisbawahi tantangan berat BoJ justru melemahkan USD/JPY, yang saat ini masih dikuasai sentimen dovish Fed.


Ekonomi Selandia Baru naik 0.6 persen selama kuartal pertama 2019. Data perekonomian yang tumbuh stabil itu membantu NZD mempertahankan penguatan terhadap USD.


Pernyataan FOMC bulan ini memberikan sinyal kuat bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan selanjutnya. Hal ini pun menekan Dolar AS.


Pertemuan AS-China di sela KTT G20 Osaka pekan depan dipastikan akan terlaksana, setelah presiden Xi mengatakan kesediaannya bernegosiasi dengan Trump.


Ekspor Jepang kembali turun di bulan Mei, dipicu oleh pelemahan permintaan dari China karena efek perang dagang yang tidak kunjung membaik.