Advertisement

iklan

Moving Average: Indikator Sederhana Dengan Banyak Fungsi

Trader profesional banyak yang memanfaatkan fungsi Moving Averages dalam aktivitas trading mereka. Sudahkah Anda tahu apa saja fungsi indikator serba bisa ini?

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Moving Average (dengan berbagai macam variannya) bisa dikatakan sebagai indikator yang sederhana tetapi multi fungsi. Indikator ini tersedia di semua platform trading, bahkan menjadi indikator default yang terpasang di chart. Banyak trader yang memanfaatkan fungsi Moving Average, karena inilah indikator yang biasanya mereka kenal pertama kali. Meskipun terlihat simpel, jangan dulu meremehkan indikator yang satu ini. Di balik penampilannya yang sederhana, sebenernya banyak informasi yang bisa kita ambil dari segaris indikator Moving Average, maupun kombinasi beberapa garis Moving Average.

 

Mengenal Moving Average Sebelum Menggali Fungsinya

Memahami Moving Average sama dengan mempraktikkan metode sederhana membaca pergerakan harga dari waktu ke waktu. Sesuai dengan artinya secara harfiah, teknik "Moving Average" berarti menggunakan rata-rata harga penutupan (Closing Price) dari pasangan mata uang yang bergerak dari waktu ke waktu. Jika diaplikasikan pada grafik harga dalam platform trading forex, maka Moving Average akan terlihat seperti berikut:

contoh moving average


Moving Average terbagi menjadi 3:

  • Simple Moving Average (SMA)

SMA dihitung dengan rumus Moving Average dasar, yaitu nilai rata-rata pergerakan harga dalam periode tertentu. SMA merupakan jenis Moving Average paling sederhana dan paling banyak dimanfaatkan oleh trader, khususnya SMA-200 Day. SMA-200 Day digunakan oleh berbagai institusi keuangan dan bank-bank besar sebagai acuan tren jangka panjang, karena Bounce dan Breakout dari SMA-200 Day dianggap sangat signifikan untuk mengetahui tren harga.

  • Exponential Moving Average (EMA)

Sama seperti SMA, EMA dihitung berdasarkan nilai rata-rata pergerakan harga dalam periode tertentu, tetapi ditambahkan pembobotan (Multiplier) lebih tinggi bagi harga yang lebih baru. Dengan begitu, EMA bisa menghasilkan pembacaan yang 'lebih halus' dibandingkan SMA. Cara menghitung EMA adalah dengan rumus:

EMA = 2 / (n+1) x 100%

N adalah periode yang dipakai, dan hasil dari pembobotan dihitung dalam satuan persen yang disebut EMA%. Misalnya, EMA dari periode 20 hari:

2 / (20+1) x 100% = 9.52%

Indikator EMA lebih populer dibanding SMA, terutama bagi para trader harian yang lebih banyak mengandalkan sinyal trading cepat nan akurat.

  • Weighted Moving Average (WMA)

Selain SMA dan EMA, ada juga WMA. Perhitungan WMA diambil berdasarkan pembagian dari jumlah keseluruhan periode. Misalnya, WMA dengan periode 3 hari artinya: menghitung jumlah seluruh data dibagi jumlah periode. Dibandingkan dengan SMA, WMA lebih sensitif sehingga lebih cepat dalam menghasilkan sinyal. Namun perlu diperhatikan bahwa WMA memiliki lebih banyak Noise. 

penerapan MA

(Baca Juga: 3 Cara Trading Dengan Moving Average)

 

Fungsi Moving Average Yang Banyak Digunakan Trader

Fungsi Moving Average yang sangat bermanfaat untuk trader adalah: sebagai pendeteksi tren, penentu nilai tengah harga, serta patokan untuk masuk ke pasar. Karena indikator ini telah banyak dipakai, trader tidak perlu lagi kesusahan menghitung secara manual. Platform-platform trading telah memiliki indikator Moving Average yang secara otomatis menghitungkan hasil sesuai dengan periode yang dibutuhkan. Di bawah ini adalah cara penerapan fungsi Moving Average:

1. Pendeteksi Tren

Sebagai indikator yang pada dasarnya "menghaluskan" pergerakan chart, salah satu fungsi Moving Average yang sangat membantu trader adalah untuk mendeteksi arah tren. Teori dasar yang menjadi acuan adalah: jika garis MA cenderung naik, berarti tren cenderung Bullish. Jika garis Moving Average turun, berarti tren cenderung Bearish. Namun apabila Moving Average membentuk pola bukit dan lembah secara simultan, berarti tren cenderung Sideways.

Untuk mendapatkan fungsi Moving Average yang kita harapkan, Time Frame dan periode dari indikator ini bisa diatur untuk mendeteksi tren dalam jangka waktu tertentu. Misalnya kita ingin mendeteksi tren dalam 2 jam terakhir, maka kita bisa menggunakan Time Frame 15 menit dengan Moving Average periode 8. Demikian seterusnya.

trend bearish

(Baca Juga: Apa Yang Dimaksud Dengan Tren Forex)

Pada gambar di atas, garis Moving Average periode 8 pada time frame 15 menit menunjukkan garis yang menurun, bertepatan dengan munculnya harga dari pukul 07:30 hingga 09:30. Itu artinya, tren yang sedang terjadi pada EUR/USD dalam waktu 2 jam terakhir adalah Bearish. 

