OctaFx

iklan

Memilih Indikator

62099

Memilih indikator teknikal yang tepat bisa mempermudah Anda menganalisa pergerakan chart pada trading, serta menemukan momentum entry yang pas.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Memilih indikator teknikal adalah bentuk pencarian jati diri bagi seorang trader. Bagi trader pemula, mencari indikator teknikal adalah hal yang seru untuk dilakukan. Dalam kondisi menggebu-gebu dan rasa ingin tahu tinggi, mereka tidak akan segan bereksperimen dengan berbagai indikator yang ada.

Memilih indikator teknikal tepat tidak lepas dari keinginan utama trader untuk masuk pasar di situasi yang tepat, contohnya masuk sesuai dengan trend yang ada saat ini, bukan malah melawan trend. 

Memilih Indikator Teknikal

Seorang trader wajib melakukan entry berlandaskan analisa dan sistem trading yang digunakan. Jadi tidak boleh asal entry di pasar tanpa adanya alasan yang kuat. Jika dasar yang digunakan untuk entry adalah analisa teknikal, maka memilih indikator teknikal adalah hal yang penting dilakukan. Pertanyaannya, bagaimana cara memilih indikator teknikal paling tepat? Semua akan dibahas secara lengkap melalui penjelasan di bawah ini.

 

Kenapa Tidak Boleh Asal Open Posisi?

Kurangnya riset dan tidak adanya keinginan belajar membuat banyak trader melakukan entry secara asal-asalan atau mengira-ngira saja. Hal ini kerap terjadi pada trader baru yang benar-benar masih pemula dan tidak paham satu indikator pun. Lucunya lagi, mereka bahkan tidak tahu kalau chart itu bisa diubah menjadi Candlestick. Mereka melihat pergerakan chart dalam bentuk yang masih garis. Kurangnya pengetahuan tentang tipe chart ini menandakan bahwa masih banyak yang harus dipelajari oleh para pemula.

Perlu diketahui bahwa cara open position yang asal tebak seperti itu sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan hasilnya. Di sinilah seorang trader perlu untuk memahami indikator dan masing-masing fungsinya. Namun kemudian, satu masalah kembali mencuat: saking banyaknya indikator yang tersedia dan perlu dipahami, beberapa trader malah kebingungan memilih indikator teknikal mana yang harus dipakai.

 

Tips Memilih Indikator Teknikal Andalan

Banyak yang kemudian bertanya ke teman-teman trader senior, indikator apa saja yang biasa mereka pakai. Namun hal tersebut tidak menyelesaikan masalah, karena asing-masing trader memilih indikator teknikal andalan yang berbeda-beda. Jadi makin bingung, kan? Lalu sebenarnya apa indikator yang paling baik?

Berikut ada beberapa saran yang bisa Anda ikuti dalam memilih indikator teknikal yang digunakan sebagai bahan analisa trading:

1. Pahami Plus Minus Tiap-Tiap Indikator

Pertama-tama, perlu dipahami bahwa Anda salah besar jika menganggap indikator bisa meningkatkan persentase profit. Yang tepat, indikator hanya berfungsi membantu trader mengidentifikasi arah trend yang sedang berlangsung saat ini. Jadi jangan harap ada indikator yang paling sempurna atau paling hebat dibandingkan yang lain.

Memilih Indikator Teknikal

Setiap indikator memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Karena itu, gunakanlah waktu luang Anda untuk menelaah sendiri masing-masing keunggulan dan kelemahan dari indikator-indikator tersebut. Anda bisa melakukannya di hari libur pasar yakni Sabtu-Minggu, atau bisa juga mencari celah free time saat bersantai di rumah.

Secanggih dan seakurat apapun suatu indikator teknikal, mereka tidak akan mampu meramalkan kemana harga akan bergerak selanjutnya. Risiko fake signal (sinyal palsu) tetap akan membayangi Anda meski menggunakan indikator jenis apapun. 

 

2. Pilihlah Kombinasi Indikator Yang Tepat

Indikator pun terbagi menjadi beberapa fungsi, ada indikator untuk mengamati trend, ada pula untuk melihat momentum, dan ada yang untuk mengetahui Support Resistance. Jadi bagi Anda yang ingin memilih indikator teknikal secara tepat, alangkah baiknya jika memilih 3 indikator yang masing-masing menggambarkan trend, momentum, dan Support Resistance tersebut.

Pilihan indikator yang menggambarkan trend antara lain Moving Average dan Parabolic SAR. Untuk indikator tipe momentum, ada MACD (Moving Average Convergence Divergence), RSI (Relative Strength Index), ADX (Average Directional Movement Index), dan W%R (William Percent Range). Lalu untuk patokan Support dan Resistance, silahkan memakai perhitungan Pivot Point dan Fibonacci Retracement.

Ramuan dari ketiga indikator di atas setidaknya bisa dijadikan pedoman untuk mendapatkan gambaran tentang arah pergerakan chart, kekuatan dari sebuah trend, dan level penting yang bisa menjadi batasan-batasan pergerakan harga.

