OctaFx

iklan

Lebih Untung Mana, Investasi Saham atau Obligasi?

Bila diminta untuk memilih salah satu di antara dua aset ini, Anda pasti akan memilih yang paling menghasilkan banyak profit. Antara saham dan obligasi, mana yang lebih menguntungkan?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Instrumen investasi banyak sekali jenisnya. Seorang investor tak perlu mencoba semua jenis instrumen investasi, hanya perlu mendalami beberapa yang dirasa cocok dengan profil risiko masing-masing. Namun bagi calon investor yang baru belajar, mungkin kesulitan memilih instrumen yang tepat.

Beberapa instrumen yang sangat diminati investor adalah saham dan obligasi. Kedua instrumen tersebut tak perlu modal yang terlalu besar sehingga cocok untuk investor pemula. Mulai berinvestasi lewat saham dan obligasi pun prosesnya relatif mudah.

Lebih Untung Mana, Investasi Saham atau Obligasi

Bila diminta untuk memilih salah satu di antara dua instrumen investasi tersebut, Anda pasti akan memilih yang paling menghasilkan banyak return atau profit. Antara saham dan obligasi, mana yang lebih menguntungkan?

Sebelum menjawabnya, mari kita kupas lebih dulu sumber return dari kedua instrumen tersebut.

 

Sumber Return dari Saham dan Obligasi

Saham mewakili kepemilikan investor di sebuah perusahaan. Bila Anda memegang saham suatu perusahaan, bisa dibilang bahwa Anda juga pemilik dari perusahaan tersebut, meski kepemilikan Anda hanya sepersekian persen. Pemegang saham akan ikut mendapat profit bila kinerja perusahaan sedang baik, dan sebaliknya, menanggung risiko bila kinerja perusahaan buruk.

Profit yang dibagikan kepada pemegang saham disebut sebagai dividen. Meski biasanya dibayarkan setiap tahun, perusahaan sebenarnya tak wajib membagi-bagikan dividen. Ya, dividen hanya dibagikan bila perusahaan sedang untung. Emiten yang rutin membagikan dividen di antaranya adalah UNVR, BBCA, TLKM, MYOR, dan lain-lain.

Selain dari dividen, investor saham juga mendapat return dari selisih harga beli dengan harga jual saham (capital gain). Investor akan untung saat membeli saham di harga lebih rendah dari harga saat menjualnya. Begitu pula sebaliknya, investor menanggung loss bila ternyata harga jual lebih rendah dari harga beli saham.

Ilustrasi sumber profit saham

(Baca juga: 5 Cara Mudah Investasi Saham Untuk Pemula)

Bila saham mewakili kepemilikan, berbeda lagi dengan obligasi atau bonds. Obligasi secara harfiah adalah surat utang, karena mewakili utang suatu entitas, yakni pemerintah ataupun korporasi swasta. Ketika Anda membeli obligasi, berarti Anda memberikan dana sebagai pinjaman dengan tenor tertentu kepada pihak penerbit obligasi.

Karena telah memberi pinjaman, Anda berhak mendapatkan bunga atau bagi hasil secara berkala, sesuai dengan prospektus. Kemudian saat jauh tempo, dana pokok Anda akan dikembalikan.

Besar bunga obligasi biasanya ditentukan berdasarkan proyeksi suku bunga acuan suatu negara, serta seberapa tinggi minat investor terhadap obligasi tersebut.

Nilai bunga obligasi atau biasa disebut kupon bisa bervariasi, tetapi pasti lebih tinggi dibandingkan bunga deposito bank. Sebagai contoh, SBR-007 yang dirilis pemerintah pada Juli 2019 lalu, menawarkan kupon floating dengan batas bawah 7.5 persen per tahun. Sementara itu, bunga deposito bank nasional umumnya sekitar 6 persen.

