OctaFx

iklan

Mengenal Teori Gelombang Elliot (Bagian 1)

111713

Teori gelombang Elliot adalah salah satu analisa teknikal yang sering digunakan para trader dan analis untuk memprediksi arah gerak trend dengan mengamati siklus pasar.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Teori gelombang Elliot (Elliot Wave) adalah salah satu analisa teknikal yang sering digunakan para trader dan analis untuk memprediksi arah gerak trend dengan mengamati siklus pasar dalam bentuk gelombang. Prinsip dasarnya adalah dengan mengidentifikasi reaksi psikologis para pelaku trading terhadap perubahan pergerakan harga pasar.

Teori ini sudah cukup tua, diciptakan oleh seorang genius bernama Ralph Nelson Elliott (1871–1948), akuntan profesional pada tahun 1930-an. Elliot mengemukakan bahwa pergerakan harga pasar secara keseluruhan membentuk sebuah pola yang spesifik, dan selalu berulang dalam periode tertentu. Para praktisi saat itu menyebutnya dengan gelombang Elliot, atau yang dikalangan para analis dan trader sekarang disebut dengan "gelombang" (wave) saja.

Dalam bukunya berjudul "The Wave Principle" yang terkenal, Elliot menuliskan bahwa harga digerakkan oleh para pelaku pasar dalam sebuah siklus berbentuk gelombang (gambar bawah) yang selalu berulang. Keadaan psikologi dan emosi kolektif para pelaku pasar membentuk ayunan gelombang ke arah atas dan bawah, dan jika kita telah terbiasa melakukan analisa ayunan tersebut, maka akan mudah untuk memprediksi arah pergerakan harga pasar selanjutnya, karena pada dasarnya sifat atau karakteristik para pelaku pasar adalah sama: tamak dan takut (greed and fear).

Walau teori Elliot dibuat berdasarkan pergerakan harga di pasar saham (karena saat itu pasar forex belum diperdagangkan), tetapi bisa diterapkan dengan baik pada semua jenis pasar, termasuk forex.

Mengenal Teori Gelombang Elliot  (Bagian


Pola Gelombang 5-3

Teori gelombang Elliot menyebutkan bahwa sebuah trend pergerakan harga (baik uptrend maupun downtrend) selalu terdiri dari pola lima gelombang yang searah dengan trend (gelombang 1-2-3-4-5), diikuti oleh tiga gelombang koreksi (gelombang A-B-C).

Elliot menyebutnya dengan "pola gelombang 5-3". Seperti gambar di atas, tiap gerak gelombang bisa diurai menjadi sub-bagian yang lebih kecil dengan pola gelombang 5-3 yang sama. Dan tiap sub-bagian bisa diurai menjadi sub-bagian yang lebih kecil lagi dengan pola gelombang yang sama, dan seterusnya. Pola gelombang yang memiliki sifat demikian disebut dengan "fractals", atau bisa diurai menjadi bagian yang lebih kecil dan sama persis.

Untuk mengetahui dasar pemikiran Elliot, pertama kita akan lihat apa saja yang terjadi pada pola lima gelombang yang searah trend (gambar bawah, untuk uptrend).

Mengenal Teori Gelombang Elliot  (Bagian

Lima gelombang pertama yang searah dengan trend disebut dengan gelombang impulsif. Dalam pola ini, gelombang pertama, ke-3 dan ke-5 bergerak searah dengan trend utama sedang gelombang ke-2 dan ke-4 adalah koreksi gelombang impulsif.

Harap dibedakan antara istilah “koreksi” gelombang ke-2 dan ke-4 dengan gelombang koreksi A-B-C (diuraikan pada bagian selanjutnya). Berikut penjelasan singkat kejadian pada tiap gerak gelombang impulsif, sesuai dengan analisa pasar oleh Elliot pada waktu itu (pasar saham), tetapi pada prinsipnya bisa diterapkan juga pada pasar forex dan semua jenis pasar yang lain.