Contoh gabungan dari ketiga indikator di atas kurang lebih tampak sebagai berikut:

memilih indikator teknikal

Pada chart EUR/USD TF 4H di atas, terdapat 3 indikator (ditandai dengan garis warna hijau muda), yaitu Parabolic SAR, William Percentage Range, dan Fibonacci Retracement. Informasi apakah yang bisa didapatkan dari 3 indikator di atas?

Pertama, melalui indikator Parabolic SAR, Anda bisa melihat adanya titik bulat di bagian atas chart dan bawah chart. Munculnya titik di bagian atas chart menandakan pasar dalam kondisi downtrend. Sebaliknya, munculnya titik di bagian bawah chart menandakan pasar dalam kondisi uptrend. Pada gambar di atas, tampak titik terakhir muncul pada bagian atas, yang menandakan bahwa trend saat ini adalah Bearish.

Kedua, dari indikator W%R, Anda bisa menentukan momentum yang terjadi di pasar, apakah sedang overbought (jenuh beli) atau oversold (jenuh jual). Pada gambar di atas, pasar terlihat dalam kondisi oversold, ditandai dengan garis yang terdapat di bagian pojok kanan bawah menyentuh level W%R -80 hingga -100. Ini bisa menjadi isyarat bagi trader untuk melakukan entry Buy karena harga sudah masuk di titik oversold-nya.

Ketiga, nampak garis Fibonacci Retracement ditarik dari Low terendah ke High tertinggi pada chart. Dari sinilah trader bisa menemukan batas Support dan Resistance harga saat ini. Pada gambar di atas, setelah ditarik garis Fibonacci, terlihat titik Support terdekat berada pada area 50.0%, sedangkan titik Resistance terdekat berada pada level 23.6%.

Dari pembacaan di atas, dapat disimpulkan bahwa meskipun trend harga sedang turun, tapi momentumnya justru sudah jenuh jual. Ini artinya, harga masih memiliki kekuatan untuk naik ke atas. Anda bisa mencari peluang buy ketika harga sudah terkonfirmasi memantul dari level Fibonacci 50.0%.

 

3. Lakukan Backtest Untuk Menguji Indikator

Saat memasang suatu indikator pada chart trading, parameter yang muncul pada indikator tersebut adalah parameter default. Contohnya jika Anda menggunakan indikator Stochastic, maka parameter standarnya adalah 5,3,3. Lalu untuk indikator RSI, parameter default-nya adalah 14. Di sini, Anda bebas menggunakan parameter default tersebut, atau Anda bisa mengubah parameternya sesuai kebutuhan. Supaya bisa menemukan parameter indikator yang ideal, Anda bisa melakukan Backtest.

Pertama, set terlebih dahulu berapa angka parameter yang diinginkan. Kemudian, lakukan Backtest sebanyak 200 kali trading. Jika 150 trading loss dan 50 lainnya profit, maka Win-to-Loss Ratio Anda adalah 25:75. Anda bisa mempertimbangkan untuk set parameter indikator tersebut di angka lainnya, sampai menemukan Win-to-Loss Ratio yang diinginkan.

 

4. Pilih Indikator Alternatif Selain Bawaan Metatrader

Bank Indikator merupakan surganya para teknikalis untuk memilih indikator teknikal unik yang tidak ada di MetaTrader 4. Silahkan melakukan riset sebanyak mungkin di bank indikator tersebut supaya menemukan indikator yang sesuai dengan setup trading Anda.

Memilih indikator teknikal unik yang menurut Anda potensial sebenarnya boleh-boleh saja. Asalkan indikator tersebut benar-benar sudah teruji dan bisa membantu Anda meraih profit yang diinginkan. Yang terpenting, kunci sukses dalam trading tidak terletak pada indikator apa yang Anda gunakan, tapi tentang bagaimana kemampuan Anda untuk memanfaatkan indikator tersebut secara maksimal.

Agar lebih jelas, berikut infografis untuk memilih indikator teknikal andalan selama bertrading:

memilih indikator andalan

 

Akhir Kata

Itulah beberapa saran yang bisa Anda lakukan saat memilih indikator teknikal. Sekali lagi, semua indikator pada hakikatnya sama baiknya, yang terpenting adalah bagaimana pemahaman Anda mengenai indikator tersebut. Tentu mempelajari indikator memerlukan ketelatenan tersendiri. Tapi selama Anda enjoy melakukannya, semua akan terasa seru dan mengasyikan. Trading forex itu sebetulnya seru, kok.

 

Tak perlu berlama-lama lagi, segeralah memilih indikator teknikal yang sesuai dengan gaya trading Anda. Jika sudah menemukannya, jangan bersuka hati dulu. Masih ada satu PR yang harus dilakukan, yakni menggunakan indikator tersebut sesuai pedoman yang tepat. Untuk itu, silahkan mempelajarinya melalui artikel kami berjudul 10 Acuan Menggunakan Indikator Teknikal Dari Barbara Rockefeller.

Alumni Sastra Inggris yang sudah berkecimpung dalam dunia penulisan selama 8 tahun. Sudah mulai menulis sejak masih kuliah. Saat ini aktif sebagai penulis di seputarforex.com.


