OctaFx

iklan

Strategi Sederhana Untuk Scalping

185206

3 langkah yang perlu dilakukan yaitu menentukan arah trend dengan indikator EMA-200, menentukan momentum entry, lalu menentukan level exit sesuai dengan manajemen resiko.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Salah satu yang paling sulit bagi scalper sebelum entry adalah menentukan strategi. Strategi trading ada yang kompleks dan ada yang sederhana, dan membuat rencana untuk entry dengan strategi tertentu bagi scalper tidak harus kompleks. Artikel ini mencontohkan strategi trading yang sederhana dengan indikator CCI (Commodity Channel Index) untuk scalping. Hanya 3 langkah yang perlu dilakukan yaitu menentukan arah trend, menentukan momentum entry dengan indikator CCI, dan menentukan level exit sesuai dengan management resiko.

Menentukan Arah Trend

Scalper biasanya menggunakan time frame 1 menit hingga 15 menit. Untuk menentukan arah trend biasanya digunakan indikator exponential moving average (ema). Pada contoh NZD/USD berikut digunakan ema periode 200. Jika harga bergerak diatas garis kurva ema-200 maka diasumsikan trend sedang bullish dan trader akan menunggu peluang momentum untuk buy, sebaliknya jika harga bergerak dibawah ema-200 maka trader menunggu peluang sell.


Strategi Sederhana Untuk

 

Dari gambar di atas, tampak harga masih trending dengan kuat yang ditunjukkan oleh jarak antara penutupan harga dengan ema-200 yang makin lebar. Selain itu pergerakan harga juga membentuk level-level higher high (level high baru yang lebih tinggi dari level high sebelumnya) dan higher low (level low baru yang lebih tinggi dari level low sebelumnya) yang merupakan ciri pergerakan uptrend.

Momentum Entry Dengan Indikator CCI

Karena trading dengan time frame rendah, maka setelah mengetahui arah trend trader harus segera menentukan momentum entry sebelum momentum tersebut hilang dan trend berubah. Salah satu indikator yang bisa membantu menentukan momentum entry adalah CCI. Selain digunakan untuk mengetahui keadaan overbought dan oversold, indikator CCI juga menunjukkan siklus pergerakan harga atau saat-saat pergantian arah trend, yaitu ketika terjadi divergensi antara arah pergerakan harga dan arah pergerakan indikator.


Strategi Sederhana Untuk

Karena pada contoh ini pergerakan harga uptrend, maka trader akan menunggu terjadinya keadaan oversold untuk entry, yaitu ketika CCI berada dibawah level -100 seperti tampak pada gambar diatas. Sebaliknya untuk entry sell dilakukan hanya bila harga bergerak dibawah garis kurva indikator ema-200 dan indikator CCI menunjukkan keadaan overbought.

Level Exit Sesuai Dengan Manajemen Resiko

Manajemen resiko adalah hal yang krusial dalam scalping karena biasanya trader akan entry beberapa kali dalam sehari. Trader bisa menggunakan level ekstrem (tertinggi atau terendah) sebelumnya sebagai level stop loss, atau dengan menentukan level stop loss pada garis kurva itu sendiri. Risk/reward ratio tidak harus tinggi, tetapi usahakan lebih besar dari 1:1.

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Elvis
bagaimana saat grafiknya tidak menunjukkan tren yang kuat? harga di tf rendah kan lebih sering bergerak tidak beraturan, kalau arah trennya tidak bisa diperoleh dengan jelas apa bisa diteruskan saja untuk mencari momentum entri posisi?
Martin S
@ elvis:
Bisa, karena kondisi overbought dan oversold yang ditunjukkan oleh indikator CCI tersebut adalah kondisi ekstrem dari sebuah trend pada time frame tersebut. Mungkin kalau Anda berganti time frame keadaannya akan berbeda.
Roys Iskandar
Contoh entry trading scalping dari divergensi ada nggak ya? yang diatas diambilnya dari momentum oversold, gw sudah paham memang kalau dengan cara kayak gitu. Tapi kl dari divergensi, meskipun leading tp gw masih bingung darimana mau ambil titik entrynya
Martin S
@ Roys Iskandar:
Kalau sudah ketahuan jelas divergensinya, momentum entry bisa diambil dari time frame yang lebih rendah, yaitu tunggu hingga kondisi ekstremnya (overbought atau oversold). Sebagai referensi bisa baca: Sistem Trading Triple Screen

Alvino T
Memang ya, kalau dengan cci sinyalnya lebih jelas karena meskipun harga sedang trending pergerakan di indikator cci nya masih sejelas itu, sedangkan di rsi pergerakannya lebih kurang jelas untuk diambil sinyal masuknya...
Dan level ekstrem sebelumnya itu diambil darimana? apa dari cci nya atau dari level moving averagenya?

Martin S
@ Alvino T:
Maksudnya untuk menentukan stop loss: level tertinggi atau terendah diambil dari level resistance atau support terdekat, atau level tertinggi atau terendah bar sebelumnya. Bisa juga dari level kurva ema-200 tsb.
Febri Hasanudin
rata-rata cara trading dengan sistem diatas butuh waktu berapa lama?
maksudnya per posisi itu bisa terbuka untuk berapa lama? saya mengerti jika dengan cara diatas waktu terbuka posisinya mungkin menuruti hingga target harga sesuai manajemen resiko kena, tapi disini saya perlu perhitungan rata-ratanya, apa bisa dalam waktu menitan, jam, atau bahkan harian? karena saya ingin trading tapi tidak punya banyak waktu, jadi saya perlu perkiraan kira2 berapa lama waktu yang diperlukan untuk trading ini.
thanks
Martin S
@ febri hasanudin:
Untuk waktu opennya tergantung dari kondisi pasar, kalau volatilitas sedang tinggi biasanya target cepat kena. Untuk time frame 5 menit, katakan rata-rata 20 bar (kalau sedang profit) berarti sekitar 20x5 menit = 100 menit, atau sekitar 1 sampai 2 jam per trade. Kalau tidak punya banyak waktu memonitor Anda bisa menggunakan EA (Expert Advisor) atau script untuk exit.
Hanif Muslimin
Makasih gan atas saranx untuk teknik trading scalping ni. Sya punya pertanyaan, sejak sya baca artikel ini, sya jadi merasa penasaran dengan keberhasilan cara trading disana. Karena disana parabolic sar dan sma 200 digunakan untuk trading scalping pada kondisi pasar sideways. Menurut agan apa teknik seperti itu masuk akal dan bisa berhasil?
Martin S
@ Hanif Muslimin: Kalau pada artikel ini digunakan pada keadaan trending, dengan menggunakan ema 200 (bukan sma 200), dan tidak menggunakan parabolic SAR. Cara trading seperti pada artikel ini tentu sudah diuji oleh sumbernya dan bisa digunakan. Mungkin yang Anda maksud cara trading scalpingan yang lain pada keadaan sideways dengan sma 200 dan parabolic SAR. Kalau menurut saya pakai ema 200 lebih cepat responsnya dibanding sma 200, dan parabolic SAR untuk menentukan momentum entry, yaitu pada saat titik indikator parabolic SAR-nya berpindah tempat. Ketika harga bergerak diatas kurva moving average maka siap-siap sell kalau titik parabolic SAR-nya sudah pindah tempat keatas bar candlestick, dan sebaliknya ketika harga bergerak dibawah kurva moving average maka siap-siap buy kalau titik parabolic SAR-nya sudah pindah tempat dibawah bar candlestick. Secara teori tekniknya masuk akal, tetapi harus diback-test dulu pada pasangan mata uang yang Anda tradingkan, lihat berapa persentase profitnya.
Arba
Cara di atas apa bagus kl menggunakan tf h1 ke atas?
Martin S
@ Arba:
Kombinasi indikator di atas direkomendasikan untuk scalping karena telah diuji akurasinya. Jadi bisa digunakan di time frame 5 menit (M5), M15 dan juga M30.
Untuk time frame H1 ke atas tidak direkomendasikan menggunakan indikator CCI. Dalam hal ini trader biasanya menggunakan RSI periode 14 atau stochastic (14,3,3) untuk indikator oscillator. Menurut kebanyakan trader, RSI dan stochastic lebih akurat dalam melihat momentum dan divergensi.

Untuk indikator ema 200 bisa digunakan pada time frame H1 dan H4, tetapi pada time frame daily kebanyakan trader menggunakan acuan sma 200.
Baca juga: Trading Dengan 200 Day Moving Average