Advertisement

iklan

Harga Minyak Turun Tiga Pekan Beruntun Gegara Risiko Global

Harga minyak jatuh lantaran pasar mengkhawatirkan dampak perlambatan ekonomi global yang boleh jadi akan timbul akibat konflik perdagangan.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Pada hari Jumat (20/Juli), grafik harga minyak menggenapkan penurunan tiga pekan beruntun. Brent mengakhiri perdagangan pada harga USD73.00 per barel; sementara West Texas Intermediate (WTI) jatuh ke bawah ambang USD70.00 untuk pertama kalinya dalam sebulan dan ditutup pada USD68.11. Meskipun Arab Saudi sudah berjanji takkan menggenjot produksi, tetapi pasar mengkhawatirkan dampak perlambatan ekonomi global yang boleh jadi akan timbul akibat berbagai ketegangan geopolitik dan konflik perdagangan.

Harga Minyak Turun Tiga Pekan Beruntun

 

Ekspor Minyak Saudi Akan Menurun

Sepekan sebelumnya, laporan OPEC menunjukkan bahwa output Arab Saudi pada bulan Juni mencapai level tertinggi sejak 2016. Hal itu sejalan dengan komitmen mereka pada Amerika Serikat untuk berupaya menahan kenaikan harga minyak dengan mengimbangi penyusutan suplai minyak dari Venezuela dan Iran. Namun, setelah menyaksikan kemerosotan harga, pejabat terkait langsung banting setir.

Pada hari Kamis, Gubernur Arab Saudi untuk OPEC, Adeeb Al-Aama, mengatakan bahwa negerinya mengekspektasikan ekspor minyak mentah akan menurun sebanyak sekitar 100,000 barel per hari (bph) pada bulan Agustus seiring dengan dilakukannya pembatasan atas produksi berlebih. Ia menambahkan, kekhawatiran soal Arab Saudi dan sekutunya akan mengakibatkan pasar minyak mengalami surplus adalah "tak berdasar".

 

Pertumbuhan Global Kurang Sinkron

Alih-alih kekhawatiran mengenai surplus, pasar minyak kini berfokus pada risiko pelambatan ekonomi dunia apabila efek konflik perdagangan memburuk; khususnya jika pertumbuhan China sebagai salah satu negara konsumen minyak terbesar, terdampak. AS dan China kini telah saling menerapkan bea impor antar satu sama lain; hal mana dikhawatirkan berimbas lebih luas karena keduanya termasuk negara-negara ekonomi terbesar dunia.

Kekhawatiran tersebut diamini oleh para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari negara-negara G20 dalam sebuah pertemuan di Buenos Aires pada akhir pekan. Dalam rangka mempertahankan pertumbuhan global, mereka menghimbau agar dilakukan lebih banyak diskusi untuk memecahkan masalah perdagangan dan geopolitik.

"Pertumbuhan ekonomi global masih tangguh dan pengangguran berada pada level terendah dalam satu dekade terakhir," ungkap pernyataan bersama para menteri G20 yang dikutip oleh Reuters. "Namun, belakangan ini pertumbuhan kurang sinkron dan risiko perlambatan dalam jangka pendek dan menengah telah meningkat." 

Kekhawatiran mengenai risiko atas pertumbuhan global tersebut masih membebani harga minyak hingga pembukaan perdagangan hari Senin ini (23/Juli). Saat berita ditulis, Brent telah menurun 0.14% ke USD72.87 dalam perdagangan intraday; sementara WTI yang menjadi patokan harga minyak AS, relatif stabil di kisaran USD68.00.

Data-data sektor migas AS yang dirilis akhir pekan lalu cenderung beragam. Produksi minyak AS dilaporkan meningkat ke 11 juta bph untuk pertama kalinya berkat giatnya pengeboran shale. Namun demikian, Baker Hughes menyatakan jumlah oil drilling rigs turun sebanyak 5 ke angka total 858.

284542

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone