Advertisement

iklan

Harga Minyak Naik Seiring Kunjungan Putra Mahkota Saudi Ke AS

Harga Minyak naik sekitar 1 Dolar AS per barel dan masih terus mendaki, karena kunjungan Putra Mahkota Saudi ke AS memunculkan kekhawatiran baru.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga Minyak naik sekitar 1 Dolar AS per barel pada hari Selasa, dan masih terus mendaki di sesi Asia hari Rabu ini (21/Maret), meskipun kenaikan output Amerika Serikat masih membebani pasar. Saat berita ditulis, harga Minyak Mentah tipe Brent berada di kisaran USD67.55, sedangkan WTI di sekitar $63.66. Kedua harga Minyak acuan tersebut berada pada level tertinggi sejak akhir Februari lalu.

 

Mohammed bin Salman dan Donald Trump

 

Pada hari Selasa, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman tiba di Washington dalam rangka kunjungan negara. Namun, lawatan yang dilakukan di tengah gonjang-ganjing soal kebijakan luar negeri AS ini memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan mereka akan menekan AS untuk menerapkan kembali sanksi atas Iran. Pasalnya, Mohammed bin Salman dikenal sebagai sosok yang reformis di dalam negeri dan banyak merilis pembaruan untuk emansipasi wanita, tetapi cenderung "gila perang" dalam menyikapi hubungan luar negeri, serta pernah menyatakan akan mengupayakan untuk memiliki senjata nuklir juga jika Iran masih memilikinya.

"Kehadiran Putra Mahkota Saudi di Washington dan agendanya untuk meningkatkan tekanan atas Iran, bagi saya, telah menjadi penggerak penting (harga) minyak, yang meningkat kuat," kata Greg McKenna, pimpinan pakar strategi pasar di AxiTrader, sebagaimana dikutip oleh Reuters.

Menurut analis lainnya, penunjukan Mike Pompeo yang agresif sebagai Menteri Luar Negeri AS baru menggantikan Rex Tillerson, merupakan risiko besar bagi pasar minyak. Hal ini diungkapkan dalam catatan analis bank Citi, "Nominasi Mike Pompeo sebagai Menteri Luar Negeri AS...meningkatkan kemungkinan gangguan perdagangan minyak."

Berdasarkan analisa terbaru oleh lembaga konsultan energi FGE, apabila AS menerapkan sanksi atas Iran lagi, maka akan mengakibatkan penurunan ekspor sebanyak sekitar 250,000-500,000 barel per hari (bph) per akhir tahun ini.

Selain itu, para analis menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi menyangga harga Minyak karena tetap kokohnya permintaan pasar. Salah satu indikasinya nampak dari data inventori yang dirilis American Petroleum Institute (API) tadi pagi. Data tersebut menunjukkan penurunan persediaan minyak AS sebanyak 2.7 juta barel dalam sepekan yang berakhir tanggal 16 Maret.

282920

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.