OctaFx

iklan

Prospek Investasi Pada Emiten Konstruksi

211645

Tahun 2014 merupakan tahun gain-nya emiten konstruksi di Bursa Efek Indonesia. Bagaimana tidak, perdagangan dari awal tahun hingga pertengahan November 2014, saham-saham emiten ini sudah naik dengan rata-rata kenaikan 50% lebih. Bahkan, harga saham emiten WSKT naik hingga 144%.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Tahun 2014 merupakan tahun gain-nya emiten konstruksi di Bursa Efek Indonesia. Bagaimana tidak, perdagangan dari awal tahun hingga pertengahan November 2014, saham-saham emiten ini sudah naik dengan rata-rata kenaikan 50% lebih. Bahkan, emiten seperti Waskita Karya (WSKT) harga sahamnya naik hingga 144%. Begitu juga dengan PT PP yang naik 147%. Sedangkan kenaikan dengan terendah adalah Surya Semesta Internusa (SSIA) dengan kenaikan sebesar 38%, dan Nusa Konstruksi Injiniring (DGIK) yang naik sebesar 11%.

Emiten Konstruksi - ilustrasi
Padahal, jika dilihat dari kinerja bisnisnya di tahun 2014 ini, laju bisnis konstruksi sedikit tersendat. Dari data laporan keuangan semester pertama, beberapa emiten konstruksi mengalami pelemahan pendapatan. Sebabnya, selama semester pertama 2014, mayoritas emiten konstruksi mengalami penurunan jumlah kontrak baru. ACST menargetkan kontrak baru senilai Rp 1.5 Triliun, namun sampai semester pertama selesai, kontrak baru hanya mencapai Rp 444 milyar. PTPP menargetkan kontrak baru 2014 sebanyak 24 triliun, namun hingga semester pertama kontrak baru yang diperoleh hanya 11 triliun. Kontrak baru yang diperoleh WIKA mencapai 11.5 triliun disemester pertama, dan target hingga akhir tahun mencapai 25,8 triliun. Emiten WSKT menargetkan kontrak baru hingga 18.7 Triliun, namun sampai sekarang kontrak baru yang berhasil diraih senilai 10.75 triliun. Sedangkan ADHI yang menargetkan kontrak baru hingga 21 triliun hingga saat ini baru sebesar sebesar 5 triliun.

Kenaikan Penjualan Tak Semulus Kenaikan Harga Saham

Laju kinerja bisnis konstruksi hingga Juni 2014 mulai melambat. Bahkan hingga akhir September 2014, kinerja emiten konstruksi terlihat semakin mengalami perlambatan. Seperti Adhi Karya (ADHI) dengan pertumbuhan pendapatan minus 4% di kuartal kedua, di kuartal ketiga, pendapatan yang diperolehnya turun lebih dalam hingga 8%. ADHI memperoleh pendapatan dari Juli hingga September yang lebih baik yaitu sebesar 1,9 triliun, dibandingkan dengan perolehan laba di dua triwulan sebelumnya yang masing-masing mendapatkan pendapatan 1,8 triliun pada April hingga Juni dan 1,3 triliun dari januari hingga maret. Sehingga, pendapatan yang diperoleh Adhi Karya hingga kuartal ketiga berakhir sebesar 5,1 triliun, sedikit dibawah  pendapatan ditahun sebelumnya yang mencapai 5,6 triliun.

 

Revenue Emiten Konstruksi

Tabel Pendapatan Emiten Konstruksi Pada Kuartal II/2014 Dibanding Kuartal II/2013

Revenue Emiten KonstruksiTabel Pendapatan Emiten Konstruksi Pada Kuartal III/2014 Dibanding Kuartal III/2013

Pelemahan yang sama juga dialami emiten lain seperti Total Bangun Persada (TOTL). Hingga kuartal kedua berakhir, pendapatan TOTL menelah hingga 5%. Namun, pelemahan makin besar dikuartal ketiga sebesar 10%. Pendapatan TOTL dari Juli hingga September tercatat sebesar 439 miliar. Angka tersebut lebih rendah 24% dari pendapatan TOTL yang diraih selama Juni hingga Agustus dan dibawah pendapatan Januari hingga Maret, yaitu sebesar 547 miliar.


Pendapatan Per Tiga Bulan Emiten KonstruksiGrafik Pendapatan Per Tiga Bulan Emiten Konstruksi Sepanjang Tahun 2014

Melemahnya perolehan pendapatan emiten konstruksi membuat laba bersih yang dihasilkan ikut mengalami pelemahan. Laba bersih yang berhasil diperoleh ADHI sekitar 101 miliar, atau turun 43% dari periode sebelumnya. Penurunan laba bersih juga dialami oleh TOTL dan SSIA dengan pelemahan masing-masing sebesar minus 35% dan minus 43%. Sedangkan, PTPP dan WSKT adalah emiten yang masih mencatatkan kenaikan laba bersih lebih baik dari periode sebelumnya. Laba bersih PTPP hingga akhir September 2014 sebesar 290 miliar dari pendapatan 7,8 triliun. Pendapatan PTPP tersebut tercatat naik 8% dari pendapatan dalam periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan jika dilihat pendapatan yang diraih dari Juli hingga September, PTPP berhasil memperoleh pendapatan sebesar 3,2 triliun, naik dari pendapatan April hingga juni sebesar 2,6 triliun dan lebih tinggi dari pendapatan januari hingga maret sebesar 1,9 triliun.