Lilis27
Aku lebih suka pake indikator yang objektif sebenernya, jadi yang settingannya udah bener2 dari sistem. Tapi sayang indikator seperti itu masih jarang, rata2 indikator bawaan platform perlu diset dulu levelnya. Apalagi kalo mau set fibonacci, tarikan awalnya bisa beda2 dan pengaruh banget ke hasil trading yang stop loss dan take profitnya benar2 didasarkan dari level support dan ressistance.
Ade Filmansyah
kalo pengen yang dari sistem pake aja aturan defaultnya. tiap kali pasang indi baru kita kan nggak diwajibkan untuk ngatur periodenya dulu karan udah terpasang di periode default. yang masih perlu ngatur biasanya mereka yang udah paham sama kinerja indikator itu, terus bisa nyesuaikan sendiri supaya cocok sama sistemnya. tapi kalo masih pemula dan pengen gampang tinggal pasang indikator sesuai settingan default aja udah cukup oke kok
Dhimas.gondrong
memang sih klo indikator2 digabungkn dr fungsix yg berbeda2 bs makin mmberikan konfirmasi utk sinyal trdng yg pas. tp kok kesanx jd ribet gitu, trus klo slh satu ada yg brlawanan dr sinyal trdng indikator lain yg mana nih yg msti diprcaya?
Anam S Redy
Cukup pastikan aja dari 1 jenis indikator yg terpasang cuma 1 macam. Misalkan jenis indikator momentum, jangan pake rsi sama stochastic, pilih salah satunya aja buat dimasukin ke ramuan indikator. Kalo dua duanya dipake ya jelaslah sinyalnya berlawanan. Tapi kalau ambil salah satunya aja misal rsi, terus ditambah sama ma dan fibonacci, maka sinyalnya bakal saling melengkapi. Karna fungsi ketiga indikator itu juga beda2. Ada yg bertugas di arah tren, kekuatan tren, juga level harga penting.
Uli
lah tp kl trnyt msh slng brtentangan?? kyk d rsi udh snyl buy tp di ma mlh sinyalny sell?? nah gmn tuh?? mn yg lbh baik diambil?? ttp tibet kan?? mnding jg pake 1 indi ja yg plg dipercaya n valid sinyalny.
Anam S Redy
Kalo masih ga sinkron sepert itu, berarti belum saatnya entri. Baik sinyal rsi maupun ma sama2 ga valid jadi sebaiknya tunggu lampu hijau dari semua indikator yg terpasang baru entry. Makin bagus (semua syarat indikator terpenuhi) sinyalnya makin tinggi peluang entrynya. Bingung ngikuti salah 1 sinyal indikator malah akhirnya entry sesuai sinyal yg kurang valid. Jadi inilah fungsinya kita punya ramuan indikator dari 3 komponen itu. Ini sih emang suka-suka, tapi dasarnya kalau kita punya sistem indikator yang seperti ini maka ga perlu bingung. Yg penting cukup pastikan dari 1 komponen cuma ada 1 macam indikator, jangan ikut masang indikator yang masih saudara karna bakalan membuat bingung itu
Wihartono Yamin
kalau bertentangan antara harga dan indikator momentum malah bisa diartikan sebagai sinyal divergence. itu metode trading yang cukup efektif dari melihat perbedaan arah pergerakan harga dengan indikator momentum.

di saat tertentu bisa mengindikasikan pembalikan atau penerusan tren lebih cepat, bahkan sebelum hal itu belum terjadi. trader-trader pengguna divergence biasanya melengkapi sinyal entrynya dengan konfirmasi price action atau support dan resistance.
Hari Santoso
Pemasangan indikator pada chart bisa dilakukan sesuai selera masing-masing traer. Jika merasa kurang sesuai dengan banyaknya indikator yang dipasang, trader bebas untuk tidak menggunakannya. Selama hasil trading bisa dipertanggungjawabkan, paling tidak secara mental, penggunaan indikator jenis apapun bisa digunakan sesuai dengan rencana trading. Karena yang terpenting disini adalah rencana trading itu sendiri, yang sudah disertai dengan manajemen resiko. Jadi kalau hasil analisis dari indikator meleset, loss yang terjadi tidak akan terlalu banyak.
Dhimas.gondrong
@hari: bener itu, penting jg menyesuaikan pemakaian indikator dgn rencana trading, jd tidak asal memasang smw indikator yg dirasa bgs, karna bgs sndiri itu brsifat relatiff.
Didik Hanif R
Untuk fibonacci coba dengan auto fibo, keterangannya lihat di sini. Untuk downloadnya bisa di sini.
D Blues
Gw malah ndak cocok pakai parabolic sar, terlalu lambat sinyalnya. MA juga. Intinya gw masih kesusahan nemu indikator tren yang oke karna kebanyakan lagging. Lah cara ngitungnya aja masih dari rata2 periode berapa hari sebelomnya.
Fitriana
Banyak ilmu yang bisa saya dapatkan disini, terima kasih seputarforex
Rizal Sf
Sama2 mbak Fitriana, salam suskes.