Strategi Pyramiding Guna Memperbesar Keuntungan Dalam Forex

97909

Strategi Pyramiding merupakan salah satu cara memperbesar keuntungan dalam trading forex. Namun, bagaimana cara menerapkan strategi tersebut dengan aman?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Kita akan membahas mengenai penambahan posisi trading ketika harga bergerak sesuai prediksi (sedang dalam posisi untung) tanpa memperbesar resiko. Cara ini disebut dengan "scale-in" atau "strategi pyramiding". Pada prinsipnya, dengan cara ini kita membuka posisi baru sebagai tambahan pada posisi kita sebelumnya yang sudah untung dan masih dalam keadaan open, tanpa memperbesar resiko, bahkan bisa tanpa resiko, serta menambah potensi keuntungan kita. Acapkali strategi pyramiding bisa berjalan dengan baik ("scale-in" atau "pyramiding" bisa diartikan dengan penambahan posisi trading).

Pyramiding

Ada ungkapan "cut kerugian sekecil mungkin dan biarkan keuntungan sebesar mungkin", tapi bagaimana kita menerapkannya? Di sini akan dibahas bagaimana strategi pyramiding dengan benar dalam trading forex, sehingga bisa memaksimalkan keuntungan.

 

Cara Aman Pyramiding dalam Trading Forex

Pada dasarnya, ada dua cara untuk menambah posisi pada suatu posisi trading yang sedang untung dan masih open (pyramiding):

  1. Cara kurang bijak: scale-in ke posisi trading, tetapi tidak merubah level Stop Loss ke atas atau ke bawah untuk memperkecil resiko sebelumnya, sehingga malah bisa menambah resiko yang semestinya kita hindari.
  2. Cara smart: scale-in ke posisi trading pada level yang telah kita tentukan, sembari mengubah-ubah level Stop Loss setiap kali kita masuk posisi baru, sehingga resiko kita tidak akan pernah lebih dari yang telah kita tentukan, misalnya kita namakan 1R (1R=besarnya resiko per trade).

Satu hal perlu diketahui dalam menggunakan strategi pyramiding: jangan anggap kita harus melakukan pyramiding, hanya karena ada kesempatan untuk scale-in pada posisi trading yang sedang untung. Cara ini tidak selalu mulus bisa berjalan dengan baik. Pada umumnya, kita bisa menggunakan cara pyramiding ini bila trend pergerakan harga pasar sangat kuat, atau pada pergerakan harga intraday yang kencang. Tetapi jika keadaan market sedang ranging (bergerak terbatas dalam range tertentu) atau trending tapi cenderung choppy, trend-nya lemah dan meragukan; maka tidak dianjurkan menggunakan pyramiding.

Karena kita akan membuka posisi-posisi baru, maka kalau pergerakan harga pasar sesuai prediksi, breakeven point keseluruhan posisi tersebut tentu akan semakin mendekati harga pasar saat ini (running price). Untuk meminimalkan kerugian jika ternyata harga bergerak berlawanan, kita bisa merubah level Stop Loss posisi kita sebelumnya, agar resiko 1R yang telah ditentukan tidak bertambah. Banyak trader menemui kesulitan ketika menggunakan strategi pyramiding, karena tidak merubah level Stop Loss-nya untuk mengurangi resiko.

Sebagai contoh, perhatikan EUR/USD dalam pergerakan downtrend seperti pada gambar berikut :

Pyramiding
Kita lakukan sell pada harga 1.2550. Terlihat jelas bahwa 1.2625 adalah level kuat dan bisa dianggap sebagai key level, sehingga kita bisa menentukan Stop Loss di atas level ini, misalnya di 1.2650. Kita selalu dianjurkan untuk memasang Stop Loss terlebih dahulu sebelum menentukan target keuntungan, karena risk management sebetulnya adalah hal paling penting dalam trading forex. Kita tidak akan pernah memperoleh keuntungan memadai tanpa menerapkan risk management dengan benar pada setiap posisi trading kita.

