iklan

Kapan Buy, Kapan Sell? (Part 2)

Penulis

Kapan harus buy dan sell bisa diketahui dengan mencermati trend, dan selalu siaga saat breakout akan terjadi. Simak ulasan selengkapnya di artikel berikut ini.

iklan

iklan

Dalam artikel sebelumnya telah dibahas mengenai kapan harus buy dan sell. Ada 4 acuan yang perlu diperhatikan, yakni gunakan prinsip follow the trend, tentukan apakah entry Anda akan lebih cenderung ke teknikal atau fundamental, berapa lama durasi hold posisi, dan jangan malas membaca berita mengenai ekonomi global.

Disimpulkan dalam artikel sebelumnya bahwa kita hanya perlu mengikuti kemana trend sedang berjalan. Kita bisa memilih buy jika menurut analisa, trend pasar akan naik (dan terus naik). Sementara itu, kita dapat memilih sell jika menurut analisa, trend akan turun (dan terus turun).

Apakah hanya itu saja yang harus diperhatikan? Tentu tidak. Masih ada lagi beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan kapan harus buy dan sell.

 

5. Cermati Awal Trend

Untuk bisa mengidentifikasi kapan harus buy dan sell, Anda harus benar-benar cermat dalam menentukan awal trend harga. Apakah Anda tipe trader yang masuk saat trend sedang berjalan, atau di awal trend tersebut dimulai? Opsi terbaik sebenarnya adalah masuk di awal trend. Bukannya lebih enak seandainya kita tahu lebih awal pergerakan dari sebuh trend, sehingga kita bisa "menaiki" trend tersebut dari awal hingga akhir? 

Masuk di tengah-tengah trend yang sedang berjalan, ibarat kita melompat naik ke bus yang sedang berjalan. Belum tentu nanti setelah Anda masuk, trend-nya akan terus berjalan. Bagaimana jika ternyata trend tersebut sudah berakhir, atau tiba-tiba bergerak melawan entry posisi Anda? Hal ini bisa membuat Stop Loss cepat tersentuh.

kapan harus buy dan sell

(Baca juga: Indikator-Indikator Yang Bisa Memprediksi Arah Trend)

Pertanyaanya, bisakah kita menentukan kapan sebuah trend akan bermula? Bisa, ada banyak cara, salah satunya yakni menerapkan divergence trading. Teknik trading ini mengutamakan konsep Counter-Trend, atau trading berlawanan arah dengan trend yang berlangsung saat ini. Dengan mengetahui kapan sebuah trend akan berbalik arah, kita akan terhindar dari telat masuk trend. Ditambah lagi, ini bisa mencegah kemungkinan yang lebih parah, yakni salah masuk (pilih SELL) di bagian lembah chart. 

Ada banyak indikator yang bisa dipilih untuk strategi divergence trading ini, antara lain Moving Average Convergence/Divergence (MACD), Bill Williams’ Awesome Oscillator, Relative Strength Index (RSI), Commodity Channel Index (CCI), Indikator DeMarker, Stochastic Oscillator, dan lain sebagainya. Dengan menggunakan beberapa indikator tersebut, kita akan bisa mengidentifikasi kapan sebuah trend akan melambat dan berpotensi berbalik arah.

 

6. Siaga, Sideways Biasanya Berakhir Dengan Breakout

Kondisi sideways bisa pula dijadikan acuan kapan harus buy dan sell. Trend ini biasanya diakhiri dengan breakout, dimana harga melejit naik atau menukik tajam. Jadi saat pasar dalam kondisi sideways, amati baik-baik pergerakan harga di lembah dan puncaknya. Istilah kerennya adalah memperhatikan posisi high and low. Dari sini, kita akan bisa mengidentifikasi kekuatan trend akan bullish atau bearish. Contoh penerapan penggunaan sideways untuk melihat kapan buy dan sell dalam forex adalah sebagai berikut:

kapan buy dan sell breakout

(Baca juga: Apa Itu Support Resistance)

Dua patokan dasar untuk kondisi harga yang sedang sideways adalah:

  • Buy di lembah (saat harga di Support).
  • Sell di puncak (saat harga di Resistance).

Periode sideways biasanya akan berakhir setelah harga berhasil menembus salah satu garis Support atau Resistance. Jika yang tertembus adalah Support, maka harga biasanya akan turun tajam, sementara apabila Resistance yang di-breakout, maka harga cenderung menguat pesat. Dari sini, maka strategi entry yang dilakukan adalah buy ketika harga terkonfirmasi menembus Resistance, atau sell ketika harga sudah tervalidasi breakout dari Support.

Yang perlu diperhatikan, jangan sampai kita terjebak False Breakout. Hal ini bisa membuat kita salah entry menggunakan strategi breakout, padahal harga sebenarnya masih akan berlanjut dalam kondisi sideways.

 

Akhir Kata

Kini, kita telah mengetahui apa saja hal-hal yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi kapan buy dan sell dalam forex. Apapun posisi yang diambil, selalu utamakan Money Management yang baik, agar kekuatan margin tetap terjaga dan terhindar dari MC (Margin Call). Jangan pula terjebak dengan rasa percaya diri yang berlebihan. Terlalu gegabah hantam buy saat trend naik dan hantam sell ketika trend turun bisa berakibat fatal. Jangan sok yakin dulu di depan lembah, who knows kalau ternyata di depan lembah itu bukan gunung, melainkan jurang yang sangat dalam dan menyakitkan.

 

Selain mengamati break harga dari Support Resistance, ada banyak cara dan tips yang perlu diperhatikan ketika menggunakan strategi breakout. Sebagai referensi, Anda juga bisa mengintip strategi trading breakout ala Kathy Lien.

62847
Penulis

Awalnya, Greenpips merupakan ibu rumah tangga biasa. Namun, kemudian mengenal forex di perguruan tinggi, dan setelah itu memutuskan membuat tesis mengenai Expert Advisor. Paling suka menggunakan Fibonacci dalam trading.

Ratna Pratikno

Beresiko banget ini mah, beli pas harga di puncak, dan sell pas harga di lembah... untung2an ini namanya, iya kalau setelah pasang beli di puncak, harganya kemudian turun, klw harganya malah naik gmn? yg ada kita malah rugi besar. Kecuali klw agan sepintar Borish dan Jamie. Mau open position dimanapun, lembah atau puncak, grafik seolah bergerak sesuai apa yang di pikiran mereka... 

Jayadi

Trading dengan cara Buy di Puncak dan Sell di lembah ini biasanya dikaitkan dengan trading dengan pola Breakout. Dan bukan untung-untungan kok mbak. Ada cara dan strateginya sendiri.


Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone