OctaFx

iklan

Harga Minyak Naik Pesat Di Tengah Krisis Suriah

Harga minyak Brent dan WTI mencapai tertinggi sejak Desember 2014 lantaran eskalasi krisis Suriah menjadi ketegangan internasional antara AS-Rusia.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak yang telah melonjak tiga hari beruntun hingga mencapai level tertinggi sejak Desember 2014, masih bertahan di puncak pada perdagangan sesi Asia hari Kamis ini (12/April) akibat eskalasi krisis Suriah. Namun demikian, laporan terkait produksi minyak AS menunjukkan peningkatan, sehingga memercikkan ketidakpastian mengenai keberlanjutan kenaikan harga minyak kali ini.

 

Harga Minyak Naik Pesat Di Tengah Krisis Suriah

 

Harga minyak tipe Brent meroket dari USD67.06 pada pembukaan awal pekan hingga mencapai high USD73.06 pada hari Rabu. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melesat dari USD61.94 pada pembukaan hari Senin ke high USD67.42 pada hari Rabu juga. Kedua harga minyak acuan internasional tersebut mencatatkan angka tertinggi sejak Desember 2014 lantaran eskalasi krisis Suriah menjadi ketegangan internasional antara AS-Rusia.

 

Trump Akan Kirim Misil Ke Suriah

Rusia dan Amerika Serikat bersitegang kembali, setelah Presiden Donald Trump mengirim tweet ancaman terkait Suriah. Kata Trump, "Rusia berikrar akan menembak jatuh semua misil yang ditembakkan ke Suriah. Bersiaplah Rusia, karena misil akan datang."

 


Meskipun Trump tidak memberikan sinyal spesifik mengenai kapan dan kemana misil AS akan ditembakkan, tetapi pesannya jelas: ia akan melakukan tindakan balasan setelah terjadinya serangan gas kimia yang mengakibatkan kematian sedikitnya 40 orang di Suriah. Akibatnya, pasar langsung panik terkait kemungkinan AS terlibat sebuah peperangan lagi di Timur Tengah. 


"Risiko Geopolitik melebihi kenaikan tak terduga dalam persediaan minyak (inventories) di Amerika Serikat," kata bank ANZ pada Reuters.

 

Produksi Minyak AS Makin Kencang

Pada hari yang sama dengan terlontarnya cuitan menggemparkan Trump, US Energy Information Administration melaporkan bahwa persediaan minyak mentah AS naik 3.3 juta barel ke angka total 428.64 juta barel. Padahal, sebelumnya diekspektasikan data tersebut akan menurun 0.6 juta barel.

Produksi minyak mentah AS juga mencapai rekor tinggi baru pada 10.53 juta barel per hari (bph) pekan lalu, memantapkan posisinya sebagai negara produsen minyak terbesar kedua di dunia. Saat ini, AS menghasilkan lebih banyak minyak mentah ketimbang Arab Saudi. Posisi AS hanya sejengkal di belakang Rusia yang mencatatkan output nyaris 11 juta bph.

Kabar mengenai peningkatan persediaan dan produksi minyak mentah AS sejatinya cenderung bearish bagi harga. Kekhawatiran mengenai krisis Suriah agak meredam pengaruhnya, tetapi ini bukanlah faktor yang akan bertahan lama jika tak ada langkah militer signifikan yang diambil Amerika Serikat dan sekutunya terkait Suriah. Apalagi, menyusul pernyataan Trump, staf Gedung Putih buru-buru merilis ralat, menyampaikan bahwa mereka masih mempertimbangkan semua opsi yang ada, serta belum tentu akan mengambil langkah agresif seperti meluncurkan misil

Saat berita dirilis, laju kenaikan harga minyak telah mengendur. Brent diperdagangkan di kisaran USD66.84, sedangkan WTI bergerak di sekitar USD66.84; keduanya di bawah high hari Rabu.

283207

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.