Advertisement

iklan

Rusuh Libya Dorong Harga Minyak Menanjak

Produksi minyak dari ladang-ladang terbesar Sharara dan Wafa di Libya Barat diblokir oleh protes bersenjata, hingga output nasional merosot 20 persen.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Pada Rabu pagi ini (29/3), harga minyak terpantau naik lebih tinggi, memperpanjang gain yang telah diperoleh di sesi perdagangan tadi malam. Komentar positif dari Iran meningkatkan ekspektasi pasar akan perpanjangan masa pemangkasan output oleh produsen-produsen minyak yang terhimpun dalam OPEC, sementara pasar juga bereaksi pada kabar ricuh di ladang minyak Libya.

 

Ladang Minyak Libya

 

Harga kontrak berjangka Brent naik 15 sen ke angka $51.48 dari harga penutupan tadi malam, sedangkan West Texas Intermediate menanjak sekitar 20 sen ke sekitar $48.57 per barel. Kedua harga minyak acuan internasional tersebut telah naik lebih dari 1 persen pada hari Selasa.

 

Output Libya Turun 20%

Menurut narasumber anonim dari National Oil Corporation (NOC), produksi minyak dari ladang-ladang terbesar Sharara dan Wafa di Libya Barat diblokir oleh protes bersenjata, hingga output nasional merosot 20% atau sebanyak 252,000 barrels per hari (bph). National Oil Corporation (NOC) merupakan perusahaan nasional Libya yang mengelola industri perminyakan domestik.

"Pertanyaan pentingnya bagi pasar yaitu apakah ini akan menjadi gangguan (produksi) berkepanjangan atau tidak," kata Richard Mallinson, seorang analis di Energy Aspects Ltd. London, dalam email yang dikutip Bloomberg,"Situasi politik dan keamanan masih sangat tidak stabil dan karenanya saya tak terkejut melihat output Libya terus berfluktuasi akibat isu-isu seperti ini."

"(Protes bersenjata di Libya) itu, bersama dengan Menteri Perminyakan Iran mengatakan kemungkinan akan ada perpanjangan kesepakatan pemangkasan produksi, membantu Crude Oil reli semalam," ungkap Greg McKenna, Kepala Pakar Strategi Pasar di broker AxiTrader, pada Reuters.

 

Rebutan Pangsa Pasar 

Sebagaimana diketahui, Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), bersama dengan beberapa negara produsen lainnya termasuk Rusia, telah menyetujui pemangkasan produksi sebanyak nyaris 1.8 juta bph dalam periode Januari-Juni 2017. Namun, limpahan surplus yang telah menyeret harga jatuh sejak pertengahan 2014 masih terus menggembung.

Pasalnya, meski sebagian produsen minyak menahan diri, tetapi sebagian produsen lainnya yang tak terlibat dalam kesepakatan tersebut justru memanfaatkan situasi untuk menggenjot output dan merebut pangsa pasar baru. Di Amerika Serikat khususnya, kiriman minyak ke China melonjak hingga negeri itu menjadi target ekspor minyak terbesar ketiga pada 2016, naik dari urutan kesembilan pada tahun sebelumnya.

Sehubungan dengan dinamika ini, negara-negara OPEC mengambil langkah melepas pasar minor mereka dan "melindungi" pasar utama. Sebagaimana yang dilakukan Saudi dengan mereduksi ekspor ke AS, sembari menaikkan kiriman ke Asia. Akan tetapi, terlepas dari perang rebutan pangsa pasar itu, surplus yang masih terus membengkak dinilai akan membutuhkan perpanjangan kesepakatan jika para produsen minyak sungguh menginginkan harga meningkat ke atas ambang $50 per barel.

278275

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.

Arief Rachman
Minyak minggu depan Jual atau beli?
Seputarforex
Untuk rekomendasi jual beli minyak, Anda bisa tengok di bagian analisa minyak.