Strategi Trading Pivot Point Dengan Price Action Dan MACD

285857

Pivot Point memang biasa digunakan untuk trading Breakout. Bagaimana jika strategi Pivot Point juga turut memperhitungkan Price Action dan MACD?

Xm

iklan

Advertisement

iklan

Trading forex tak pernah lepas dari teknik analisa harga, baik secara fundamental maupun teknikal. Nah, salah satu metode analisa teknikal dasar yang banyak diandalkan adalah penggunaan Pivot Point sebagai Support Resistance. Namun karena fungsinya yang serbaguna, ada begitu banyak strategi yang bisa dipadukan dengan Pivot Point. Maka dari itu, artikel ini akan membahas 2 strategi Pivot Point terbaik, serta apa saja aturan trading yang bisa Anda gunakan untuk bisa menggunakan analisa ini dengan lebih mudah.

Pada dasarnya, strategi Pivot Point diterapkan dengan 4 aturan berikut:

  • Harga bearish ketika berada di bawah Pivot Point (PP).
  • Harga bullish ketika berada di atas Pivot Point (PP).
  • Peluang buy (Long) muncul ketika harga memantul naik dari S1, S2, atau S3.
  • Peluang sell (Short) muncul ketika harga memantul turun dari R1, R2, atau R3.

Namun dalam praktiknya, trading dengan Pivot Point tentu tidak sesederhana itu. Ada metode analisa dan bantuan indikator lain yang perlu digunakan, untuk mengkonfirmasi sinyal Pivot Point sebelum entry.

 

A. Strategi Pivot Point Dengan Price Action

Metode trading yang satu ini sederhana saja, hanya mengandalkan terbentuknya konfirmasi Price Action untuk sinyal Breakout dari suatu level Support atau Resistance. Konfirmasi sinyal ini memperhatikan 2 hal utama:

  • Jenis candle (dan pola) yang menandai Breakout.
  • Level penutupan candle yang menandai Breakout.

Pakar trading forex dari forextraininggroup[dot]com menjelaskannya dalam chart GBP/USD H1 berikut ini:

Pivot Point Dengan Price Action

  1. Ketika harga pertama kali turun menembus Pivot Point (garis biru), maka konfirmasi Short bisa didapat setelah candle bearish tertutup di bawah level Pivot. Stop Loss dapat diposisikan di R1, sementara target keuntungan bisa diletakkan di S2. Perlu diperhatikan, jika Anda menahan posisi sampai keesokan harinya (waktu server broker), maka lokasi garis-garis Pivot kemungkinan berubah. Hal ini karena level-level Pivot, Support, dan Resistance di atas dihitung dari harga Close, High, dan Low harian. Dengan demikian, sebaiknya jangan lupa menyesuaikan Stop Loss dan Take Profit Anda untuk posisi yang dibuka di hari sebelumnya.
  2. Setelah turun hingga menyentuh target di S2, harga kemudian naik dan kembali menembus Pivot Point ke arah atas. Di sini, Anda bisa memanfaatkan peluang buy (Long) setelah harga benar-benar tertutup di atas Pivot Point. Stop Loss dapat diletakkan di S1 (tidak terlihat di chart), sedangkan untuk Take Profit bisa ditempatkan di R2.
  3. Ketika harga naik dan menembus R1, terlihat ada pergerakan korektif yang mungkin bisa memicu pertimbangan untuk Close posisi. Namun demikian, perhatikan bahwa penembusan harga di bawah level Pivot merupakan perwujudan dari pola Bullish Hammer. Karena formasi candle tersebut menandakan potensi reversal ke arah atas, maka sebaiknya pertahankan dulu posisi buy Anda.
  4. Setelah terjebak dalam pergerakan mendatar, GBP/USD akhirnya memantul dari level Pivot Point, dan naik menembus R1 dengan begitu mudahnya. Tak lama kemudian, Take Profit di R2 pun tersentuh.
  5. Jika Anda ingin memanfaatkan peluang bullish lebih lanjut, maka bisa membuka kembali posisi Long setelah harga tertutup dengan candle bullish di atas R2. Sesuai aturan-aturan sebelumnya, Stop Loss dapat diposisikan di satu level di bawah entry (R1). Sementara itu, Take Profit dapat dimaksimalkan di atas R3 saja, mengingat dalam skenario ini tidak ada level R4.

Dari uraian di atas, strategi Pivot Point dengan Price Action dapat dioperasikan dengan aturan berikut:

  • Entry setelah harga terkonfirmasi Breakout dari level Pivot, Support, atau Resistance.
  • Stop Loss sebaiknya ditempatkan di level Support atau Resistance terdekat dari Entry.
  • Take Profit dapat diposisikan dua level di atas Entry. Misalkan Anda Entry buy di Pivot Point, maka Take Profit selayaknya di pasang di R2.

 

B. Strategi Pivot Point Dengan MACD

Berbeda dari strategi trading Pivot Point sebelumnya, teknik yang satu ini mengandalkan indikator MACD, dan bisa dimanfaatkan untuk metode Breakout maupun Bounce. Dilihat dari keterangan chart di bawah ini, maka terlihat bahwa sinyal pembalikan atau penembusan harga dari level-level Support, Resistance, maupun Pivot, dapat dikonfirmasi dengan sinyal Crossing garis-garis MACD.

Strategi Pivot Point Dengan MACD

  1. Peluang Short mula-mula muncul dari Breakout Pivot Point ke arah bawah, yang dikonfirmasi dengan tertutupnya candle bearish di level tersebut. Pada saat yang sama, garis MACD (biru) memotong garis sinyal (merah) dari arah atas ke bawah. Dua kemunculan sinyal ini bisa menjadi bekal untuk memasang posisi sell dengan Stop Loss di area R1.
  2. Namun setelah menembus S1, harga malah naik kembali dan terkonfirmasi bullish. Hal ini terlihat dari penutupan candle bullish di atas S1, serta persilangan garis MACD dan garis sinyal. Anda bisa menyesuaikan posisi untuk menutup order sell di area Pivot Point yang baru. Pilihan berikutnya, Anda bisa membuka eksekusi balikan setelah harga tertutup di atas level Pivot dengan candle bullish. Dalam hal ini, Anda bisa menempatkan Stop Loss di S1.
  3. Harga telah naik hingga menembus R1, tapi kemudian kembali masuk ke area Pivot Point dan R1. Saat itu, sinyal MACD telah menunjukkan Crossing yang menandakan pergantian momentum ke sisi bearish. Close posisi buy bisa dipertimbangkan di area ini. Peluang Short kembali muncul saat harga gagal Breakout R1 dan terus turun menembus Pivot Point. Manfaatkan konfirmasi dari penutupan candle bearish di bawah level Pivot, untuk membuka order sell dengan Stop Loss di R1. Peluang tersebut bisa memaksimalkan keuntungan sampai harga menembus area antara S2 dan S3. Hal ini karena sinyal penutupan dari MACD baru muncul ketika harga mencapai area tersebut.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa aturan trading Pivot Point dengan MACD adalah sebagai berikut:

  • Entry setelah harga terkonfirmasi Breakout atau Bounce dari level Support Resistance.
  • Stop Loss sebaiknya ditempatkan di level Support atau Resistance terdekat dari Entry.
  • Exit apabila sinyal Crossing MACD telah menunjukkan perubahan momentum.

 

3 Hal Yang Wajib Diperhatikan Dari Strategi Pivot Point

  1. Strategi trading Pivot Point dengan Price Action lebih cocok untuk Anda yang bergaya agresif, sementara strategi trading dengan MACD cenderung lebih cocok bagi Anda yang lebih konservatif. Hal ini karena trading dengan Pivot Point dan MACD perlu memastikan konfirmasi sinyal yang lebih banyak.

    Jika Anda hanya menggabungkan Pivot Point dengan Price Action, maka yang perlu diperhatikan adalah pola harga di sekitar level-level Support Resistance. Namun apabila Anda menggunakan Pivot Point dengan MACD, maka pertama-tama Anda perlu mengkonfirmasi Breakout atau Bounce harga dari Support Resistance (dengan melihat Price Action), baru kemudian memperhatikan sinyal dari indikator MACD.

  2. Sebaiknya gunakan acuan time frame yang lebih rendah dari periode Pivot Point. Misalkan Anda menggunakan Daily Pivot Point, maka terapkan Intraday Trading dengan acuan time frame H4 ke bawah. Seputarforex sudah menyediakan data Pivot Point dari perhitungan otomatis untuk 3 macam periode, yakni 4 Jam, Harian, dan Mingguan. Informasi tersebut bisa dilihat di sini, dan dapat digunakan sebagai acuan trading Anda sehari-hari.

  3. Lakukan uji coba terlebih dulu sebelum menggunakan strategi trading Pivot Point di akun live. Langkah ini bukan hanya berfungsi untuk mengetahui efektivitas strategi, tapi juga menentukan mana strategi trading Pivot Point yang lebih cocok untuk Anda; apakah dengan Price Action atau MACD.

 

Tahukah Anda? Uji coba strategi Pivot Point bisa dilakukan dengan 2 cara, yakni Backtest dan Forward Test. Untuk mengetahui seluk-beluk dan cara Backtest, silahkan kunjungi artikel Panduan Lengkap Backtest. Sedangkan untuk Forward Test, dapat Anda pelajari di Panduan Forward Test Untuk Menguji Sistem Trading.

Alumni Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya yang sekarang menjadi pengisi konten artikel di seputarforex.com. Aktif menulis tentang informasi umum mengenai forex, juga terinspirasi untuk mengulas profil dan kisah sukses trader wanita.


Oday
MACD saya tidak ada garis biru, hanya garis merah dan histogram saja. Bagaimana caranya agar tampil garis biru tersebut ?
Galuh
Untuk MACD bawaan Metatrader, bentuknya memang garis histogram (bukan garis biru). Jadi cara membacanya agak berbeda dengan contoh chart di atas. Kalau pada chart di atas kita melihat persilangan 2 garis, maka di MetaTrader cukup perhatikan Crossing antara garis sinyal dan histogram. Pembacaannya sama saja.