1. Gelombang pertama (warna merah)

Harga saham mulai naik, biasanya disebabkan oleh sejumlah kecil investor atau trader yang merasa bahwa harga saham tersebut sudah sangat murah dan inilah saat yang tepat untuk melakukan order buy. Hal ini menyebabkan harga saham naik.


2. Gelombang kedua (warna hijau)

Pada poin ini, mereka yang sebelumnya telah membeli saham tersebut berpendapat bahwa harga pasti sudah terlalu tinggi (overvalued), dan menjual saham tersebut. Ini menyebabkan harga saham turun, tetapi tidak sampai pada level terendah sebelumnya karena lebih banyak yang menahan posisi buy-nya.

Sama seperti kita para trader pada umumnya, karena faktor psikologis, kita tidak serta merta cut-loss begitu saja ketika baru mengalami kerugian yang relatif masih bisa ditolerir, atau mungkin belum menyentuh level Stop Loss kita (jika menggunakan Stop Loss).


3. Gelombang ketiga (warna biru)

Ini adalah gelombang yang terpanjang dan terkuat. Saham tersebut segera menarik perhatian para investor dan trader yang belum sempat membeli. Ada apa dengan saham tersebut? Mereka penasaran dan segera berebut untuk memiliki saham itu. Tentu saja harganya segera membumbung dengan kuat hingga melebihi level tertinggi gelombang pertama (break high).


4. Gelombang ke-4 (warna orange)

Mereka yang membeli pada gelombang pertama merasa bahwa harga saham tersebut pastilah sudah terlalu mahal. Daripada "ketinggalan profit", maka mereka segera menjualnya. Tetapi seperti terlihat pada gambar, gelombangnya pendek, yang berarti banyak yang masih menahan saham tersebut, terutama buyer yang masuk pada gelombang ke-3.


5. Gelombang ke-5 (warna ungu)

Saham tersebut makin menarik perhatian massa trader dan investor. Kok harganya bisa membumbung? Maka semakin banyak yang buy saham tersebut. Ada yang menamakan fenomena ini dengan sebutan histeria.

Kita sering membaca atau melihat di media seorang analis saham yang seolah menertawakan mereka yang tidak ikutan membeli saham tertentu, dan memberikan berbagai analisa yang mengunggulkan saham tersebut. Itulah saat overvalued yang sebenarnya. Para trader dan investor yang sarat pengalaman tentu akan segera menjual saham tersebut hingga terjadi pola gelombang A-B-C yang akan kita bahas pada bagian selanjutnya.

(bersambung)

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.


Dwi Yoga Pramana
Apa ini cuma berlaku untuk uptren sj? Bgaimana analisany untuk downtren?
Angie
teori yang menarik.. tapi apa ndak berisiko kalau kita salah memperkirakan posisi gelombang? contoh aplikasi di chart yang sebenarnya seperti apa? dan apa pola 12345, 53, dan 1321 itu bisa mewakili tf yang digunakan atau jangka waktu trading? penggunaannya seperti apa? mohon penjelasannya
Fwd Rwd
no komen bwt teori ini, keliatannya aja gampang padahal sebetulnya lumayan bikin pusing kepala. sudah gitu nggak otomatis terpasang di semua mt4 pula, jadi mesti nyari dulu baru diinstal manual.. hmmm...
Edyherlambang
Ane lihat teori ini cuman sebagai salah 1 indikator aja sih, selebihnya ane udh puya sistim indikator sndiri yg lebih terpercaya. Cuman kalo lagi perlu bisa dicocokin lah prediksi dn analisa sama elliot wave ini. Kalau bisa sama ini bisa jadi alat konfirmator yg bagus juga, secara teori ini udah bisa dibuktikan kebenarannya
Mus Heriadi
Sy ingin bertanya untuk memastikan tentang efektivitas gelombang elliot ini untuk trading di pasar forex, karena apa yang dicontohkan berasal dari analisa pada pasar saham. Karena keduanya punya volatilitas dan likuiditas yang berbeda apa mungkin akurasi penggunaan gelombang elliot di pasar forex bisa berkurang? Dimana mencari aplikasi untuk indikator ini supaya bisa dipasang di platform?
Martin S
@ Dwi Yoga Pramana:
tidak Pak, bisa uptrend bisa downtrend. Perlu diketahui: baik uptrend maupun downtrend Elliot wave tetap merupakan satu kesatuan, tergantung dari mana kita memulainya (dari yang uptrend atau yang downtrend)..

