Advertisement

iklan

Profil Penulis : Alia Tarmizi

Penulis lepas bidang saham yang juga merupakan investor pasar modal. Selain itu, Alia merupakan pemerhati aksi korporasi emiten. Penulis sudah berkecimpung lebih dari 3 tahun dalam tulis-menulis sektor ekonomi dan update terhadap isu-isu nasional.
Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Konten Oleh Alia Tarmizi

BEI saat ini memiliki 10 perusahaan yang akan segera melaksanakan IPO dalam waktu dekat. Salah satunya adalah perusahaan logistik darat PT Armada Berjaya Trans Tbk.


Sejumlah perusahaan telah mengantri untuk melaksanakan IPO tahun depan. Salah satunya adalah Estika Tata Tiara.


Sebagai pelaku di industri ritel dan makanan-minuman (mamin), Sentra Food Indonesia optimistis dengan kondisi ekonomi di tahun politik.


Tak mudah bagi perusahaan rintisan untuk menjajal lantai pasar saham. Namun, itu tak menyurutkan langkah IPO PT Distribusi Voucher Nusantara (DIVA).


Tahun ini, BEI telah mencatatkan rekor baru dalam hal jumlah perusahaan yang IPO. Di penghujung tahun, salah satu yang cukup menarik adalah IPO Mega Perintis.


Emiten properti menambah jumlah perusahaan yang melirik pasar modal sebagai salah satu sumber pendanaan. Dalam waktu dekat, satu lagi emiten properti, yaitu PT Urban Jakarta Propertindo Tbk, akan segera melantai di bursa saham.


Grup Kresna seolah tidak habis-habis menelurkan entitas anak baru yang menjajal pasar modal melalui aksi penawaran saham perdana (IPO). Sejak tahun lalu, PT Kresna Graha Investama Tbk memperkenalkan pada publik satu per satu anak usahanya yang tergolong perusahaan rintisan atau start up.


Setelah produksi terkendala cuaca yang kurang mendukung pada semester I-2018, PT Adaro Energy Tbk akhirnya mampu mendongkrak produksi di kuartal III-2018.


BEI menyambut IPO PT Dewata Freight International Tbk, satu emiten sektor logistik baru di papan perdagangan yang bergerak di bidang logistik pelayaran.


Kinerja emiten baja nasional memang berat pada tahun ini. Pukulannya bertubi-tubi mulai dari harga bahan baku yang meningkat karena terdampak kenaikan harga minyak dunia, hingga depresiasi nilai tukar rupiah. PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk memutuskan langkah merger.