OctaFx

iklan

Harga Saham BWPT Terseret Harga Saham Baru

202751

Closing price perdagangan Jumat (26/9) kemarin mengantarkan saham BWPT di harga terendah tahun ini, yaitu 460. Dengan demikian, sepanjang tahun 2014 saham BWPT melemah hingga 65%. Ada beberapa masalah yang membayangi perusahaannya, PT BW Plantation Tbk. Namun demikian, saham BWPT dari sektor agri ini masih menarik.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Closing price perdagangan Jumat (26/9) kemarin mengantarkan saham BWPT di harga terendah tahun ini, yaitu 460. Dengan demikian, sepanjang tahun 2014 saham BWPT melemah hingga 65%. Namun, jika dilihat per kuartal, pada kuartal ketiga inilah harga saham BWPT mengalami penurunan terdalam. Tercatat, kuartal 1 harga BWPT minus 1%, sedangkan di kuartal ke 2 minus 6% dan dikuartal ketiga ini minus 63%.

BW Plantation
PT BW Plantation Tbk (kode saham BWPT) berdiri tahun 2000 dan terdaftar sebagai perusahaan terbuka sejak Oktober tahun 2009. Kegiatan usaha perseroan bergerak di bidang komoditas kelapa sawit, dimana hampir semua perkebunan sawit milik BW Plantation berada di Kalimantan.

Usaha BW Plantation fokus di perkebunan Kelapa Sawit. Tidak seperti perusahaan agribisnis lainnya di Bursa Efek Indonesia yang memiliki diversifikasi usaha, BWPT nyaris hanya mempunyai fokus bisnis di satu titik, yaitu kelapa sawit. Fokus perseroan adalah menanam, mengembangkan dan memanen tandan buah segar. Sehingga pendapatan perseroan pun ditopang dari hasil berjualan minyak sawit, inti kernel dan tandan buah segar.

Produk utama BW Plantation adalah minyak kelapa sawit. Kontribusi dari produk ini pun cukup besar terhadap pendapatan perseroan di tahun 2013, yaitu sebanyak 89%. Sedangkan dari hasil jualan inti kernel dan tandan buah segar masing-masing berkontribusi 7% dan 4% dari total pendapatan perseroan tahun 2013.

Aset Perusahaan BW Plantation
Aset perusahaan dari tahun ke tahun tumbuh cukup signifikan. Saat ini BW Plantation mengoperasikan lahan seluas 61.948 hektar, dan memiliki land bank untuk pengembangan usaha perseroan hingga tahun 2018 seluas 26.278 hektar.

Margin Belum Membaik

Mulai akhir tahun 2011, perusahaan sektor komoditas terutama komoditas kelapa sawit mulai mengalami kesulitan operasional. Permintaan dunia akan barang komoditas ini semakin menurun seiring dengan melambatnya perekonomian dunia. Apalagi isu bahwa sawit bukan produk ramah lingkungan turut menyebabkan orang-orang beramai-ramai memboikot produk ini. Puncak nya terjadi di tahun 2013 dimana hampir semua emiten yang bergerak di komoditas sawit melaporkan kinerja mengecewakan.

Performa Perusahaan BW Plantation
Tren penjualan BW Plantation dari tahun ke tahun mengalami pertumbuhan. Tercatat, di tahun 2013 penjualan masih bisa tumbuh 21%. Namun, membengkaknya beban pengeluaran menyebabkan laba bersih perseroan anjlok 31%. Ini merupakan penurunan laba bersih terbesar setelah ditahun sebelumnya laba bersih BW Plantation juga minus meski hanya 18%.

Kuartal 1 tahun 2013, penjualan BW Plantation tercatat sebesar 268 milyar. Angka ini meningkat jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 267 milyar. Namun, dari total pendapatan di kuartal 1 tahun 2013 tersebut, hanya 36 milyar yang berhasil dikonversikan menjadi laba bersih. Net margin turun menjadi 13%. Sehingga laba bersih perseroan di kuartal 1 tahun 2013 anjlok 56%. Padahal, dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2012, laba bersih BW Plantation naik 52% dari tahun 2011 di periode yang sama. Tahun 2011 kuartal 1, perseroan mendapatkan laba bersih 54 milyar.

Margin BW Plantation
Memasuki tahun 2014, margin perseroan naik signifikan menjadi 24%. Namun, pertengahan tahun ini margin tersebut turun menjadi 19%. Hal ini menunjukan bahwa perbaikan kinerja emiten sawit belum stabil sepenuhnya.

Likuiditas Semakin Mengering

Masalah perlambatan kinerja perusahaan merupakan masalah berdampak sistemik. Jika diamati, tingkat likuiditas BW Plantation mulai menurun. Tingkat likuiditas tahun 2013 hanya sebesar 45%. Bahkan di tahun 2014 ini, tingkat likuiditas perseroan hanya 34%. Jelas, angka tersebut jauh dari ideal yang seharusnya lebih dari atau minimal 100%.

