OctaFx

iklan

Menggali Dampak Virus Corona Terhadap Ekonomi Dan Mata Uang

Ada empat sektor utama yang mengusung dampak wabah virus Corona COVID-19 dari China ke berbagai negara di belahan dunia berbeda.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Wabah virus Corona Wuhan -yang baru-baru ini mendapatkan nama baru COVID-19- merupakan momok yang sedang membayangi dunia. Statistik Worldometer menunjukkan sudah terjadi 71441 kasus secara global, dengan 1777 korban meninggal dan 11214 korban pulih per hari ini (17/Februari). Hampir 90 persen kasus terjadi di Wuhan, ibukota provinsi Hubei, sedangkan sisanya tersebar di kawasan lain di China dan mancanegara.

Dampak virus Corona bukan hanya dalam bidang kesehatan dan keseharian masyarakat saja. Efeknya diperkirakan juga akan menghantam perekonomian China dan banyak negara lain. Sejauh mana dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh wabah virus Corona ini? Berikut proyeksi yang dapat disimpulkan sejauh ini.

Dampak Wabah Virus Corona

 

Dampak Virus Corona Terhadap Perekonomian China

Tak dapat dipungkiri, China merupakan negara yang terpukul paling parah oleh wabah virus Corona. Hingga saat ini, beberapa kota di China masih diisolasi. Karantina dan larangan bepergian terus diberlakukan. Sejumlah pabrik belum beroperasi normal hingga sekarang. Operasional perusahaan ritel juga dibatasi, kecuali layanan delivery. Hal ini berpotensi mengakibatkan gangguan terhadap rantai pasokan (supply chain) berbagai perusahaan multinasional, mulai dari produsen ponsel hingga mobil.

Bank sentral China telah memangkas suku bunga pinjaman jangka menengah dan menggelontorkan stimulus demi menanggulangi dampak wabah virus Corona. Pemerintah China pun mengumumkan rencana untuk memangkas pajak tertarget khusus untuk perusahaan-perusahaan yang terdampak oleh virus. Akan tetapi, perlambatan pertumbuhan ekonomi tak terhindarkan.

Laporan Reuters tadi pagi menyebutkan bahwa Moody's merevisi turun forecast pertumbuhan GDP China 2020 menjadi 5.2 persen saja. Padahal, China perlu tumbuh 5.7 persen demi mencapai target melipatgandakan GDP tahun ini. China juga merupakan salah satu tonggak ekonomi dunia, sehingga kondisi pelemahan ekonominya memengaruhi banyak sektor secara global.

 

Dampak Virus Corona Terhadap Perekonomian Global

Imbas lintas batas dari dampak wabah virus Corona terhadap perekonomian China, akan merembet dari beberapa sektor ini:

  1. Rantai pasokan dalam produksi elektronika dan otomotif, khususnya Jepang dan Zona Euro. Kedua kawasan kini berada di tepi jurang resesi, setelah mencetak laju pertumbuhan paling lambat sejak krisis ekonomi terakhir.

  2. Pasar komoditi, khususnya bijih besi dan minyak mentah. Pertumbuhan ekonomi China yang pesat merupakan sumber demand utama bijih besi dan minyak. Reduksi penerbangan global juga bakal menghantam permintaan minyak dunia. Dua negara asal mata uang mayor yang terdampak adalah Australia dan Kanada.

  3. Investasi bisnis, khususnya negara-negara berkembang di Asia Tenggara seperti Indonesia. Selama belum ada bukti bahwa wabah telah tertanggulangi, maka investor kemungkinan bakal terus menunda penanaman modal. Padahal, investasi asing berkontribusi vital dalam pertumbuhan kawasan.

  4. Pariwisata, khususnya negara-negara lain di Asia. Negara seperti Singapura dan Thailand yang meraup pendapatan besar dari turis asal China, berpotensi mengalami perlambatan ekonomi signifikan.

Berapa angka konkrit dari dampak virus Corona secara global? Belum ada yang dapat memastikannya untuk sementara ini. Banyak pihak hanya dapat memprediksi.

Sejak wabah SARS pada tahun 2002/2003, kontribusi China telah meningkat 300 persen hingga 17 persen dari total ekonomi global. Faktor ini memperbesar skala dampak wabah. Menurut Warwick McKibbin, seorang profesor bidang ekonomi di Australia National University, dampak global wabah virus Corona bisa mencapai USD120 Miliar, atau tiga kali lipat dibanding dampak USD40 Miliar yang ditimbulkan oleh SARS.

