Advertisement

iklan

7 Strategi Trend Following Yang Wajib Anda Tahu

Penulis

+ -

Ingin raih profit maksimal dari trading forex? Pastikan Ada kuasai salah satu strategi trend following berikut. Apa saja itu?

iklan

iklan

Ada begitu banyak macam strategi trading yang digunakan trader di luar sana. Dalam praktiknya, trader memang memiliki kebebasan penuh dalam memilih sistem trading yang dianggap sesuai dengan gaya trading, modal, serta manajemen risiko masing-masing. Namun yang pasti, tujuan utama dibuatnya strategi trading adalah mendapatkan profit maksimal. Dari sekian banyaknya pilihan, ada satu sistem trading yang menjadi primadona di kalangan trader, yaitu strategi trend following.

strategi trend following

Mungkin bagi beberapa trader, strategi ini sudah tidak asing lagi. Strategi trend following berprinsip untuk mencari entry posisi sesuai arah trend yang sedang dominan; jika pasar sedang naik ambil buy, apabila turun maka sell.

"Indikator apa saja yang digunakan? Bagaimana cara entrynya? Apa yang dilakukan saat harga justru berbalik dari skenario?"

Mungkin itu pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak Anda saat ini. Pada dasarnya, strategi trading mengikuti trend memiliki banyak metode, mulai dari menggunakan indikator hingga ragam pola candlestick. Nah, kali ini penulis telah merangkum 7 strategi trend following yang mungkin bisa Anda pilih. Apa saja itu?

 

1. Strategi Trend Following Dengan Bollinger Bands (BB)

Sebagai indikator multi fungsi, indikator Bollinger Bands (BB) bisa dijadikan pedoman untuk mengukur volatilitas dan menentukan arah tren pergerakan harga berikutnya. Dari segi tampilan, indikator Bollinger Bands terdiri dari sebuah Simple Moving Average (SMA) dengan dua band atau pita yang berada di atas dan di bawah garis SMA. Band sebelah atas dinamakan Upper Band, sedangkan band bagian bawah disebut juga Lower Band.

Untuk mengidentifikasi trend dengan indikator ini, Anda cukup amati penembusan harga pada salah satu pita Bollinger Bands. Rumusnya, apabila pergerakan harga berhasil menembus Upper Band, ini mengindikasikan akan terjadinya trend naik (Uptrend). Sebaliknya, jika harga menembus pita bawah, besar kemungkinan trend turun (Downtrend) yang akan lebih menguasai pasar.

Lantas bagaimana cara entry posisinya?

Strategi trend following menggunakan Bollinger Bands sangat bergantung pada konfirmasi dari formasi bar yang terbentuk setelah penembusan pita. Pada kondisi trending, kedua band juga cenderung bergerak melebar. Agar lebih mudah dipahami, silahkan lihat contoh open posisi menggunakan indikator Bollinger Bands di bawah ini.

contoh trading dengan bollinger bands

Aturan membaca sinyal trading dengan menggunakan indikator BB adalah sebagai berikut:

  • Sell saat harga mampu menembus Lower Band dan konfirmasi bar berikutnya adalah candle bearish yang ditutup di luar pita bawah.
  • Open posisi Buy dilakukan setelah harga berhasil menembus Upper band kemudian diikuti candle bullish yang ditutup di luar pita atas.

 

2. Moving Average (MA)

Hampir semua trader sudah tidak asing lagi dengan indikator satu ini. Kebanyakan trader menggunakan Moving Average untuk mengidentifikasi trend secara umum serta kecenderungan arah trend harga berikutnya, apakah mengalami penerusan atau justru pembalikan arah. Selain itu, indikator MA banyak dipilih karena mudah digunakan, dan bisa mengukur pergerakan rata-rata harga dalam jangka waktu tertentu.

Namun, ada satu hal penting yang wajib diingat oleh pengguna Moving Average; bahwa indikator ini tidak dapat memprediksi apakah tren akan berakhir atau tidak. MA hanya bisa menunjukkan gerakan masa lalu dan pergerakannya lagging.

