Advertisement

iklan

Trik Menjaga Risiko Trading Dengan Stop Loss Lebar

Penulis

+ -

Sering terkena stop loss padahal arah trading sudah benar? Artikel berikut ini dapat membantu Anda menempatkan stop loss lebih baik agar mencegah hal tersebut tidak terjadi lagi.

iklan

iklan

Penempatan stop loss mungkin adalah salah satu konsep trading yang sering disalahpahami dan diabaikan oleh para trader. Padahal, tak ada salahnya kok mempelajari penempatan stop loss secara tepat agar meminimalisir kerugian Anda. Dalam penempatannya, penting bagi Anda menggunakan stop loss yang lebar.

Banyak trader suka dan sering meletakkan stop loss sekecil mungkin. Ada berbagai alasan mereka melakukannya, namun alasan tersebut biasanya merupakan hasil dari ketidakpahaman mereka terhadap position sizing (cara mengatur ukuran transaksi), rasio risk/reward, dan penerapan stop loss.

stop loss

Artikel ini akan membahas kesalahpahaman yang sering dijumpai mengenai penempatan stop loss dan cara merencanakan stop loss dengan benar. Selain itu, ada penjelasan mengenai pentingnya bertindak rasional (logika) dan bukan emosional dalam meletakkan stop loss.

 

Catatan Pertama: Position Sizing

Saya sering melihat trader di grup atau pun forum trading yang masih mempercayai bahwa mereka harus menggunakan stop loss sempit karena mempunyai akun yang kecil. Mereka beranggapan bahwa stop loss yang lebar akan menyebabkan loss banyak di market.

Pemikiran ini datang dari pemahaman mereka yang salah bahwa stop loss yang dekat akan mengurangi risiko per transaksi atau menaikkan peluang mereka menghasilkan profit. Dengan melakukan ini, mereka beranggapan bisa menaikkan ukuran/volume transaksi yang digunakan.

90% trader pemula yang saya jumpai masih berfikir bahwa jarak stop loss yang pendek/kecil berarti risiko transaksi menjadi lebih kecil, dan stop loss yang lebih besar artinya risiko menjadi lebih besar. Namun, pemahaman seperti ini tentu tidak benar. Bagi trader berpengalaman, mereka mengerti bahwa risiko per transaksi tidak ditentukan jarak stop loss namun ukuran posisi atau volume.

Baca Juga: Apakah Trader Profesional Menggunakan Stop Loss?

Lot atau volume transaksi lebih penting daripada jarak stop loss. Yang akan menentukan berapa besar risiko per transaksi adalah lot bukan jaraknya.

Risiko transaksi akan bertambah atau berkurang ketika Anda mengubah volume atau lot transaksi. Sebagai contoh, dalam platform Metatrader, ukuran transaksi berada pada tab "volume" dan semakin besar volume yang Anda masukkan, semakin besar risiko transaksi yang ada.

Jika Anda ingin menurunkan risiko, Anda cukup dengan mengurangi jumlah lot dari volume transaksi. Apabila Anda mengubah jarak stop loss namun tidak mengubah volume lot, maka Anda telah melakukan kesalahan besar.

Trik Menjaga Risiko dengan Stop Loss

Seorang trader bisa mempunyai stop loss dengan jarak 60 pips atau 120 pips namun dengan risiko transaksi yang sama. Mereka tinggal mengatur jumlah lot sehingga risikonya tetap sama.

Contoh:

  • Posisi 1 EURUSD, stop loss 120 pips dengan lot 0,1, risiko $120.
  • Posisi 2 EURUSD, stop loss 60 pips dengan lot 0,2, risiko $120.

Seperti yang Anda lihat, keduanya mempunyai jarak stop loss dan lot yang berbeda namun risiko per transaksi tetap sama.

Perlu dipahami, jarak stop loss yang lebih lebar tidak otomatis menaikkan risiko transaksi jika pengaturan lot disesuaikan. Satu-satunya dampak yang paling berpengaruh terhadap stop loss yang lebih lebar adalah target profit yang lebih lebar untuk mendapatkan rasio risk/reward yang lebih besar.

Dengan stop loss 60 pips, Anda memerlukan target profit sebesar 120 pips untuk mendapatkan rasio risk/reward 1/2. Sementara dengan stop loss 120 pips, Anda memerlukan target profit 240 pips demi memperoleh rasio risk/reward yang sama.

 

Kenapa Stop Loss Lebar?

Setelah kita memahami bahwa jarak stop loss yang lebih tetap bisa diatur pada risiko transaksi yang sama, maka pertanyaan menjadi kenapa harus menggunakan stop loss yang lebih lebar? Jawabannya, memberi ruang market untuk bergerak.