Tidak hanya likuiditas, Return on Asset (ROA) perseroan pun terus menurun, hingga tahun 2013 ROA perseroan di kisaran 3%. Sedangkan Return on Equity (ROE) ditahun yang sama di kisaran 8%. Namun kabar baiknya, meningkatnya laba bersih perseroan di pertengahan tahun 2014 ini mampu meningkatkan nilai ROA dan ROE perseroan menjadi ROA 4% dan ROE 12%. Meskipun mengalami kenaikan, namun tetap saja kenaikan tersebut belum bisa membuat BW Plantation menjadi perusahaan yang menarik untuk investasi.

Persoalan lainnya adalah hutang perseroan yang lumayan besar. Tercatat, semester pertama tahun 2014 ini hutang perseroan setara 64% dari total aset, atau sebanyak 1,8 kali dari ekuitasnya. Jika likuiditas terus menipis, maka persoalan hutang ini kemungkinan besar akan membuat persoalan baru bagi perseroan.

Terlepas dari perseoalan diatas, Price Book Value (PBV) dan Price Earning Ratio (PER) perseroan menarik untuk dicermati. Dari catatan penulis, PBV dan PER perseroan saat ini berkisar 0,9 kali dan 7,3 kali. Kecilnya PER dan PBV ini memang akibat dari menurunnya harga saham BWPT beberapa hari ini.

Sektor komoditas, khususnya di bidang kelapa sawit memang belum menunjukan perkembangan perbaikan yang berkelanjutan. Pasokan masih berlimpah di pasar dunia, sedangkan permintaan akan produk cenderung terus menurun jumlahnya, membuat harga sawit mau tak mau harus ikut turun juga.

Jika dilihat kontribusinya terhadap ekspor Indonesia, sawit merupakan komoditas andalan ekspor dengan kontribusi cukup besar terhadap total ekspor Indonesia. Sehingga, ketika industri ini mengalami kesulitan, pemerintah pun ikut turun tangan mencari solusinya. Terakhir, kebijakan yang diambil pemerintah adalah dengan menghapuskan bea keluar. sehingga, dengan berlakunya kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi biaya yang dikeluarkan perusahaan.

Harga sawit di pasar komoditas internasional memang belum pulih sepenuhnya. Namun, ada beberapa catatan menarik, diantaranya :

Pertama, tidak seperti emiten agri lain di bursa yang menjadikan karet atau kopi sebagai usaha disamping sawit, BW Plantation tidak mendiversifikasikan usahanya dan fokus dalam menanam, memelihara dan memanen sawit. Risikonya jelas sangat tinggi. Sebab, jika harga CPO belum pulih dalam waktu lama, maka dampak masalah baru yang timbul akan semakin menyulitkan operasional perusahaan. Dan sebaliknya, jika CPO cepat pulih, maka kinerja perseroan akan melompat signifikan.

Kedua, aset BW Plantation tumbuh signifikan. Apalagi, perusahaan masih punya landbank sebagai lahan yang akan dikembangkan cukup besar hingga mencapai 26.278 hektar. Jelas bahwa pertumbuhan bisnis perusahaan dimasa mendatang cukup berpotensi. Apalagi, jika dilihat dari historisnya, perusahaan yang baru dibangun di tahun 2000 ini memiliki tanaman sawit yang umur rata-ratanya berkisar 7 tahun. Dengan demikian, lahan perkebunan BW Plantation merupakan lahan produktif yang siap berkontribusi terhadap pendapatan perseroan.

Ketiga, beredar pemberitaan yang menginformasikan bahwa BW Plantation akan mengeluarkan saham baru, dengan harga jauh dibawah harga saat ini, membuat harga perseroan terjun bebas. Dengan melemahnya harga saham saat ini, PBV dan PER peseroan pun ikut melemah. Jika melihat PBV yang hanya sebesar 0,9 kali maka ini kesempatan baik untuk bisa mengoleksi BWPT. Karena, biasanya saham ini ditransaksikan dengan PBV berkisar di angka 2 kali.

Menurut penulis, inilah yang dimaksud nasihat Warren Buffet "tamaklah ketika orang lain takut, dan takutlah ketika orang lain tamak". Banyak orang takut dan panik, sehingga hanya dalam 3 hari saja saham BWPT melemah hingga 50% lebih. Inilah peluang emas bagi investor jangka panjang untuk masuk.


Arsip Analisa By : Royan Aziz

Alumni jurusan Manajemen Universitas Negeri Semarang yang aktif di bidang saham sejak masa kuliah. Royan berfokus pada analisa fundamental dalam memilih investasi potensial, khususnya valuasi emiten.