 

2. Penentu Nilai Tengah Harga

Di saat market cenderung Sideways, kita bisa menggunakan Moving Average dengan periode 200 di time frame rendah (misalnya 15 menit), sebagai nilai tengah yang nantinya bisa menjadi patokan bahwa harga akan bolak-balik menembus SMA200 tersebut. Pada gambar di bawah ini, kita memakai perpaduan antara indikator SMA dan Parabolic SAR untuk melihat nilai tengah harga yang sering muncul:

perpaduan MA dan parabolic Sar

(Baca Juga: Menggunakan Indikator Bollinger Band)

Bisa kita lihat kecenderungan harga untuk bolak-balik memotong SMA 200, sehingga bisa kita ambil patokan: apabila harga di atas SMA 200 dan Parabolic SAR terletak di atas candlestick, maka kita bisa lakukan Open Position Sell. Apabila harga di bawah SMA 200 dan Parabolic SAR terletak di bawah candlestick, maka kita bisa lakukan Open Position Buy.

 

3. Perpotongan Dua Moving Average sebagai Patokan untuk Masuk ke Market

Moving Average sangat efektif jika digunakan pada pasar yang sedang trending, tetapi akan mengalami sangat banyak Bad Signal saat pasar sedang Sideways. Karena itu, beberapa garis dikombinasikan untuk mendapat fungsi Moving Average yang maksimal. Salah satu metode yang sering digunakan adalah dengan memperhatikan perpotongan dua titik Moving Average.

mementukan masuk pasar dengan moving average

(Baca Juga: Dianggap Sinyal Akurat, Apa Itu Golden Cross Dan Death Cross)

Chart di atas adalah chart untuk pair AUD/USD pada time frame Daily dengan 2 SMA yang dipasang, yaitu SMA 20 (warna kuning) dan SMA 50 (warna merah). Nah, apabila SMA 20 memotong SMA 50 dari atas ke bawah, seperti tampak pada titik 1, berarti tren yang sedang terjadi cenderung turun. Dalam kondisi seperti itu, sebaiknya kita melakukan Open Position Sell.

Garis MA periode pendek yang memotong ke bawah, biasa disebut dengan Death Cross dan sering menjadi sinyal kuat bahwa pasar sedang Bearish. Sebaliknya, jika garis MA tersebut memotong MA periode panjang ke arah atas, maka namanya adalah Golden Cross dan dianggap sebagai sinyal Bullish.


Penerapan Fungsi Moving Average

Dapat disimpulkan, agar dapat memanfaatkan fungsi Moving Average dengan baik, trader bisa memahami dulu jenis-jenis MA dan keunggulan mereka. Fungsi Moving Average bisa dimanfaatkan di semua kondisi pasar, baik itu trending maupun sideways. Jika pasar trending, maka cukup perhatikan posisi MA terhadap harga. Apabila pasar sideways, maka gunakan SMA 200 sebagai patokan harga tengah. Selain itu, MA juga bisa digunakan untuk menentukan posisi entry, yakni dengan mengkombinasikan 2 MA dan melihat sinyal crossing-nya.

 

Pemahaman mengenai penggunaan fungsi Moving Average ini membutuhkan ketekunan belajar dan praktek. Manfaatkanlah akun demo yang Anda miliki, serta bertanyalah di forum tanya jawab Seputarforex untuk mendapat jawaban dari ahlinya.

Lulusan Sastra Inggris, menyukai dunia tulis menulis sejak SMP. Berpengalaman sebagai Purchasing Staff kontraktor dan industri manufaktur selama 3 tahun sebelum bergabung menjadi penulis di Seputarforex. Masih terus belajar mengenai dunia trading.


Rhydo P
dari analisa pake gabungan indikator sma 200, w%r, sama parabolic sar itu kan udah tau kapan open nya, trus kalo close ditentuin dimana?
Azar Afandi
Close posisi bisa diambil dari tp dibawah sma 200. Sma di kondisi sideways kaya begitu cocok buat support atao resistan. kalau dari contoh diatas sih jelas sma 200 jadi supportnya. Kalo tp pas dibawah sma 200 udah lumayan banyak pips yg bisa didapet.
Bambang Priyono
Sebelum entri ada baiknya untuk memastikan konfrimasi sinyal trading dari indikator-indikator yang disarankan, karena kondisi sideways bisa cukup membingungkan kalau samapai entri dengan sinyal trading palsu. Selain itu melihat tren secara garis besar pada timeframe yang lebih tinggi juga bisa membantu untuk mengetahui arah pergerakan yang sebenarnya.
Buyung
kl cm masang 2 grs sma dn trdng dr crosing 2 grs itu drmn kt tau kekuatan tren akan melemah jd kt tau kpn mesti exit market??
Bambang Priyono
Dari analisa pada dua garis MA biasanya semakin melebar jarak antara garis yang satu dengan yang lain akan semakin kuat juga trennya. Sebaliknya jika terlihat menyempit maka akan terjadi perpotongan yang menandakan akan terjadi tren di arah sebaliknya. Untuk memastikan kekuatan tren, akan lebih baik lagi kalau menggunakan oscillator juga, karena dari situ akan diketahui momentum pergerakan harga. Kalau sudah mendekati area-area overbought atau oversold bisa siap-siap untuk exit posisi.
Yudha
Moving average memang terkenal ya, saya suka set MA di 100 dan 200.
Intan Sf
wah, timeframe yang lebih besar ya. Biasanya pasang di pair mana pak?
Yudha
Semua pair bisa kak, kalau harga bergerak menyelam di bawah garis MA, itu biasanya pertanda trend bearish, bisa pasang Sell. Kalau harga bergerak di atas MA, itu biasanya pertanda bullish, bisa open posisi Buy.