Di sini tidak tampak level Support signifikan kecuali level 1.1900 pada periode sebelumnya (bisa dilihat pada chart weekly EUR/USD), sehingga kita bisa leluasa untuk menentukan target profit lebih besar sambil memprediksi apakah trend akan berbalik. Misalkan kita tentukan resiko sebesar $200, dengan open 2 mini lot pada level 1.2550, maka Stop Loss kita adalah 100 pip. Resiko kita: 100 pip X 2 mini lot (1 mini lot=$1 per pip)= $200

Kita tentukan risk/reward ratio sebesar 1:3, berarti target profitnya 300 pip pada level 1.2250.
Rencana kita akan menambah 2 posisi lagi. Pertama jika telah untung 100 pip dan kedua jika keuntungan mencapai 200 pip. Cara ini bisa diterapkan karena pergerakan downtrend sangat kuat, dan menurut analisa masih akan berlanjut.

Pyramiding

Harga ternyata bergerak sesuai prediksi, maka kita akan scale in lagi pada level 1.2450 sebanyak 2 mini lot (20k), sehingga position size sekarang adalah 40k atau $4 per pip. Jika target profit 1.2250 kena, maka potensi reward bertambah menjadi $1000. Karena kita telah menggeser Stop Loss ke bawah pada level 1.2550 dan mengatur Stop Loss posisi baru tersebut pada level yang sama, maka posisi kita sebelumnya kini telah breakeven. Resiko keseluruhan tetap $200.

Pyramiding
Kita akan terapkan strategi pyramiding ini dengan open posisi sell 2 mini lot lagi pada level 1.2350 sehingga total posisi kita sekarang adalah 60k atau $6 per pipnya. Jika target profit pada 1.2550 kena, potensi reward kita adalah $1200, atau 2 kali dari saat awal open posisi. Bagaimana dengan resiko kita?

Stop Loss kedua posisi bisa digeser ke 1.2450, sehingga kita telah mengunci keuntungan $200 pada posisi pertama, sementara posisi kedua breakeven. Dengan demikian, resiko sebesar $200 pada posisi pertama telah terkompensasi menjadi $0, atau breakeven trade. Keuntungan akan lebih besar jika semua posisi kita breakeven. Poin menarik disini adalah kita bisa menambah keuntungan kita tanpa memperbesar resiko.

Harga masih bergerak sesuai prediksi kita dan target profit 1.2250 kena. Ketiga posisi tersebut sekarang kita tutup dan Risk/Reward Ratio bersih adalah 1:6. Resiko kita tidak akan pernah melebihi $200 sebagaimana telah ditentukan sebelumnya yakni sebesar 1R, sedangkan diperoleh keuntungan $1200.

Contoh ini menunjukkan bagaimana kita memperoleh manfaat dari trend gerakan harga pasar yang sangat kuat:

Pyramiding

 

Kenapa Tidak Exit Selagi Masih Untung ?

Mungkin kita berfikiran untuk keluar dari pasar selagi masih untung. Saya berpendapat hal itu kurang bijaksana, sebab jika kita keluar saat harga masih bergerak sesuai prediksi, berarti kita hanya akan mendapatkan sebagian saja dari keuntungan yang seharusnya bisa didapatkan. Jika kita exit selagi masih untung, berarti kita dengan sengaja membatasi keuntungan. Padahal, dalam trading, kita dianjurkan untuk benar-benar memaksimalkan keuntungan sambil tetap membatasi resiko.

Dalam hal ini, strategi pyramiding dapat membantu memaksimalkan keuntungan. Namun, perlu digarisbawahi bahwa kita tidak harus melakukan pyramiding pada tiap trade yang sedang untung. Harus dipertimbangkan apakah potensi arah trend dan kekuatannya mendukung prediksi kita, agar pyramiding tidak jadi sekedar trading untung-untungan saja.

Jika kita lihat EUR/USD dan mata uang utama lainnya dalam beberapa minggu terakhir ini (misal pada 31 Mei 2012), tampak bahwa pergerakan harganya sangat menunjang untuk menerapkan scale-in atau strategi pyramiding. Kondisi pasar seperti itu jarang terjadi, tetapi ketika muncul maka kita bisa selalu menjalankan strategi pyramiding untuk mengoptimalkan keuntungan tanpa memperbesar resiko.

 

Tertarik mendalami lebih lanjut tentang manajemen resiko dalam trading forex? Simak juga artikel "Beberapa Tip Dalam Risk Management".