Untuk memudahkan penjelasan biasanya contoh-contoh yang umum adalah untuk keadaan uptrend, kecuali pada keadaan khusus atau spesifik.

Untuk keadaan downtrend analisanya sama dengan uptrend, hanya dibalik saja, perhitungan gelombangnya dari atas kebawah, jadi dari atas saat terjadinya downtrend: 1-2-3-4-5 (gelombang utama), kemudian A-B-C (gelombang koreksi).
Contoh untuk downtrend bisa Anda lihat di artikel ini.
Martin S
@ angie:
- ya, sangat beresiko, apalagi kalau salah analisa pada time frame tinggi (jangka panjang)... Oleh sebab itu mesti berlatih dulu sampai terbiasa sebelum menerapkannya ke trading chart.

- untuk contoh applikasi-nya yang sederhana bisa Anda lihat di bagian 3 artikel ini.

- pola gelombang tersebut tidak tergantung dari time frame, karena selalu bisa diurai ke bagian-bagian yang lebih kecil. Jadi kalau Anda di tf daily, pola yang sama akan Anda temukan di tf 4 hour, dan pola-pola yg membentuk pola di tf 4 hour tsb bisa Anda temukan di tf 1 hour, dan seterusnya...

- begini, kalau Anda sudah tahu dan yakin suatu pergerakan harga sudah menyelesaikan satu siklus, misalnya 1-2-3-4-5-A-B-C, maka tentu pergerakan berikutnya akan membentuk gelombang 1, dan Anda bisa antisipasi untuk entry dengan risk/reward ratio yang terukur.. tentunya hal ini tidak mudah, perlu banyak pengamatan dan latihan..

Contoh penggunaan yang sederhana bisa Anda lihat di ulasan ini.
Martin S
@ Mus Heriadi: Setahu saya banyak analisa forex yang meng-applikasikan terori gelombang Elliot ini, dan ada beberapa forum yang khusus membahas forecast pergerakan pasar forex berdasarkan teori Elliot wave. Jadi sy kira penerapan teori ini bisa efektif juga asal kita paham dan bisa menerapkannya... Untuk jenis pasar (saham atau forex) sy kira tidak banyak berbeda karena teori ini didasarkan atas pengamatan, dan bentuk gelombang tersebut mencerminkan reaksi psikologis para pelaku trading terhadap perubahan pergerakan harga pasar. Memang pada saat Ralph Nelson Elliott memperkenalkan teori ini forex belum diperdagangkan, yang ada pasar saham, tetapi reaksi psikologis para pelaku pasar pada dasarnya sama. Selama trader bisa menggunakannya dengan benar teori ini akan bisa berjalan dengan baik pada semua jenis pasar. Untuk indikator Elliot wave yg sudah jadi dan bisa di-execute pada platform trading sampai saat ini saya belum menemukannya..
Riski Tohir
bagaimana strategi entry dan exit dengan elliot wave?
Martin S
@ Riski Tohir:
Tentukan perkiraan gelombang yang akan terbentuk. Ini tidak mudah dan tidak ada aturan bakunya, perlu sering berlatih.


Setelah diperkirakan level-level ekstrem (high dan low-nya) yang akan terjadi pada gelombang 1, 2,3,4 dan 5, maka bisa entry sell pada level A, exit pada level B, entry buy pada level B, exit pada level C, dst.

Tetapi perlu dikonfirmasikan juga dengan indikator teknikal dan price action untuk menemukan momentum entry yang tepat. Indikator bisa kombinasi antara trend (misal moving averages dan Bollinger Bands) dan oscillator (misal RSI).