Berapa kali Anda mengalami posisi transaksi sudah sesuai dengan arah market, namun ternyata harus terkena stop loss dulu? Kenapa ini terjadi? Tentu karena stop loss Anda terlalu dekat.

Market bergerak, kadang bisa sangat volatil tanpa aba-aba. Sebagai trader, tanggung jawab kita adalah memasukkan faktor ini ketika meletakkan stop loss. Anda tidak bisa meletakkan stop loss dengan pips yang sama dan berharap semoga tidak terkena. Ini bukan strategi dan tidak akan berhasil dalam jangka panjang.

Anda harus memasukkan perhitungan volatilitas harga setiap harinya. Ada indikator yang disebut average true range (ATR) yang akan menunjukkan berapa range harga rata-rata setiap hari dalam periode tertentu.

Dengan indikator ini, Anda akan melihat harga dengan lebih baik karena memperhitungkan range harian rata-rata. Indikator ini dapat membantu Anda dalam menetapkan stoploss yang benar.

Jika pergerakan harga EUR/USD sebesar 1% (100 pips) atau lebih dalam sehari, mengapa Anda meletakkan stop loss 50 pips? Hal ini tidak masuk akal.

Namun, setiap hari banyak trader melakukan hal tersebut. Tentu, ada faktor yang lain yang harus diperhitungkan, seperti time frame, struktur market dan setup harga yang sedang terjadi.

Di bawah ini, kita melihat dua gambar, yang pertama adalah grafik Daily EUR/USD yang menunjukkan ATR di atas 100 pips. Gambar kedua adalah grafik minyak mentah yang menujukkan ATR diatas $2.

Trader yang tidak menyadari ATR (range harian rata-rata) pada market yang dia tradingkan berada pada kerugian besar ketika meletakkan stop loss. Setidaknya, Anda ingin meletakkan stop loss lebih besar dari ATR 14 hari terakhir (range harian rata-rata selama 14 hari terakhir).

Trik Menjaga Risiko dengan Stop Loss

Minyak mentah diukur dalam dollar dan sen dan ATR di atas $2 sehari atau $1.75 termasuk besar. Jika Anda tidak meletakkan stop loss lebih besar dari ATR, stop loss Anda dijamin akan terkena.

Trik Menjaga Risiko dengan Stop Loss

Baca Juga: Cara Mengatur Stop Loss Termudah Dengan Indikator ATR

 

Penerapan Stop Loss Lebar

Seperti yang kita ketahui, ketika trading price action berdasarkan time frame harian (daily) seperti yang saya gunakan, kesempatan trading yang bagus membutuhkan waktu berhari-hari sampai seminggu untuk terbentuk.

Anda tidak mungkin mendapatkan pergerakan 300 pips EUR/USD dengan stop loss 30-50 pips. Sebagian besar dari Anda pasti sudah terkena stop loss terlebih dahulu sebelum menuju target.

Contoh kasus: Dua grafik di bawah ini adalah grafik EUR/USD dengan sinyal entry buy pola pin bar namun mempunyai stop loss yang berbeda.

Gambar pertama berikut menunjukkan stop loss yang lebih kecil dan gambar kedua memiliki stop loss yang lebih besar. Dari gambar contoh ini, terlihat jelas mengapa Anda membutuhkan stop loss yang lebih lebar.

Trik Menjaga Risiko dengan Stop Loss

Perhatikan, stop loss yang lebih lebar pada grafik berikut yang menggunakan 20-30 pips di bawah level support 1.1528.

Trik Menjaga Risiko dengan Stop Loss

Sekarang perhatikan contoh grafik Daily minyak mentah (crude oil/WTI) selanjutnya. Pada grafik tersebut, terdapat sinyal buy berbentuk pin bar.

Jika Anda meletakkan stop loss di bawah pin bar seperti yang banyak trader lakukan, Anda akan terkena stop loss sebelum market bergerak naik.

Trik Menjaga Risiko dengan Stop Loss

Sekarang, jika Anda meletakkan stop loss 50 pips atau lebih di bawah harga terendah pin bar tersebut, bukan hanya posisi Anda tidak terkena stop loss, namun posisi Anda berakhir dengan profit karena harga naik setelah sempat turun beberapa pips dari harga terendah pin bar tersebut.

Trik Menjaga Risiko dengan Stop Loss

Perlu diperhatikan, apapun cara entry yang Anda gunakan, entry langsung setelah terbentuk pin bar market atau menunggu pullback ke 50 dengan stop loss yang lebih lebar akan mengubah hasil trading dengan spesifik.

Tujuannya adalah tetap berada di market sampai market dengan jelas menunjukkan Anda salah dan tidak keluar (terkena stop loss) karena fluktuasi harian. Berikanlah waktu kepada market untuk bergerak.

