GDST: Menakar Kekokohan Usai Merger

285820

Kinerja emiten baja nasional memang berat pada tahun ini. Pukulannya bertubi-tubi mulai dari harga bahan baku yang meningkat karena terdampak kenaikan harga minyak dunia, hingga depresiasi nilai tukar rupiah. PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk memutuskan langkah merger.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Sebagian besar kinerja emiten baja hilir memburuk akibat berbagai permasalahan dalam tahun ini, mulai dari peningkatan harga bahan baku hingga depresiasi kurs Rupiah. Alhasil, pabrikan melakukan efisiensi besar-besaran. Selain itu, mereka ramai-ramai melakukan pengalihan sumber pembelian bahan baku dari sebelumnya diimpor, menjadi bersumber dari lokal.

Salah satu emiten baja yaitu PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (kode saham GDST) memiliki strategi lain, yaitu melakukan penggabungan usaha atau merger. Emiten dengan sandi GDST tersebut menggandeng PT Jaya Pari Steel Tbk (JPRS)–yang kini telah delisting-  untuk merger.

Awal bulan ini, keduanya telah merampungkan proses merger yang sudah dirancang sejak April 2018 tersebut. Prosesnya tidak memakan waktu lama, karena sejak awal pemegang saham mayoritas kedua perusahaan adalah individual yang sama yaitu Gwie Gunawan. Bagaimana prospek perseroan pascamerger?

Direktur Gunawan Dianjaya Steel Hadi Sutjipto menyampaikan bahwa setelah merger, kedua perusahaan akan mendapatkan dampak positif dari sinergi. Sinergi tersebut berasal mulai dari aktivitas pembelian bahan baku hingga operasional perseroan.

"Kami akan terus melakukan penyesuaian terkait kinerja pascamerger," ungkap Hadi.

GDST

 

Skenario Merger

Kedua emiten tersebut telah menyelesaikan proses penilaian independen sehingga mendapatkan niai pasar wajar 100% saham JPRS adalah sebesar Rp381 per lembar saham.

Dengan demikian, rasio konversi saham diperoleh dengan perbandingan nilai pasar wajar GDST dan JPRS yang telah ditentukan oleh penilai independen yaitu sebesar 1:1.39 atau setiap 1 saham JPRS sebelum penggabungan, akan mendapatkan 1.39 saham GDST setelah penggabungan.

Berdasarkan rasio konversi saham tersebut, maka setiap 1 saham yang dipegang oleh pemegang saham JPRS akan mendapatkan 1.39 saham GDST atau secara total berjumlah 1,042,500,000 saham dengan nilai Rp104.25 miliar yg mewakili 11.28% saham GDST setelah merger efektif.

Adapun, GDST dan JPRS bergerak pada bidang industri yang sama yaitu industri baja dan pengolahan baja. Kepemilikan mayoritas kedua perusahaan tersebut merupaan individu yang sama, yaitu Gwie Gunawan.

Pada dasarnya, tidak sulit bagi GDST untuk melakukan penyesuaian pascamerger mengingat pemegang saham mayoritas perusahaan yang sama. Setelah penggabungan usaha, Gwie Gunawan masih menggenggam 86.94% saham GDST. Kedua perusahaan pun bergerak pada segmen yang sama.

 

Prospek Pascamerger GDST-JPRS

Sebelum merger, Jaya Pari Steel berkontribusi cukup signifikan pada pendapatan konsolidasi yaitu sekitar 20%. Sebagai catatan, kinerja keuangan GDST pada semester I/2018 masih mencatatkan kerugian, sedangkan kinerja Jaya Pari masih positif.

Pascamerger, kinerja GDST diyakini akan lebih baik karena manajemen yang lebih efisien dari tubuh GDST yang baru. Dengan menjadi satu perusahaan, pangsa pasar GDST pun otomatis meningkat sehingga mempermudah perseroan memperkuat posisinya di market.

Dari sisi kinerja, kalangan analis meyakini kondisi finansial GDST akan membaik setelah penggabungan usaha. Kendati demikian, kekokohan emiten baja tersebut masih harus ditunggu investor karena beberapa alasan.

Pertama, tren kenaikan harga bahan baku yang masih terus terjadi. Sejumlah emiten mencatat harga bahan baku telah meningkat pada kisaran 18%-20% sepanjang tahun berjalan. Kedua, masih perlu bukti untuk melihat apakah manajemen GDST akan mampu memperkuat fundamental perusahaan setelah merger rampung.

Arsip Analisa By : Alia Tarmizi

Penulis lepas bidang saham yang juga merupakan investor pasar modal. Selain itu, Alia merupakan pemerhati aksi korporasi emiten. Penulis sudah berkecimpung lebih dari 3 tahun dalam tulis-menulis sektor ekonomi dan update terhadap isu-isu nasional.