OctaFx

iklan

Ketegangan Meningkat Di Timur Tengah, Harga Minyak Tergelincir

Para trader mengatakan bahwa mereka tengah mengamati meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, sehingga cenderung berhati-hati dalam bertransaksi.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Pada perdagangan kemarin, harga minyak mulai melandai dari level tertingginya sejak Juli 2015, sejalan dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Penurunan terus berlanjut pada sesi Asia hari Rabu ini (8/November) setelah rilis laporan US Crude Oil Inventories oleh lembaga American Petroleum Institute (API). Brent tercatat -0.09% ke kisaran $63.65 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) -0.31% ke $57.05 per barel.

Harga Minyak Tergelincir

 

Peningkatan Risiko Bentrok Iran-Saudi

Para trader yang diwawancarai Reuters mengatakan bahwa mereka tengah mengamati meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, sehingga cenderung berhati-hati dalam bertransaksi.

"Pengunduran diri Perdana Menteri Libanon, Saad Hariri, dan peluncuran misil di Riyadh oleh kelompok Houthi Yaman yang pro-Iran, meningkatkan risiko konflik regional," ungkap lembaga konsultan risiko politik, Eurasia Group. Senada dengan itu, ANZ Bank pun pada hari Rabu ini mengatakan, "Para trader mundur sejengkal untuk mengevaluasi dampak dari peningkatan risiko geopolitik baru-baru ini."

Pengunduran diri Saad Hariri dari kursi Perdana Menteri Libanon diumumkan di Riyadh, ibukota Arab Saudi, pada hari Sabtu. Dalam pidato pengunduran dirinya, Hariri menyalahkan tindakan Iran dan Hezbollah menebarkan chaos, kerusuhan, dan kerusakan di kawasan Timur Tengah. Namun demikian, fakta bahwa ia mengumumkan pengunduran diri dari Arab Saudi, dalam beberapa hari kemudian dinilai oleh banyak pihak sebagai langkah pertama intervensi Saudi dalam perpolitikan Libanon.

Kemudian pada hari Minggu, Angkatan Udara Saudi menghadang misil balistik yang ditembakkan ke arah Riyadh. Koalisi militer yang dipimpin Saudi menyatakan bahwa misil yang diluncurkan oleh milisi Houthi dari Yaman tersebut, dibuat di Iran. Tak lama kemudian, Iran menepis tuduhan pihaknya memasok persenjataan untuk milisi Houthi, sembari berbalik menuduh Saudi sebagai biang peperangan di Yaman.

Terkait dengan ini, pada Selasa malam, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, melontarkan pernyataan tegas dalam perbincangan via telepon dengan Menlu Inggris, Boris Johnson. Katanya, "Keterlibatan rezim Iran dalam mensuplai milisi Houthi dengan misil telah dianggap agresi militer langsung oleh rezim Iran dan dapat dipertimbangkan sebagai aksi perang terhadap Kerajaan (Arab Saudi)."

Menurut The New York Times, tuduhan ini meningkatkan risiko bentrokan militer antara Iran dan Saudi, sementara mereka sudah bertempur dalam proxy war di Yaman dan Syria, serta berebut pengaruh politik di Irak dan Libanon. 

 

Pasar Nantikan Laporan EIA

Di sisi lain, data persediaan minyak mentah AS pekanan yang dirilis API menunjukkan penurunan sebesar 1.562 juta barel. Angka tersebut lebih rendah dibanding ekspektasi penurunan sebesar 2.7 juta barel yang diharapkan oleh para analis. Persediaan Gasoline pun hanya menurun 520,000 barel, padahal diekspektasikan minus 2.176 juta barel.

Nanti malam, pasar akan menantikan dapat persediaan minyak mentah AS pekanan versi Energy Information Administration (EIA). Laporan API dan EIA seringkali bersimpangan, karena sumber data yang berbeda.

280941

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.