Untuk mendapatkan sinyal entry lebih akurat, trader biasanya menggabungkan Moving Average dengan indikator lain yang bersifat leading sebagai konfirmator. Selain itu, trader juga dapat menggabungkan dua atau lebih indikator MA dengan settingan periode waktu yang berbeda-beda, misalnya SMA-20 dan 50, SMA-20 dan 100, SMA-20 dan 200, SMA 50 dan 200, dst. Mengkombinasikan indikator-indikator MA ini bertujuan untuk mengidentifikasi sinyal Death Cross dan Golden Cross.

golden cross dan death cross

Death Cross adalah sinyal Sell ketika MA periode yang lebih kecil memotong kurva MA periode yang lebih besar dari arah atas ke bawah (SMA-50 memotong SMA-100 kearah bawah). Sedangkan Golden Cross adalah sinyal Buy bila kurva MA periode yang lebih kecil memotong kurva MA periode yang lebih besar dari arah bawah ke atas (SMA-50 memotong SMA-100 ke arah atas).

 

3. Moving Average Convergence/Divergence (MACD)

Salah satu andalan penganut strategi trend following berikutnya adalah dengan menggunakan indikator oscillator MACD. Indikator ini diyakini mampu menunjukkan arah tren, mengukur kekuatan (momentum) harga, serta menunjukkan titik entry berdasarkan crossing.

Sescara komponen, indikator MACD ini tersusun atas dua garis Exponential Moving Average (EMA) yang berperiode 12 (EMA-12) dan 26 (EMA-26). Apabila garis EMA-12 berada di atas EMA-26 dan nilai MACD positif (area MACD berada di atas nol), maka sedang terjadi uptrend. Jika EMA-12 berada di bawah EMA-26 dan MACD negatif (bergerak di bawah nol), maka hal itu mengindikasikan terjadinya downtrend.

belajar menggunakan indikator MACD Baca Juga: Belajar Trading Menggunakan Indikator MACD

Untuk mendapatkan sinyal entry dari indikator ini, Anda bisa mengamati titik perpotongan antara dua garis EMA tersebut. Posisi Buy bisa Anda ambil apabila EMA-12 memotong EMA-26 dari bawah ke atas. Sebaliknya, Sell saat EMA-26 memotong EMA-12 dari atas ke bawah.

 

4. Relative Strength Index (RSI)

Sama halnya dengan MACD, indikator RSI juga menjadi senjata andalan penganut strategi trend following. Biasanya, trader akan menggunakan indikator ini untuk melihat kapan tren akan berubah serta melalui tingkat kejenuhan pasar atau overbought dan oversold. Harga akan dinyatakan oversold apabila berada di bawah level 30, sementara level overbought berada di atas level 70.

overbought dan oversold

Biasanya, yang akan terjadi apabila harga telah mencapai level overbought adalah uptrend akan berbalik dan harga akan mulai menurun. Sebaliknya, jika harga sampai di zona oversold, besar kemungkinan ada potensi harga kembali naik.

Untuk pembukaan posisi, entry Sell bisa Anda buka pada kondisi overbought dan tunggu sampai garis RSI telah memotong garis level 70 dari arah atas ke bawah. Sebaliknya, untuk posisi Buy silahkan buka pada kondisi oversold dan tunggu garis RSI memotong level 30 dari arah bawah ke atas.

Namun, sama halnya dengan indikator teknikal lainnya, ada kemungkinan sinyal yang dihasilkan tidak valid. Untuk penggunaan RSI, kondisi trending yang kuat sebaiknya dihindari karena grafik indikator seringkali bertahan di area oversold ataupun overbought dalam jangka waktu yang lama.

 

5. Pola Head And Shoulders

Strategi trend following juga bisa memanfaatkan pola head and shoulders. Selain untuk mengantisipasi kemungkinan pembalikan arah trend (trend reversal), pola ini juga bisa digunakan untuk mendeteksi trend lanjutan setelah terjadinya breakout. Secara tampilan, pattern head and shoulders memiliki bagian kepala (head), lengan kiri (left shoulder), dan lengan kanan (right shoulder).

Untuk menemukan pola ini relatif mudah; pastikan Anda terlebih dahulu menemukan bagian head, left shoulder, dan right shoulder, kemudian tariklah neckline yang menghubungkan antara titik support pada left shoulder dan right shoulder. Agar lebih mudah dalam menemukan pola ini, perlu dipahami bahwa pergerakan harga selalu membentuk gelombang, di mana trend yang kuat selalu diikuti dengan koreksi. Biasanya, pembalikan arah trend terjadi bila harga gagal menembus neckline. Semakin sudut neckline negatif atau miring ke bawah, maka probabilitas pembalikan arah trend akan semakin tinggi.

pola head and shoulders

Namun, bila harga berhasil menembus garis neckline; besar kemungkinan harga akan melanjutkan penurunan dari right shoulder. Sehingga, Anda bisa membuka posisi Sell setelah harga menembus neckline (sebagai support) dengan Stop Loss pada level setara puncak right shoulder. Untuk sinyal Buy, Anda bisa memanfaatkan kebalikan dari pola ini yaitu inverted head and shoulders dengan skema yang sama.

 

6. Channel Patterns

Channel sangat berguna untuk melihat tren pasar apakah sedang naik, turun, ataupun sideways. Oleh karenanya, channel patterns juga bisa Anda pelajari jika berniat mencicipi strategi trend following.

Pada dasarnya, channel terdiri dari dua garis yang sejajar. Garis atas sebagai zona resistance, sedangkan garis bawah sebagai zona support. Dilihat dari bentuknya, ada tiga tipe channel yang perlu Anda ketahui, yaitu; ascending channel untuk tren yang sedang naik, descending channel untuk tren turun, dan horizontal channel untuk pasar sideways.

Trading dengan channel biasanya dilakukan dengan entry Sell pada area Resistance dan Buy pada area Support, serta level Stop Loss yang ketat untuk mengantisipasi jika harga menembus (break) channel. Level target biasanya ditentukan pada area yang berlawanan, dekat support atau resistance. Contohnya seperti pada gambar di bawah ini:

trading dengan channel

Namun sebelum menggunakan fitur ini, Anda wajib mempelajari cara menggambar channel yang benar. Salah menggambar, artinya channel Anda semakin tidak reliable atau kurang valid yang berakibat mengurangi akurasi trading.

 

7. Double Tops And Double Bottoms

Contoh lain dari strategi trend following yang bisa Anda gunakan adalah menggunakan pola Double Tops and Bottoms. Secara sepintas, pola Double Tops seperti huruf "M" yang mencerminkan adanya penolakan berulang pada harga tertentu. Sebaliknya, pola Double Bottoms terlihat seperti huruf "W" yang menggambarkan seller mencoba menekan harga, tapi berulang kali menemukan pertahanan kuat di level tertentu Munculnya dua pola ini menjadi pertanda bahwa tren akan segera berubah.

poal double top and bottoms

Kemunculan double top mengindikasikan tren naik telah berakhir dan tren turun akan segera dimulai. Inilah saat paling tepat untuk membuka posisi Sell. Sebaliknya, Double Bottoms merupakan pertanda bahwa tren naik akan segera terbentuk; pada saat inilah waktunya untuk membuka posisi Buy.

Namun, dalam menggunakan pola ini sangat disarankan untuk menggunakan time frame besar. Semakin besar time frame yang digunakan, tingkat akurasi sinyal yang dihasilkan akan semakin bagus. Selain itu, time frame besar mampu meminimalisir noise harga. Pemula disarankan menggunakan time frame 4 jam ke atas untuk mendapatkan sinyal terbaik.


Sebagai seorang trader trend following, mampu membuka posisi sesuai arah tren menjadi kunci utama keberhasilan trading. Temukan apa saja kiat ampuhnya dalam 5 tips jitu trading mengikuti trend.

Download Seputarforex App

294698
Penulis

Alumni Sastra Inggris, telah aktif menjadi content writer di berbagai platform sejak tahun 2012. Seorang Blogger yang menyukai bidang SEO, copywriting, dan sempat aktif sebagai trader kripto. Saat ini bergabung di Seputarforex.com sebagai jurnalis berita, artikel dan konten-konten menarik lainnya.


Kesulitan Akses Seputarforex?
Buka melalui
https://bit.ly/seputarforex

Atau akses dengan cara:
PC   |   Smartphone

AWAS
Grup Telegram Palsu Mengatasnamakan Seputarforex!

Baca Selengkapnya Di Sini