Advertisement

iklan

Harga Minyak Meroket Akibat Retaknya Pipa Di Laut Utara

Pipa minyak utama milik Inggris terpaksa ditutup karena ada retakan. Kabar ini spontan melonjakkan harga minyak Brent.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga Minyak Mentah tipe Brent meroket ke level tertinggi sejak tahun 2015, setelah sebuah saluran pipa minyak utama di Laut Utara terpaksa ditutup untuk perbaikan. Hal ini makin mengetatkan pasokan di pasar global, sementara pembatasan produksi OPEC baru saja diperpanjang. Saat berita ditulis pagi ini (12/Desember), Brent melanjutkan reli yang sudah berlangsung sejak tadi malam dengan meningkat 0.85% dari harga pembukaan ke level $65.26 per barel. Minyak Mentah WTI terpantau turut naik 0.57% ke $58.31 per barel.

North Sea Pipeline - ilustrasi

 

Jeffrey Halley, Analis Pasar Senior OANDA di Singapura, mengatakan pada Reuters, "Minyak Mentah Brent melaju lebih tinggi...seiring menyeruaknya berita bahwa sistem Forties Pipeline di Laut Utara harus ditutup selama 'beberapa pekan' setelah ditemukan retakan". Lanjutnya lagi, "Jalur pipa ini...merupakan komponen signifikan yang menentukan harga acuan Brent."

Forties Pipeline merupakan salah satu jalur pipa minyak terbesar milik Inggris di Laut Utara, dengan kapasitas 450,000 barel per hari (bph). Namun, jalur pipa tersebut mendadak ditutup pada hari Senin akibat ditemukannya retakan-retakan yang terus meluas, dengan perbaikan paling cepat diperkirakan akan memakan waktu dua minggu.

Lonjakan harga pada Minyak Mentah tipe Brent kali ini melebarkan kesenjangannya dengan harga minyak WTI, naik ke nyaris 7 Dolar AS per barel, dari hanya sekitar 5 Dolar AS per barel pada pekan lalu. Hal ini diproyeksikan akan membuat minyak yang diekspor AS menjadi makin menarik bagi konsumen karena lebih murah, sehingga mendorong negeri adidaya tersebut untuk merangsek lebih banyak pangsa pasar sementara negara-negara OPEC dan sekutunya tengah membatasi produksi.

Saat ini, produksi minyak mentah AS telah meningkat lebih dari 15 persen sejak pertengahan 2016 ke sekitar 9.71 juta bph, level tertinggi sejak awal tahun 1970-an. Dengan level produksi sebesar itu, AS sudah makin mendekati produsen-produsen minyak terbesar dunia seperti Rusia dan Arab Saudi.

281445

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.