Reformasi Saudi Dukung Harga Minyak Ke Level Tertinggi Sejak 2015

Harga Minyak tembus level tertinggi sejak bulan Juli 2015, sementara Putra Mahkota Arab Saudi menjalankan pemberantasan korupsi dan merintis IPO Saudi Aramco.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga Minyak tembus level tertinggi sejak bulan Juli 2015 pada awal sesi perdagangan Asia hari Senin pagi ini (6/November), sementara Putra Mahkota Arab Saudi mengukuhkan posisinya dengan menjalankan pemberantasan korupsi dan merintis IPO Saudi Aramco. Penurunan jumlah oil drilling rigs di Amerika Serikat, turut mendukung kenaikan harga.

Mohammed Bin Salman

 

Fundamental Pasar Membaik

Harga Minyak tipe Brent telah naik 0.31% pagi ini ke kisaran $62.27 per barel, seusai naik sekitar 2.7% dalam seminggu yang berakhir pada Jumat, 3 November 2017. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menanjak 0.25% ke $55.78 per barel, setelah mengalami kenaikan 3.2% pada pekan lalu. Reli harga Minyak terutama didukung oleh ekspektasi akan diperluasnya pakta pemangkasan output dalam rapat OPEC yang akan digelar akhir bulan ini.

Dilihat dari fundamental pasar saat ini pun, ada sejumlah tanda bahwa pasar minyak telah membaik. Diantaranya nampak pada data terbaru Baker Hughes yang menunjukkan penurunan jumlah oil drilling rigs di AS sebanyak 8 buah ke angka total 729, sepanjang pekan lalu. Data ini merupakan proxy bagi barometer pengukur produksi minyak AS.

 

Ekspektasi Ekstensi Pemangkasan Output, Meningkat

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, mengukuhkan kekuasaannya dengan mencekal sejumlah pejabat tinggi dan pengusaha terkemuka berdarah bangsawan atas berbagai tuduhan seperti mangkir bayar pajak, suap, hingga pencucian uang. Dua diantaranya adalah miliuner pemilik Citigroup, Alwaleed bin Talal, dan pimpinan National Guard, Miteb bin Abdullah.

"Konsolidasi proses reformasi sedang berlangsung, sebagian karena keinginan untuk mendorong harga minyak naik," kata Greg McKenna, Pimpinan Pakar Strategi Pasar di AxiTrader, sebagaimana dikutip oleh Reuters.

Agenda reformasi Mohammed bin Sultan termasuk rencana untuk membawa Saudi Aramco, BUMN Minyak terbesar milik Arab Saudi, untuk go public tahun depan. Harga minyak yang lebih tinggi akan mendongkrak kapitalisasi pasar perusahaan menjelang IPO, sehingga pasar makin optimis akan dukungan Arab Saudi dalam perluasan pakta pemangkasan output.

Sebagaimana diketahui, pakta pemangkasan output sebesar 1.8 juta barel per hari (bph) yang digawangi oleh OPEC dan beberapa negara produsen minyak Non-OPEC telah diberlakukan mulai Januari 2017 dan akan terus berlangsung hingga Maret 2018. Namun, setelah melihat lambatnya penyusutan inventories global serta sulitnya kenaikan harga minyak, Arab Saudi dan Rusia telah menyuarakan persetujuan mereka untuk memperluas cakupan pakta tersebut. Diantara opsi yang didiskusikan terdapat kemungkinan memperpanjang masa pemberlakuan, meningkatkan besaran pemangkasan, serta menerapkan batasan kuota juga atas negara-negara OPEC yang sebelumnya dikecualikan dari kesepakatan.

OPEC dijadwalkan menggelar pertemuan resmi di kantor pusat Wina, Austria, pada 30 November mendatang, dan diperkirakan diskusi mengenai perluasan kesepakatan pemangkasan output termasuk dalam agenda.

Merespon perubahan-perubahan di pasar minyak global ini, bank investasi terkemuka Barclays meningkatkan proyeksi harga minyaknya untuk kuartal IV/2017 sebesar $6 ke $60 per barel. Selain itu, mereka juga mengerek forecast tahun 2018 sebesar $3 ke $55 per barel.

280899

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.