Advertisement

iklan

Trump Akan Katrol Pajak BBM, Harga Minyak Makin Merana

Apabila pajak atas bahan bakar minyak vital ini dinaikkan, maka berpotensi dampak luas terhadap pengeluaran rumah tangga AS dan permintaan BBM.

Xm

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak selip lebih dari satu persen pada sesi perdagangan hari Senin dan masih terperosok di level rendah pada perdagangan hari Selasa pagi ini (2/5). Libya dilaporkan mencapai tingkat produksi tertingginya sejak tahun 2014, sementara peningkatan pengeboran minyak shale Amerika Serikat terus mengimbangi pemangkasan output yang dilakukan oleh produsen minyak lainnya. Tanda-tanda lemahnya permintaan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk kendaraan maupun industri pun makin membebani pergerakan harga minyak, khususnya di China dan AS.

 

Trump Akan Naikkan Pajak BBM

 

Saat berita ini ditulis, harga minyak mentah berjangka Brent masih bertahan di kisaran $51.45 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi harga acuan minyak AS telah anjlok hingga kisaran $48.73 per barel.

 

Upaya OPEC Makin Tumpul

Perusahaan Minyak Nasional Libya menyatakan bahwa produksi telah naik hingga tembus 760,000 barel per hari (bph), tertinggi sejak Desember 2014, dan mereka berkeinginan untuk terus menggenjot output. Negara anggota OPEC di Afrika ini telah dikecualikan dari kesepakatan pemangkasan output, sehubungan dengan konflik bersenjata yang terus menghantui kawasannya.

Di sisi lain, para pengebor minyak di AS dilaporkan menambah sembilan sumur aktif lagi pekan lalu, dalam laporan pekanan yang dirilis Baker Hughes. Karenanya, total oil drilling rigs naik ke jumlah tertinggi sejak April 2015.

Hal-hal tersebut kian menumpulkan upaya OPEC dan sejumlah negara produsen minyak lainnya untuk menyusutkan limpahan surplus serta menyeimbangkan supply dan demand di pasar minyak. Apalagi, bermunculan indikasi akan melambatnya permintaan.

 

Permintaan Dua Importir Besar Terindikasi Terkendala

PMI Manufaktur Caixin yang memantau iklim industri China di bulan April hanya mencapai angka 50.3, terendah dalam tujuh bulan sekaligus lebih lemah dibanding ekspektasi 51.2. Indeks PMI China versi resmi pun jatuh ke level terendah enam bulan pada angka 51.2 di bulan April. Padahal, China merupakan negeri importir minyak terbesar kedua dunia.

Sedangkan pada hari Senin, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa ia akan mempertimbangkan untuk menaikkan pajak federal atas Gasolin guna mendanai pembangunan infrastruktur.

"Ini adalah sesuatu yang tentu akan saya pertimbangkan," kata Trump pada kantor berita Bloomberg,"Para pengemudi Truk telah mengatakan bahwa mereka ingin saya melakukan sesuatu asalkan uangnya ditandai untuk (anggaran) jalan raya."

Apabila pajak atas bahan bakar minyak vital ini dinaikkan, maka berpotensi dampak luas terhadap pengeluaran rumah tangga AS dan permintaan BBM, karena harga di tingkat konsumen bakal meningkat.

278738

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.