Harga Minyak Terkoreksi Setelah Puncaki Level Tertinggi 2019

Koreksi tipis harga minyak dipicu oleh aksi profit-taking investor, sebagai bentuk antisipasi menjelang pembicaraan dagang lanjutan AS-China di Washington minggu ini.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Harga minyak turun dari level tertinggi di sepanjang 2019 pada perdagangan hari Selasa (19/2), karena investor melakukan aksi profit-taking di tengah kencangnya kekhawatiran pasar terhadap prospek perlambatan ekonomi global tahun ini. Selain itu, masalah dagang AS-China juga masih membayangi fundamental minyak. Meskipun demikian, harga minyak sejatinya masih ditopang oleh pengetatan output oleh OPEC dan negara mitra sejak bulan lalu.

Harga Minyak Terkoreksi Setelah Sentuh

Koreksi tipis minyak mentah tercermin dari pergerakan minyak Brent yang dibuka pada kisaran $66.44 per barrel, setelah sempat menyentuh level tertinggi 2019 di harga $66.84 pada sesi perdagangan hari Senin kemarin. Pada pukul 10:57 WIB, minyak Brent sudah semakin turun dan berada di kisaran $66.24 per barrel. Kondisi serupa juga dialami minyak WTI, yang saat ini berada di level $55.73 per barrel, melemah dari level tertinggi tahun ini pada kisaran $56.32 per barrel.

 

Investor Masih Nantikan Hasil Pembicaraan Dagang AS-China

Pelaku pasar tidak ingin mengambil risiko terlalu jauh dengan menahan posisi Long terhadap minyak, mengingat pembicaraan perdagangan AS-China akan kembali dijadwalkan di Washington. Meski pertemuan di Beijing minggu lalu membuahkan hasil yang cukup positif, investor melihat masih ada kemungkinan terjadi kebuntuan pada lanjutan pembicaraan dagang AS-China pekan ini.

Perlu diketahui bahwa Wakil Perdana Menteri China berserta kepala negosiator perdagangan, Liu He, dijadwalkan akan kembali bertemu dengan perwakilan dagang AS, Robert Lighthizer, untuk kembali menegosiasikan masalah perang dagang, sebelum batas akhir 1 Maret mendatang.

"(Upaya) mengatasi ketegangan perdagangan AS-China adalah kunci untuk menghidupkan kembali prospek pertumbuhan ekonomi global. Dengan mempertimbangkan prospek ekonomi saat ini dan Supply Demand di pasar, kami memperkirakan harga minyak Brent akan berada di kisaran $50 -$70 per barel," kata Bank of America Merrill Lynch dalam sebuah catatan.

Harga minyak diproyeksikan akan kembali naik apabila pembicaraan dagang AS-China mencapai kesepakatan yang menandai berakhirnya perang dagang. Selain itu, realisasi rencana Arab Saudi yang akan kembali memangkas output hingga 500 ribu bph pada bulan Maret mendatang juga digadang-gadang sebagai katalis positif.

287444

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.