Advertisement

iklan

Profil Penulis : Pandawa

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.

iklan

iklan

Harga minyak mentah menguat setelah OPEC memutuskan untuk mempertahankan kebijakan produksi hingga 2023 mendatang.
Pembatasan COVID yang diterapkan pemerintah China berdampak buruk terhadap aktivitas manufaktur dan jasa. Akibatnya, kedua sektor itu kembali terkontraksi.
Rencana pemerintah China untuk memberlakukan kembali pembatasan ketat memicu aksi protes yang menekan harga minyak di awal pekan.
Notulen rapat The Fed bulan November menunjukkan mayoritas anggota FOMC mendukung perlambatan rate hike untuk mencermati efektivitasnya terhadap pergerakan inflasi.
Harga minyak merosot pada perdagangan awal pekan karena kenaikan tajam kasus COVID di China yang memicu kekhawatiran resesi.
Kenaikan tajam kasus COVID di beberapa kawasan China memantik kekhawatiran pasar terhadap prospek permintaan minyak.
Christopher Waller mengatakan jika laju kenaikan suku bunga mungkin akan diperlambat, namun tidak boleh dikaitkan dengan sikap melunak dalam melawan inflasi tinggi.
Harga produsen China mengalami deflasi untuk pertama kalinya sejak akhir 2020 karena penyesuaian data tahunan. Sementara itu, CPI terus melemah di bulan Oktober.
Harga minyak kembali melemah karena pernyataan terbaru pejabat China yang kembali menegaskan kebijakan Zero COVID. Hal ini berisiko menurunkan permintaan minyak.
Harga minyak melemah setelah data aktivitas manufaktur dan jasa China memburuk. Di samping itu, lonjakan produksi minyak AS ikut menekan harga.
Aktivitas manufaktur dan jasa China kompak menyusut pada bulan Oktober akibat melemahnya permintaan pasar dan kekhawatiran terhadap pandemi.
Harga minyak sedikit menguat setelah laporan PMI Manufaktur dan Jasa AS versi Markit terkontraksi dan menekan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed.
Ekonomi China tumbuh melampaui ekspektasi pada kuartal ketiga 2022. Akan tetapi, data retail sales justru melambat karena menurunnya permintaan.
Menurut Neel Kashkari, The Fed kemungkinan besar perlu menaikkan suku bunga hingga melampaui target 4.75 persen apabila lonjakan inflasi tidak kunjung mereda.
Di tengah perseteruan dengan AS, sejumlah anggota OPEC menyuarakan dukungan untuk memotong produksi minyak 2 juta bph. Ini dilakukan untuk menstabilkan pasar minyak.
Keyakinan konsumen Australia turun karena kemerosotan optimisme pekerjaan. Pasalnya, kenaikan upah dianggap tidak sebanding dengan lonjakan inflasi saat ini.
Amerika Serikat menentang keputusan OPEC untuk memangkas output karena dianggap berisiko menekan perekonomian global.
AUD/USD sempat merosot setelah RBA hanya melakukan rate hike 25 bps pada bulan Oktober, lebih rendah ketimbang ekspektasi kenaikan 50 bps.
Harga minyak menguat lebih dari 2 persen karena didukung oleh langkah OPEC yang berencana memangkas produksi hingga 1 juta barel per hari (bph).
Sektor manufaktur China naik di atas zona ekspansi untuk pertama kalinya dalam 3 bulan terakhir. Di sisi lain, PMI Jasa justru melemah.
Badai tropis Ian telah memaksa penutupan beberapa kilang minyak di Teluk Meksiko dan mengancam pasokan minyak. Akibatnya, harga minyak terkoreksi naik.
Inflasi konsumen Jepang melonjak ke level tertinggi 8 tahun karena depreasiasi mata uang Yen yang membuat biaya impor semakin mahal. USD/JPY tak bereaksi atas rilis ini.
Harga minyak menguat setelah pembatasan COVID di China dicabut. Hal ini berpotensi meningkatkan prospek permintaan minyak ke depan.
Kenaikan sentimen konsumen Australia gagal menopang penguatan AUD/USD lebih lanjut karena sikap wait and see pasar terhadap rilis inflasi AS nanti malam.
Harga minyak menguat di sesi Eropa hari ini setelah pasar mengabaikan kekhawatiran atas melambatnya permintaan China.