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Just Farid
Penjelasan yang sangat bagus dan informatif. Cara seperti ini sangat perlu untuk memaksimalkan profit dari posisi harga yang sedang tren.
Ew_santosa
wah trnyt geser2 posisi sl bs nmbh propit nie... menarik bgt utk dipelajari n diterapkan.... nie artinya kalo yg diubah tpnya n slnya g digeser bs disbut cr yg krg bijak y?
Martin S
@ew_Santosa:
Yang digeser level stop lossnya, kalau level take profit ditentukan dari risk/reward ratio. Yang harus diperhatikan adalah resikonya (SL) dulu, paling tidak bisa menggeser sampai level break evennya. Untuk trend yang sedang kuat tidak perlu khawatir level TP.
Hanieff
kayaknya ini mesti butuh analisis yang kuat atau bahkan liat data fundamental yang strong banget impact-nya biar caranya berhasil. karena kalau trennya nggak kuat-kuat amat strategi yang disusun bisa nggak berhasil. padahal penguatan tren kayak gitu lebih jarang terjadi, apalagi aksi ambil untung kayak gitu kurang baik juga dibiasain
Ellias Fajrul
@Hanieff: yah cara ini dianggap sebagai alternatif saja untuk memperbesar peluang profit saat tren sedang berlangsung. kalau benar bisa seperti itu kan bisa panen profit juga. tapi menurut saya meneruskan peluang profit itu hal yang bagus karena melewatkan kesempatan yang ada itu bisa jadi hal yang sangat disesali di kemudian hari.
Hanieff
@ellias, mungkin pas bener ada pola yang seperti ni bisa bermanfaat banget. tapi yang namanya situasi pasar kan nggak ada yang bisa perkirain secara pasti. iya kalo bisa konsisten pake cara ini terus, kalo suatu saat kebiasaan trading yang nggak keluar2 pasar ni dipertahanin buat lihat pembalikan meskipun posisinya udah loss kan bisa tambah merugikan tuh...
Yayaya
Asik juga ya kalo ngebayangin open bertumpuk-tumpuk apalagi yang sesuai harapan..hehehe. Cara meminimalisir loss dengan menggeser-geser SL bisa jadi tips tambahan..nih. Makasih pak penulis atas ide ini. Semoga ada ide tambahan lg untuk mengetahui awal pergerakan tren yang kuat....hehehe
Martin S
@yayaya:
Ya, posisi open yang bertumpuk-tumpuk dan semuanya profit itu memang impian para trader. Semoga Anda juga bisa mengalami seperti itu. Untuk mengetahui awal pergerakan trend yang kuat, didalam pasar forex sulit dilakukan, kalau di pasar saham agak mudah, Anda tinggal lihat volume tradingnya saja. Kalau yang buy terus bertambah maka uptrendnya bakalan kuat dan terus berlangsung sampai volume buy berkurang. Di pasar forex yang bisa Anda lakukan adalah mengetahui kekuatan trend dengan indikator ADX dikombinasikan dengan besarnya range dengan indikator ATR, jadi misalnya ADX semakin tinggi dan range semakin besar (ATR semakin tinggi) berarti trend semakin kuat, tetapi kalau ATR-nya makin rendah (berkurang) berarti kekuatan trend mulai menurun.
Abdul Hamid
Pak, saya numpang nanya, berhubung saya baru blajar forex akhir2 ini, saya seringkali menemukan istilah2 baru, nah pertanyaan saya, apa ini sama seperti metode reverse martingale, koq mirip2 ya, dobel profit waktu menang kan?
Martin S
@ Abdul Hamid : Memang metodenya sama, tetapi pada reverse martingale atau anti-martingale ukuran lot yang dibuka 2 kali dari sebelumya, sedang pada pyramiding sama dengan ukuran lot sebelumnya, jadi anti-martingale akan lebih menguntungkan kalau pergerakan harga sesuai dengan yang kita harapkan. Namun jika pergerakan harga mendadak berbalik arah maka hasil profit sebelumnya yang diperoleh dari metode anti-martingale akan hilang karena lot terakhir adalah lot yang terbesar dan kerugiannya akan besar juga, sementara untuk metode pyramiding tidak demikian karena ukuran lot pada semua posisi yang kita buka sama besar.