 

Pentingnya Stop Loss Lebar

Saya pribadi bukan trader harian (daytrader). Saya menganggap bahwa trading harian (day trading) adalah gambling pada "noise" market yang terjadi setiap hari.

Saya seorang trader dan bukan gambler. Oleh karena itu, sangat penting bagi saya menggunakan stop loss yang lebih lebar sehingga tidak keluar market karena pergerakan "noise" harian.

Ada hal yang menarik apabila kita melihat sebagian besar day trader suka menggunakan stop loss yang kecil. Secara statisitik ternyata sebagian besar day trader kehilangan uang bahkan lebih banyak daripada trader jangka menengah dan jangka panjang.

Apakah hal ini kebetulan? Saya pikir tidak.

Trading jangka panjang membutuhkan stop loss lebih besar. Jika kita mengetahui EURUSD bergerak sekitar 200 sampai 300 pips perminggu dan kita masuk pada setup dengan target profit 200-300 pips, maka cukup masuk akal jika Anda membutuhkan stop loss yang lebar untuk trade tersebut.

Ingat, kegunaan time frame yang tinggi sangat besar. Ya, kamu harus menunggu lebih lama sampai skenario trading bekerja, namun hasilnya Anda mendapakan sinyal yang lebih akurat dan lebih mudah menebak market di time frame besar.

Akhirnya, trading menjadi tidak gambling dan Anda punya skill mengikuti market. Saya pribadi menyukai time frame Daily, karena tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.

Salah satu kelebihan terbesar dari menggunakan time frame tinggi adalah stress yang berkurang dan meningkatkan kualitas hidup Anda. Anda bisa set-and-forget trading dengan stop loss besar.

Stop loss yang lebar adalah pendekatan di mana Anda tidak perlu duduk sepanjang hari di depan chart. Gaya trading ini memungkinkan Anda untuk punya waktu belajar dan fokus menemukan setup terbaik. Anda bisa mengidentifikasi tren dan melihat pola pergerakan harga lebih detail.

Jika Anda butuh waktu bersantai, Anda bisa bersantai disaat market sedang sideways. Anda cukup menggunakan stop loss yang lebar dan menyesuaikan ukuran/volume transaksi untuk menjaga risiko per transaksi Anda sesuai aturan money management.

 

Kesimpulan

Tahukah Anda alasan banyak sekali trader yang gagal dalam trading jangka panjang? Benar, mereka gagal karena loss terlalu besar. Mengapa begitu?

Ada dua alasan utama kenapa hal tersebut terjadi. Pertama adalah overtrading, yaitu open posisi terlalu banyak dalam satu waktu. Kedua, mereka menggunakan stop loss terlalu kecil, tidak memberikan market untuk bergerak. Ketika Anda meletakkan stop loss terlalu dekat, Anda akan sering terkena stop loss. Sangat sederhana bukan?

Namun, setiap harinya mungkin jutaan trader melakukan hal ini. Mereka meletakkan stop loss terlalu dekat pada setup trading yang bagus. Mereka melakukan hal ini karena tidak mengerti positiong sizing atau mereka terlalu serakah. Dua hal ini akan membuat mereka gagal dalam jangka panjang.

Jangan menjadi seperti mereka. Belajarlah untuk sabar. Letakkan stop loss yang lebar bahkan jika itu berarti menahan posisi hingga beberapa minggu. Tanyakan kepada diri Anda:

  • Apakah saya mengambil 20 posisi dengan stop loss dekat dan loss pada sebagian besar trade tersebut.
  • Atau meletakkan hanya 2 posisi dengan stop loss lebar dengan hasil satu loss dan satunya profit dengan hasil besar?

Saya yakin Anda akan memilih pilihan kedua.

Renungkan seperti apa cara Anda meletakkan stop loss selama trading. Mungkin ini menjadi salah satu pelajaran trading terbaik yang Anda pelajari. Gabungkan konsep yang Anda baca hari ini dengan teknik trading dan strategi yang Anda gunakan.

 

Selain stop loss lebar, dengan menggesernya secara tepat pun ternyata bisa memperbesar peluang profit Anda. Bagaimana caranya? Simak dalam artikel berjudul Teknik Menggeser Stop Loss Untuk Memaksimalkan Profit berikut ini.

297984
Penulis

Sudah aktif dalam dunia trading sejak 2012 dan masih terus belajar untuk menjadi lebih baik. Awal mula trading dengan menggunakan EA, dan akhirnya pada 2014 fokus trading manual dengan terus riset pada metode trading. Saat ini, saya merupakan seorang Discretionary Trader yang menggunakan Trend Following dengan metode breakout.