OctaFx

iklan

Analisa Rupiah Mingguan: CPI, Retail Sales AS, Perdagangan Indonesia

Minggu lalu, Rupiah melemah karena perlambatan global dan buruknya perdagangan China. Minggu ini, CPI, Retail Sales AS, dan perdagangan Indonesia menjadi katalis.

Xm

iklan

Advertisement

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar minggu lalu (8 Maret 2019), serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Di luar dugaan pengamat, minggu lalu Rupiah melemah cukup signifikan dan ditutup pada level 14305 per US Dollar, atau mengalami depresiasi sebesar 1.4% dari harga penutupan minggu sebelumnya. Meski sebagian besar mata uang Asia kompak melemah versus USD, tetapi pelemahan Rupiah adalah yang paling dalam.

Pelemahan mata uang Garuda terdalam terjadi pada Jumat lalu, setelah sehari sebelumnya pasar libur. Rupiah kembali diperdagangkan seiring dengan datangnya sentimen eksternal dari Eropa; dipangkasnya pertumbuhan ekonomi Eurozone untuk tahun ini dari 1.7% menjadi 1.1%, membuat pelaku pasar khawatir akan prospek perlambatan pertumbuhan global.

Sentimen negatif berikutnya adalah data neraca perdagangan China bulan Februari yang jauh di bawah perkiraan. Perdagangan China hanya surplus USD4.12 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan perkiraan surplus USD27.2 miliar. Angka tersebut merupakan surplus terendah sejak Maret tahun lalu. Baik ekspor maupun impor negara raksasa ekonomi Asia tersebut mengalami penurunan, sehingga semakin menimbulkan kekhawatiran negara-negara partner dagang terbesarnya termasuk Indonesia.

Sentimen eksternal yang berdampak negatif tersebut lebih kuat dibandingkan sentimen dari dalam negeri, yakni membaiknya cadangan devisa Indonesia bulan Februari yang dirilis pada hari yang sama. Dengan demikian, Rupiah ikut terseret arus pelemahan mata uang Asia lainnya.

Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, selain sentimen dari Eurozone dan China, faktor geopolitik lainnya termasuk tidak tercapainya kesepakatan antara AS dan Korea Utara, serta masalah Brexit juga ikut menekan Rupiah. Namun, Perry optimis karena faktor domestik bagus, yaitu tingkat inflasi rendah, inflow modal asing terus berjalan, dan cadangan devisa meningkat.

Dari AS, minggu ini akan dirilis dua data penting, yaitu inflasi bulan Februari (CPI dan PPI) dan penjualan ritel bulan Januari. Ada pula pidato ketua The Fed Jerome Powell. Dari dalam negeri akan ada neraca perdagangan bulan Februari yang diperkirakan masih akan defisit, tapi lebih kecil dari bulan sebelumnya.

Dengan data NFP AS bulan Februari yang mengecewakan, diharapkan awal minggu ini Rupiah bisa menguat. Resistance kuat USD/IDR ada pada level 14330, sementara support kuat ada pada 14120.

 

Jadwal Rilis Data Fundamental:

Senin, 11 Maret 2019:

  • Jam 16:15 WIB: data Retail Sales di Indonesia bulan Januari 2019 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +7.7%. Perkiraan: +6.0%.

Analisa Rupiah Mingguan: CPI Dan Retail

 

Selasa, 12 Maret 2019:

  • Jam 16:15 WIB:  data pertumbuhan kredit bulan Februari 2019 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +11.97%.

Analisa Rupiah Mingguan: CPI, Retail

Jumat, 15 Maret 2019:

  • Jam 11:00 WIB: data neraca perdagangan Indonesia bulan Februari 2019 y/y: bulan sebelumnya: -USD1.16 miliar. Perkiraan: -USD1.00 miliar.

Analisa Rupiah Mingguan: CPI, Retail

Data dan peristiwa berdampak dari AS minggu ini
: CPI, PPI, Retail Sales, Durable Goods Orders, indeks kepercayaan konsumen UoM, serta pidato ketua The Fed Powell dan Fed Brainard.

 

Tinjauan Teknikal

Analisa Rupiah Mingguan: CPI Dan Retail


Chart Daily:

USD/IDR masih cenderung bullish (Rupiah masih cenderung melemah), menyusul terbentuknya pola candle triple bottom pada support level 50% Fibo Expansion, dan bullish engulfing candle:

  1. Harga berada di atas kurva upper band indikator Bollinger Bands, dan titik indikator Parabolic SAR berada di bawah bar candlestick.
  2. Kurva indikator MACD masih berada di atas kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA berada di atas level 0.00.
  3. Garis histogram indikator ADX berwarna hijau dan berada di atas level 25, menunjukkan sentimen bullish yang masih kuat.

Resistance kuat ada pada kurva EMA 144 dan level 14330.

Level Pivot mingguan : 14248.33

Resistance : 14330.00 ; 14398.76 (23.6% Fibo Expansion) ; 14465.00 ; 14603.00 ; 14650.00 ; 14785.00 ; 14930.00 ; 15050.00 ; 15140.00 ; 15200.00 ; 15265.00 ; 15327.00 ; 15400.00.

Support : 14243.97 (38.2% Fibo Expansion) ; 14118.20 (50% Fibo Expansion) ; 13992.43 (61.8% Fibo Expansion) ; 13885.00 ; 13736.00 ; 13587.31 (100% Fibo Expansion) ; 13485.00 ; 13400.00 ; 13362.00 ; 13314.00 ; 13263.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 144 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; ADX (14).

Fibonacci Expansion :

  • Titik 1: 15265.00 (harga tertinggi 11 Oktober 2018).
  • Titik 2: 14205.00 (harga terendah 3 Desember 2018).
  • Titik 3: 14650.00 (harga tertinggi 11 Desember 2018).
Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.