Dolar New Zealand Jeblok Lantaran Rilis Data CPI Q1/2019

Bias bearish NZD/USD menguat karena penurunan laju CPI tahunan memengaruhi proyeksi kebijakan suku bunga New Zealand.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Laporan Consumer Price Index (CPI) New Zealand tadi pagi (17/April) meleset dari ekspektasi, sehingga memicu NZD/USD terperosok lebih dari 1 persen sampai kisaran 0.6665, level terendahnya sejak awal Januari. Saat berita ditulis menjelang pembukaan sesi Eropa, NZD/USD telah bangkit kembali ke kisaran 0.6742 berkat rilis data GDP China yang lebih baik. Namun, bias bearish Kiwi menguat karena penurunan CPI memengaruhi proyeksi kebijakan suku bunga New Zealand.

NZDUSD Daily

Laporan CPI New Zealand untuk kuartal I/2019 menunjukkan kenaikan hanya 0.1 persen (Quarter-over-Quarter), jauh lebih rendah dari ekspektasi 0.3 persen. Lesunya inflasi kuartalan menyeret turun laju inflasi tahunan pula dari 1.9 persen menjadi 1.5 persen (Year-on-Year). Padahal, pelaku pasar awalnya mengharapkan inflasi tahunan bisa mencapai 1.7 persen.

Laju inflasi itu juga lebih rendah dibandingkan estimasi bank sentral New Zealand (Reserve Bank of New Zealand/RBNZ). Dalam rapat kebijakannya bulan lalu, RBNZ telah menyampaikan bahwa mereka memperkirakan inflasi akan naik 1.6 persen pada kuartal pertama. Kesenjangan antara estimasi dan data aktual ini mengakibatkan para investor dan trader langsung merisaukan probabilitas pemangkasan suku bunga RBNZ (Official Cash Rate/OCR) dalam waktu dekat.

"Awal mula inflasi (tahun ini) rendah dan kami meyakini outlook ekonomi New Zealand yang lebih lemah kemungkinan akan meredam laju inflasi jangka menengah," kata Nick Tuffley, pimpinan ekonom ASB Bank, sebagaimana dikutip oleh Bloomberg.

Lanjutnya, "Kami telah memperkirakan pemangkasan OCR sebanyak 25 basis poin pada bulan Mei dan Agustus; dan data hari ini meningkatkan probabilitas pemangkasan (suku bunga) bulan Mei."

Pasangan mata uang NZD/USD tumbang seusai rilis data tersebut, dikarenakan banyaknya jumlah pelaku pasar yang memperhitungkan ulang probabilitas pemangkasan suku bunga RBNZ. Beberapa saat kemudian, posisinya naik kembali karena didongkrak oleh optimisme yang dibawa data GDP China. Namun, meski situasi eksternal membaik, para pakar masih mengkhawatirkan outlook ekonomi domestik dalam tahun ini.

288165

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


15 Jul 2019