Advertisement

iklan

Cara Manajemen Utang Agar Finansial Tetap Selamat

Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak; kira-kira seperti itulah kondisi orang yang terlilit utang. Agar tak berujung demikian, maka tips mengatur utang berikut ini patut diperhatikan

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Pernahkah Anda terjerat utang seperti tak ada ujungnya? Meski sudah bergaji UMK, tetapi mengapa untuk memenuhi kebutuhan bulanan rasanya masih belum cukup ya? Padahal zaman masih jadi mahasiswa, dengan uang bulanan dari orang tua sebesar 1.5 juta Rupiah sudah bisa bayar uang kos bulanan, belanja bulanan, bahkan nongkrong rutin dengan teman-teman. Namun setelah bekerja, kebutuhan rasanya meningkat sehingga gaji sebesar 4 juta pun dirasa tidak bisa memenuhi semuanya. Apa sebabnya?

 

Perilaku Konsumtif Kian Meningkat

Perkembangan teknologi yang amat pesat akhir-akhir ini turut mempengaruhi gaya hidup masyarakat Indonesia, termasuk pola konsumsi sehari-hari. Fasilitas kredit yang mudah lantas mendorong masyarakat untuk semakin konsumtif. Bahkan, kaum-kaum milenial kini rasanya sudah akrab dengan fasilitas PayLater, padahal limit kreditnya 10 kali lipat dari gaji bulanan. Kalau tak pandai-pandai menggunakan, bisa-bisa Anda malah terjerat utang.

Risiko PayLater(Baca Juga: Hati-Hati, Risiko Bunga PayLater Sama Dengan Kartu Kredit)

Disadari atau tidak, Anda pasti memperoleh pemberitahuan promo atau cashback dari merchant-merchant tertentu hampir setiap hari, baik melalui televisi, brosur, hingga notifikasi di smartphone. Kemunculan iklan-iklan tersebut mampu "menghipnotis" Anda untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan, karena biasanya memancing dengan cashback. Namun terlepas dari banyaknya bujuk rayu marketing, keputusan untuk bersikap konsumtif atau sebaliknya tetap ada di tangan Anda. Jadi, pandai-pandailah mengelola keuangan ya!

 

Mengenal Utang Konsumtif VS Utang Produktif

Ketika mengelola keuangan, Anda tidak dilarang mengambil pinjaman. Akan tetapi, Anda harus paham apakah pinjaman tersebut tergolong utang konsumtif atau utang produktif. Apa bedanya?

Perbedaan Utang Konsumtif Dan Utang Produktif

Saat ini, proses pengajuan pinjaman bisa dibilang sangat mudah, terutama jika Anda adalah pegawai dengan gaji rutin setiap bulannya. Namun sebelum mengajukan pinjaman, alangkah baiknya mengecek dulu kemampuan finansial Anda. Bagaimana caranya?

  1. Catat semua penghasilan yang masuk, baik dari pekerjaan utama maupun sambilan. Tulis semuanya dalam sebuah lembar kerja Excel.
  2. Catat pengeluaran di sheet Excel kedua. Lalu perhatikan, apakah besar pengeluaran sama dengan jumlah gaji. Jika iya, maka sebaiknya ada pengeluaran yang dibatasi. Kalau Anda enggan membatasi pegeluaran, maka carilah cara lain untuk menambah penghasilan.
  3. Jika memiliki keinginan, misalnya membeli handphone keluaran terbaru, pastikan bahwa pembayaran utang/cicilannya tidak lebih dari 35%. Bila lebih dari itu, maka akan ada satu atau lebih kebutuhan lain yang harus Anda relakan. Rasio lebih dari 35% pendapatan untuk membayar utang sudah termasuk kategori tidak sehat.
  4. Utang yang diambil sebaiknya adalah utang produktif, sehingga laba usaha yang diperoleh bisa digunakan untuk membayar cicilan utang. Pun, Anda tidak perlu memotong pendapatan untuk membayar cicilan tersebut (Baca juga: Tips Mendapatkan Kredit Untuk Modal Usaha).

 

Lalu, Bagaimana Jika Sudah Terlanjur Terlilit Utang?

Jika Anda atau orang di sekitar Anda terlilit utang, maka beberapa tips berikut ini bisa dicoba:

  • Hal paling mendasar yang harus dilakukan pertama adalah buat daftar utang.
  • Apabila utang terlalu besar, coba negosiasikan dengan leasing atau lembaga yang memberi pinjaman untuk mendapat keringanan cicilan, bunga, atau periode pelunasan.

Negosiasi dengan leasing

  • Sebaiknya segera bergegas untuk mencari penghasilan tambahan. Jika perlu, jual aset-aset yang Anda miliki terlebih dahulu sebagai modal. Melepas aset adalah teknik kepepet saat tidak ada jalan lagi. Adapun aset yang paling bagus untuk dijual adalah aset tidak produktif, artinya barang-barang tersebut tidak diperlukan dalam bidang pekerjaan atau bisnis Anda.
  • Memiliki penghasilan tambahan juga dapat membantu Anda melunasi utang sambil tetap memenuhi kebutuhan dasar.
  • Jangan lupa menyisihkan uang untuk investasi saat utang telah lunas seluruhnya.

 

Debt Snowballing Itu Berbahaya!

Ada kalanya seseorang yang sudah terjerat utang akan merasa kebingungan, bahkan hanya untuk sekedar membayar cicilan. Di saat seperti itu, tidak jarang mereka akan melakukan penambahan utang untuk membayar utang sebelumnya. Membayar utang dengan utang akan membuatnya semakin menggunung, alias Debt Snowballing.

Debt Snowballing

Jangan dikira Debt Snowballing adalah hal yang mudah dilakukan. Dalam pemberian utang, Bank atau lembaga keuangan akan melakukan pengecekan 5C (Character, Capacity, Capital, Collateral dan Condition). Analisis 5C digunakan untuk mengecek apakah calon debitur ini mampu diberi liabilitas (tanggung jawab) untuk membayar pinjaman.

Utang-utang Anda sebelumnya akan tercatat dalam BI Checking. Jika jumlahnya jauh lebih besar dari pendapatan, maka kemungkinan besar pengajuan pinjaman Anda akan ditolak. Sebaliknya, keuangan Anda diharuskan "sehat" agar dianggap layak mendapatkan pinjaman.

Dengan demikian, melakukan Debt Snowballing benar-benar tak disarankan. Daripada gali lubang tutup lubang, sebaiknya Anda mulai mencari cara untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

292517

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'


Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone