Menggunakan Triangular Moving Average Dalam Trading

290886

Salah satu turunan lain dari indikator MA adalah Triangular Moving Average (TMA). Sudahkah Anda memahami apa itu Triangular Moving Average serta bagaimana cara trading menggunakan indikator ini?

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Jika Anda bertanya kepada para trader teknikal mengenai apa indikator favorit mereka, pasti mayoritas jawabannya adalah indikator Moving Average. Hal ini tentu tak mengherankan, mengingat indikator MA memang salah satu tool teknikal paling sederhana dan mudah digunakan, tetapi mampu memberikan berbagai indikasi penting bagi penggunanya.

Namun tahukah Anda? Indikator satu ini rupanya memiliki banyak "keturunan", mulai dari EMA (Exponential Moving Average), SMA (Simple Moving Average), WMA (Weighted Moving Average), serta TMA (Triangular Moving Average).

Tiga jenis turunan pertama mungkin sudah familiar di telinga Anda, tapi bagaimana dengan Triangular Moving Average? Apa itu Triangular Moving Average serta strategi trading seperti apa yang tepat digunakan dengan indikator ini?

Apa Itu Triangular Moving Average

 

Apa Itu Triangular Moving Average (TMA)?

Sebagian besar trader teknikal tentu sudah memahami jenis-jenis turunan Moving Average sebagaimana yang disebutkan di atas. Namun, apa jadinya bila mereka diberi jenis indikator baru bernama Triangular Moving Average? "Keturunan" terakhir dari indikator MA ini merupakan SMA yang diperhalus, sehingga pergerakannya dalam chart jauh lebih smooth daripada SMA. Adapun rumus untuk menentukan TMA yaitu:

TMA = (SMA1 + SMA2 + SMA3 + SMA4 + ... SMAx)/N, atau

TMA= SUM (nilai SMA) / N

Sayangnya, indikator TMA ini belum secara umum terpasang di berbagai platform trading. Untuk memastikan apakah indikator ini telah tersedia di software trading yang Anda gunakan, silahkan klik menu Indikator, kemudian masukkan "Triangular Moving Average", "Moving Average Triangular", atau "MovAvgTriangular".

Bagaimana jika masih belum keluar juga di platform?

Salah satu alternatif untuk mengakali indikator TMA adalah dengan menambahkan indikator Moving Average yang di-custom kalkulasinya ke dalam rumus TMA. Selain itu,  Anda juga bisa menggunakan dua indikator SMA, serta di-set dengan periode yang sama.

Keempat perbedaan indikator di atas dapat Anda lihat pada chart EUR/USD berikut ini:

Jenis-jenis Moving Average

 

Tips Trading Menggunakan Triangular Moving Average

Berdasarkan ulasan singkat apa itu Triangular Moving Average di atas, maka dapat dikatakan bahwa indikator turunan ini memiliki kesamaan fungsi dengan "sang induk", yakni sebagai penunjuk arah tren sekaligus titik entry. Meskipun demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila Anda tertarik untuk memulai trading dengan memanfaatkan indikator ini. Apa saja itu?

 

1. Indikator TMA Sangat Tepat Digunakan Saat Market Trending

Dalam pasar forex, harga bisa bergerak variatif; kadang trending kuat, tetapi kadang juga ranging (sideways). Fenomena tersebut tak lain dipengaruhi oleh adanya rilis berita berdampak, kondisi politik, serta sentimen pasar. Terbentuknya market trending biasanya disebabkan oleh kuatnya dominasi oleh salah satu pelaku pasar, entah itu Seller atau Buyer. Apabila Seller tengah mendominasi pasar, maka tren yang terbentuk adalah Downtrend. Sementara kondisi Uptrend dapat terjadi bila tekanan Buyer lebih besar daripada Seller.

Dalam kaitannya dengan penggunaan indikator TMA, kondisi market trending akan sangat tepat bila diukur menggunakan indikator ini. Pasalnya, sifat lagging atau terlambat bereaksi pada indikator TMA akan sangat bermanfaat bagi trader penggemar strategi Trend Following. Karena sifat lagging-nya tersebut, Anda dapat mengetahui sejauh mana harga sudah berjalan, berapa lama periode yang telah ditempuh, serta level-level apa saja yang sudah dicapai, sehingga rencana trading pun dapat disusun dengan tepat dan matang.

Tips Sukses Strategi Trend Following

(Baca Juga: 5 Tips Jitu Untuk Trading Mengikuti Trend)

Namun, bagaimana jadinya bila kondisi pasar sedang sideways? Bisakah kita menggunakan indikator ini?

Jawabannya TIDAK. Karena sifatnya lagging, sementara harga bergerak cepat ketika sideways, Anda tentu akan ketinggalan momentum entry tepat saat harga menyentuh level-level penting, misalnya Support atau Resistance. Namun bagi para Trend Follower, penggunaan indikator Triangular Moving Average saat sideways dapat menjadi "juru penyelamat". Ketidakmampuan indikator TMA membaca pergerakan harga dengan cepat -sebagaimana EMA- dapat menyelamatkan trader dari "jebakan" entry saat harga bergerak sideways.

 

2. Gunakan Konfirmator TMA Untuk Menangkap Sinyal Reversal

Meski indikator Triangular Moving Average sangat bermanfaat saat market trending, tetapi indikator ini rupanya tidak mampu menunjukkan kondisi jenuh beli (Overbought) dan jenuh jual (Oversold). Anda tidak bisa mengetahui kapan tepatnya harga akan berbalik arah (Reversal) dengan indikator ini.

TMA mungkin masih menunjukkan terjadinya Uptrend. Namun, pola candlestick yang terbentuk dalam chart justru mengindikasikan pelemahan momentum. Pada kondisi demikian, bisa saja Anda melewatkan kesempatan emas untuk entry tepat di titik terjadinya Reversal.

Guna menyiasati hal tersebut, Anda bisa menggunakan tools tambahan untuk mengkonfirmasi sinyal yang ditunjuk oleh indikator TMA. Anda bisa menggunakan indikator Oscillator seperti Relative Strength Index (RSI) atau Stochastic Oscillator, yang umumnya dianggap lebih mumpuni sebagai pengukur kekuatan tren.

Penggabungan Beberapa Indikator

(Baca Juga: Penggabungan Beberapa Indikator)

Selain bantuan Oscillator, Anda juga bisa menggunakan Price Action. Price Action adalah pergerakan harga suatu aset atau suatu pair mata uang yang merujuk pada analisa teknikal berdasarkan pola-pola candlestick. Adapun pola candlestick yang paling identik dengan pembalikan arah tren (Reversal) adalah Pin Bar.

Pada kondisi trending kuat (baik Uptrend atau Downtrend), formasi Pin Bar bisa sangat akurat, terutama bila terbentuk pada level-level Support atau Resistance yang signifikan. Pola ini tentu sangat mudah ditemukan di dalam chart, karena Pin Bar tampak "menonjol" keluar di antara candlestick lainnya; berbadan kecil dengan ekor panjang. Semakin kecil body Pin Bar, biasanya sinyal pembalikan arah tren akan semakin akurat.

Adapun contoh penggunaan indikator TMA dengan Price Action dapat Anda lihat pada chart GBP/USD berikut ini:

Triangular Moving Average dan Pin Bar

Pada chart di atas, dapat Anda lihat jika harga mengalami Reversal pada pertengahan Agustus, ditunjukkan dengan adanya pola candlestick Pin Bar. Sementara itu, Triangular Moving Average baru menunjukkan terjadinya Reversal pada awal September. Dari ilustrasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Anda akan "ketinggalan kereta" bila ingin trading saat Reversal, tetapi hanya mengandalkan indikator TMA.

 

Jadi, Layakkah TMA Digunakan?

Meski umumnya, trader hanya mengenal Moving Average, tetapi indikator ini rupanya memiliki beberapa keturunan yang bisa disesuaikan fungsinya. Sebut saja EMA yang unggul dalam menghasilkan sinyal cepat dan akurat, SMA dengan indikasi bounce dan breakout yang signifikan, hingga WMA yang sangat sensitif terhadap pergerakan harga. Terakhir, ada pula TMA (Triangular Moving Average), turunan baru yang jauh lebih smooth daripada SMA.

Dengan menggunakan indikator TMA, Anda dapat membaca pergerakan tren secara lebih jelas. Sehingga, risiko timbulnya berbagai noise atau terjebak dalam sinyal trading saat sideways, sangat kecil. Namun, satu hal yang menjadi titik kelemahan indikator TMA ini adalah tidak mampu mengkonfirmasi terjadinya Reversal dengan tepat. Untuk itu, perlu digunakan berbagai konfirmator tambahan seperti indikator RSI, Stochastic, atau pola Price Action.

Pola candlestick reversal

(Baca Juga: Pola 3 Candle Terbaik Penanda Reversal)

Ada banyak cara untuk memanen profit dari indikator ini, tetapi ada baiknya Anda menguji kemampuan indikator ini dalam akun demo terlebih dahulu. Jika si Triangular Moving Average ini mampu menjadi indikator unggulan Anda, pun dengan sistem trading yang telah pasti teruji, maka melenggang ke akun trading sungguhan tak lagi jadi soal.

 

Walaupun indikator teknikal dianggap sebagai tool terbaik dalam menunjukkan pergerakan harga di pasar, rupanya ada beberapa poin yang justru hanya mitos belaka. Ada trader yang percaya bahwa indikator teknikal saja sudah cukup sebagai bekal trading. Pada kenyataannya, ungkapan tersebut hanyalah mitos! Simak juga mitos-mitos analisa teknikal lainnya di artikel berjudul "7 Mitos Analisa Teknikal Yang Harus Diketahui Trader".

Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang sudah mengenal dunia jurnalistik sejak SMP. Sempat aktif sebagai Editor dan Reporter di UKM Pers UWKS, kini bekerja sebagai salah satu Online Journalist di seputarforex.com.