Nah, bagaimana dengan persentase return saham? Angkanya sangat fluktuatif karena mengikuti volatilitas pasar. Besaran return akan berbeda tergantung kapan Anda menjual saham yang dimiliki, mengikuti harga bid. Misalnya, bila Anda menjual saham Adhi Karya Tbk (ADHI) hari ini bisa saja untung. Namun bila Anda menjualnya tahun depan, bisa saja rugi dan berlaku sebaliknya.

Ilustrasi calon investor saham dan obligasi

Sebagai gambaran, bila pada 30 Desember 2014 Anda membeli saham ADMF di harga Rp3470 per lembar. Setahun kemudian, pada 30 Desember 2015, Anda menjual saham tersebut di harga Rp6750 per lembar. Dengan begitu, Anda mendapat return 95 persen.

Sekilas, investasi pada saham memang bisa lebih menguntungkan daripada obligasi. Namun saat bicara tentang profit, Anda juga tak boleh melupakan risiko. Sejalan dengan hukum investasi high risk high return, instrumen investasi dengan potensi profit tinggi juga memiliki risiko loss yang tinggi pula.

 

Risiko Saham vs Obligasi

Obligasi dikenal sebagai investasi yang berisiko rendah, bahkan bisa dibilang sebagai aset yang paling aman di dunia. Penerbitan obligasi melibatkan perusahaan sekuritas sebagai penjamin emisi. Investor pasti akan mendapat dana pokoknya kembali beserta bunganya selama penerbit obligasi mampu membayar utangnya.

Oleh karena itu, penting memilih obligasi yang dijamin oleh suatu aset (secure bonds). Dengan begitu, bila penerbit obligasi gagal membayar bunga dan utang pokok, investor bisa mengklaim atas aset penerbit obligasi.

Keamanan menjadi keunggulan obligasi yang paling menonjol. Anda tidak perlu melakukan apa-apa, tapi menerima kupon bunga secara berkala. Kekurangannya, Anda tidak bisa sewaktu-waktu mengambil dana yang telah dipinjamkan hingga tanggal jatuh tempo.

Bagaimana dengan saham? Risiko investasi saham jauh lebih besar. Banyak faktor yang harus diperhatikan. Anda harus jeli memilih saham berkinerja baik lewat analisa fundamental, lalu harus menentukan waktu yang tepat untuk membeli atau menjualnya dengan analisa teknikal. Anda harus membaca laporan keuangan perusahaan dan update berita ekonomi terkini.

Risiko pada saham

(Baca juga: Sejarah Surat Utang Negara (Obligasi))

Risiko kerugian yang membayang-bayangi juga tidak kecil. Misalnya, Anda membeli saham LPCK pada 30 Desember 2014 pada harga Rp 7250 per lembar. Setahun kemudian pada 30 Desember 2015, Anda menjualnya saat harga turun di Rp 5050 per lembar. Anda menanggung rugi sebesar 30 persen.

 

Sebaiknya Pilih yang Mana?

Jadi berdasarkan penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa investasi saham lebih menguntungkan daripada obligasi, namun juga lebih tinggi risiko dan usaha yang perlu dikeluarkan.

Bila Anda masih bingung memilih instrumen mana untuk investasi, sebaiknya cocokkan dengan profil risiko masing-masing. Cek apakah profil risiko Anda konservatif, moderat, atau agresif. Bila Anda cenderung investor yang konservatif, Anda bisa memilih obligasi. Sebaliknya bila Anda tergolong moderat hingga agresif, Anda bisa memilih saham.

 

Banyak investor berlomba-lomba mengejar profit saat investasi saham, namun banyak juga justru menanggung rugi besar. Akhirnya, mereka memutuskan untuk berhenti trading dan investasi karena sulitnya mendapatkan profit. Pelajari strategi mendapat proft yang konsisten dalam saham di artikel Ingin Trading Saham Dengan Profit Konsisten? Perhatikan 5 Hal Ini

Alumni Universitas Airlangga yang terjun ke dunia jurnalistik sejak 2013, di media cetak maupun online. Menyukai analisa fundamental sambil nabung saham mulai awal 2019.