Analisa Rupiah Mingguan: Suku Bunga BI Dan Perdagangan Indonesia

Setelah minggu lalu menguat akibat beberapa faktor, Rupiah minggu ini akan dipengaruhi oleh suku bunga BI dan perdagangan Indonesia.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar minggu lalu (11 Januari 2019), serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Minggu lalu, Rupiah bergerak di antara level 13990 hingga 14175, sebelum ditutup pada kisaran 14072 per US Dollar. Harga penutupan ini lebih kuat 1.9% dibandingkan minggu sebelumnya yang 14345, dan menjadi yang terkuat dalam 8 bulan terakhir.

Penguatan mata uang Garuda di awal pekan dipicu oleh pernyataan dovish Jerome Powell di Atlanta, mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed tahun ini yang akan disesuaikan dengan kondisi perekonomian. Di samping itu, data cadangan devisa dan kepercayaan konsumen Indonesia yang bagus ikut mendukung penguatan Rupiah hingga sempat berada di bawah level 14000.

Cadangan devisa (cadev) Indonesia bulan Desember 2018 naik ke USD120.7 miliar, lebih tinggi dari perkiraan USD116.3 miliar, dan menjadi yang tertinggi dalam 7 bulan terakhir. Sementara itu, indeks kepercayaan konsumen melonjak ke angka +127.0, lebih baik dari perkiraan +122.0 dan merupakan yang tertinggi dalam 6 bulan. Naiknya cadev bulan Desember disebabkan oleh capital inflow dan penerimaan dari lelang Surat Berharga Negara (SBN). Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, cadev tersebut cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

Sementara menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, penguatan Rupiah terjadi akibat dampak positif dari realisasi APBN; pada akhir 2018, penerimaan negara melebihi yang ditargetkan APBN. Hingga akhir Desember 2018, realisasi penerimaan APBN tembus 102.5% (setara Rp 1,942.3 triliun), lebih besar dibandingkan target APBN yang sebesar Rp 1,894.7 triliun.

Minggu ini, fokus pasar akan tertuju pada pengumuman suku bunga acuan BI dan data neraca perdagangan Indonesia bulan Desember 2018. Dari AS akan dirilis data penjualan ritel bulan Desember, juga perkembangan partial government shutdown yang masih berlangsung.

Dengan melunaknya sikap The Fed, diperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan pada level +6.00%, sementara neraca perdagangan Desember 2018 diperkirakan surplus sebesar USD0.90 miliar, setelah bulan sebelumnya mengalami defisit tertinggi dalam hampir 5 tahun terakhir.

Jika neraca perdagangan bisa surplus, kemungkinan Rupiah akan berlanjut menguat seperti ketika rilis data cadev minggu lalu. Support USD/IDR terdekat adalah 14000 hingga 13925, sementara jika Rupiah melemah, resistance kuat ada pada level 14175.

 

Jadwal Rilis Data Fundamental:

Senin, 14 Januari 2019:

  • Jam 14:30 WIB: penjualan mobil di Indonesia bulan Desember 2018 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +4.2%.

Rupiah 14-18 Januari 2019: Suku Bunga

 

  • Jam 14:30 WIB:  data pertumbuhan kredit bulan Desember 2018 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +12.05% (terendah dalam 4 bulan terakhir). Perkiraan: 6.7%.

Rupiah 14-18 Januari 2019: Suku Bunga

 

Selasa, 15 Januari 2019:

  • Jam 11:00 WIB: data neraca perdagangan Indonesia bulan Desember 2018 y/y: bulan sebelumnya: -USD2.05 miliar (defisit tertinggi sejak bulan Juli 2013). Perkiraan: +USD0.90 miliar.

Rupiah 14-18 Januari 2019: Suku Bunga

 

Kamis, 17 Januari 2019:

  • Jam 14:00 WIB: suku bunga Bank Indonesia bulan Desember 2018: bulan sebelumnya: +6.00%. Perkiraan: +6.00%.

Rupiah 14-18 Januari 2019: Suku Bunga

 

Data dan peristiwa berdampak dari AS minggu ini: Retail Sales, PPI, Philly Fed Manufacturing Index, indeks kepercayaan konsumen UoM, serta pidato Fed Quarles, Fed George, dan Fed Williams.

 

Tinjauan Teknikal

Rupiah 14-18 Januari 2019: Suku Bunga
Chart Daily
:

Dalam jangka menengah-panjang, USD/IDR masih cenderung bergerak bearish (Rupiah masih cenderung menguat). Setelah terbentuk gap turun, muncul pola double top pada level 14175.00, yang menandakan bahwa gap belum tentu akan tertutup. Kecenderungan bearish harga lebih lanjut didukung oleh:

  1. Harga masih bergerak di bawah kurva SMA 200-day yang merupakan acuan arah tren jangka menengah-panjang.
  2. Harga berada di bawah kurva lower band indikator Bollinger Bands, dan titik indikator Parabolic SAR masih berada di atas bar candlestick.
  3. Kurva indikator MACD masih berada di bawah kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA berada di bawah level 0.00.
  4. Garis histogram indikator ADX berwarna merah dan berada di atas level 25, menunjukkan sentimen bearish yang masih kuat.


Level Pivot mingguan : 14079.00

Resistance : 14090.00 ; 14175.00 ; 14263.25 (level 50% Fibo Retracement) ; 14330.00 ; 14425.00 ; 14500.00 (38.2% Fibo Retracement) ; 14557.00 ; 14600.00 ; 14650.00 ; 14700.00 ; 14792.33 (23.6% Fibo Retracement) ; 14930.00 ; 15000.00 ; 15050.00 ; 15140.00 ; 15200.00 ; 15265.00 ; 15327.00 ; 15400.00.

Support : 14000.00 ; 13923.00 ; 13845.00 ; 13795.00 ; 13736.00 ; 13693.00 ; 13624.00 ; 13538.00 ; 13485.00 ; 13400.00 ; 13362.00 ; 13314.00 ; 13263.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 144 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ;  ADX (14).

Fibonacci Retracement :

  • Titik Swing Low: 13263.00 (harga terendah 25 Januari 2018).
  • Titik Swing High : 15265.00 (harga tertinggi 11 Oktober 2018).
Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.