Proyeksi Centre for Economics and Business Research (CEBR) mengkalkulasi dampak domino wabah setara dengan sekitar 0.08 persen hingga 0.25 persen dari GDP global. Oxford Economics juga memangkas prakiraan pertumbuhan global tahun ini dari 2.5 persen menjadi 2.3 persen; terendah sejak krisis finansial 2008.

 

Dampak Virus Corona Terhadap Mata Uang dan Komoditi

Melihat luasnya proyeksi jangkauan dampak domino dari wabah virus Corona, sentimen risk-off langsung melejit di pasar keuangan global. Bursa saham banjir tinta merah, pasar komoditi melempem, dan beragam mata uang mengalami pergolakan.

Citibank memangkas estimasi harga minyak mentah Brent untuk kuartal I/2020 dari USD69 menjadi USD54 per barel. Mereka bahkan mensinyalir harga minyak mentah dunia bisa jatuh hingga USD47 per barel. Pasalnya, China merupakan importir minyak mentah terbesar dunia.

Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar lebih tertarik untuk berinvestasi pada aset-aset safe haven dan aset-aset berlikuiditas tinggi. Termasuk diantaranya Yen Jepang, Gold, dan obligasi pemerintah AS. Franc Swiss dikenal sebagai salah satu aset safe haven tradisional, tetapi posisinya berada pada titik krusial yang tergolong sangat riskan untuk spekulasi pasar.

Sebaliknya, aset-aset berisiko lebih tinggi dan memiliki keterbatasan likuiditas cenderung dihindari. Antara lain saham, mata uang negara berkembang di Asia, Dolar Kanada, dan Dolar Australia. Dolar Australia merupakan mata uang mayor yang rontok paling awal ketika berita mengenai wabah mulai beredar. Saat ini, AUD/USD sudah mulai pulih kembali, tetapi masih dalam kisaran terendah sejak Oktober 2019.

Menurut riset Financial Times, lima negara yang paling rentan terdampak oleh perlambatan ekonomi China adalah Korea Selatan, Hong Kong, Thailand, Malaysia, dan Jepang. Destinasi wisata seperti Prancis juga bakal terimbas. Perekonomian Hong Kong bisa menjadi yang paling parah; pertumbuhan sudah digerogoti oleh demonstrasi politis tahun lalu, sehingga saat ini tercatat mengalami resesi yang berpotensi memburuk. Perekonomian Jepang dikhawatirkan bakal resesi lagi, tetapi nilai tukar mata uangnya malah tertopang oleh permintaan safe haven.

Dibandingkan semua negara asal mata uang mayor, dampak paling rendah dialami oleh Amerika Serikat. Sebabnya, skala ekonomi domestik AS terlalu besar dan lebih dominan dibandingkan pengaruh eksternal apa pun. Ekonom Gedung Putih memperkirakan dampak wabah terhadap pertumbuhan GDP AS kuartal I/2020 hanya sekitar 0.2 persen. Para pejabat bank sentral AS juga menilai wabah tidak akan berdampak signifikan terhadap perekonomian. Singkat kata, Dolar AS merupakan mata uang paling bullish dalam situasi ini.

Meski demikian, pemerintah dan bank sentral di berbagai negara tentu tidak akan tinggal diam. Banyak bank sentral yang telah mengubah bias kebijakan dari dovish menjadi netral pada awal tahun ini, tetapi mereka bisa berubah pikiran dalam 1-2 bulan ke depan setelah menerima laporan dampak wabah yang lebih akurat. Pemerintah berbagai negara juga diperkirakan bakal menggelontorkan stimulus fiskal dalam bentuk pemangkasan pajak dan peningkatan anggaran belanja negara. Sinyal support apa pun dari pihak berwenang dapat menopang nilai tukar mata uang terkait.

292028

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.

Gery Wisudawan
Hmm.. Euro kok ikutan melempem ya? Apa dampak virus Corona bakal efek domino ke sana juga ya?
A Muttaqiena
Sebagaimana telah dipaparkan dalam artikel di atas, Zona Euro termasuk kawasan yang terdampak imbas wabah virus Corona. Karena China berperan penting dalam rantai pasokan industri elektronik dan otomotif yang merupakan ujung tombak industri Zona Euro. China juga termasuk pasar produk elektronik dan otomotif utama.
Asri
kalau diIndonesia, bagaimana pengaruh wabah ini dengan jumlah uang beredar bu?