Nett Income Emiten KonstruksiTabel Laba Bersih Emiten Konstruksi Kuartal III/2014 Dibanding Kuartal III/2013


Kinerja Lima Tahun Tumbuh Signifikan

Disadari oleh banyak pihak, jika Indonesia menginginkan perekonomian yang tumbuh stabil, maka infrastruktur yang ada harus diperbaiki dan ditingkatkan lebih banyak lagi. Wilayah Indonesia yang berbentuk kepulauan dan membentang luas membuat Indonesia harus membuat infrastruktur hingga ke pelosok daerah dan pelosok pulau. Jika infrastruktur tertata dan keberadaannya menyebar hingga pulau-pulau pelosok, diyakini pertumbuhan perekonomian Indonesia akan tersebar merata.

Melalui program MP3EI, pemerintah mulai serius membangun infrastruktur dari Indonesia bagian barat hingga ujung Indonesia bagian timur. Mulai dari akses jalan, kawasan industri, hingga pembangkit energi listrik masuk dalam program pemerintah tersebut. Untuk menjalankan program-program tersebut, pemerintah menunjuk pihak-pihak terkait sebagai pelaksananya, dimana pihak tersebut termasuk juga emiten konstruksi.

Selain proyek pemerintah, emiten konstruksi juga kebanjiran proyek dari swasta. Pertumbuhan stabil perekonomian Indonesia beberapa tahun belakangan membuat usaha properti dan real estate makin gencar untuk ekspansi, seperti membangun menara apartemen, membangun mal-mal besar, dan juga membangun gedung-gedung pusat bisnis. Untuk merealisasikan ekspansinya, pembangunan tersebut bekerjasama dengan emiten konstruksi. Dan, proyek bukan hanya datang dari pelaku usaha properti maupun real estate saja, namun usaha manufaktur yang akan membangun pabrik baru atau memperluas pabrik pun butuh emiten konstruksi.

Kebanjiran proyek baik dari pemerintah maupun swasta membuat kinerja emiten konstruksi tumbuh signifikan beberapa tahun belakangan. Seperti TOTL yang laba bersihnya meningkat dengan rata-rata per tahun hingga mencapai 42%. Atau, WSKT yang rata-rata laba bersihnya juga tumbuh signifikan, yaitu 64% pertahunnya.

Agresif Ekspansi Hingga Ke Luar Negeri

Infrastruktur Indonesia masih sangat sedikit kuantitasnya dan masih perlu penambahan infrastruktur lebih banyak lagi. Permasalahan terbatasnya infrastruktur juga dialami negara-negara lain selain indonesia. Karena hal inilah, emiten konstruksi diyakini bakal terus tumbuh seiring dengan banyaknya proyek-proyek dari dalam dan luar negeri. Dan berkaitan dengan hal ini, beberapa emiten konstruksi Indonesia sudah mulai eksis menggarap proyek di luar negeri.

Misalnya ACST yang sudah merambah bisnis hingga Myanmar. Sebagai langkah awal masuk pasar Myanmar, perseroan akan membidik jasa pondasi. Karena, dengan perekonomian yang tumbuh cukup bagus, Myanmar diperkirakan membutuhkan banyak gedung-gedung di pusat perkotaan. Dan, inilah yang jadi target awal ACST memperluas pangsa pasarnya.

Selain fokus ekspansi hingga ke luar negeri, ACST juga baru saja mendirikan anak perusahaan yang bergerak di usaha penyewaan alat berat konstruksi. Pendirian anak usaha ini diyakini bakal membuat perseroan makin efisien. Selain itu, pertumbuhan pasar properti diyakini akan terus tumbuh untuk jangka panjang. Sehingga permintaan jasa konstruksi juga akan ikut meningkat. Dengan anak usaha baru tersebut, kebutuhan akan penunjang proyek-proyek konstruksi menjadi lebih memadai.

Selain itu, WIKA juga makin gencar melakukan ekspansi ke luar negeri, seperti ke negara-negara ASEAN dan Timur Tngah. Proyek yang di garap di luar negeri pun disebut-sebut mencapai US$ 1 Milyar. WIKA akan menggarap proyek jalan tol di Aljazair dan Timor Leste. Perseroan juga membangun menara dan bangunan tinggi di Myanmar senilai US$ 125 juta dan Arab Saudi, serta pembangunan mal di Kuching, Malaysia.

Secara keseluruhan, semester pertama tahun ini kinerja emiten konstruksi mengalami perlambatan. Bahan baku dan juga biaya bunga yang lebih tinggi menyebabkan beban biaya operasional perseroan mengalami peningkatan cukup signifikan. Peningatan beban biaya ini membuat laba bersih perseroan ikut menurun jumlahnya.

Selain itu, perlambatan ekonomi yang sedang terjadi sekarang membuat emiten konstruksi mengalami kesulitan mencapai target kontrak baru. Pemotongan anggaran infrastruktur oleh pemerintah dan usaha properti yang mulai berhati-hati melakukan ekspansi membuat target perolehan kontrak baru semakin sulit dikejar. Bahkan, beberapa diantara emiten tersebut sudah menurunkan target perolehan kontrak baru. Seperti PTPP yang sebelumnya mentargetkan kontrak baru hingga 24 triliun, namun dipangkas menjadi 22 triliun.

Respon Positif “Jualan Infrastruktur“ Presiden Jokowi dalam KTT APEC

Melalui pidato yang berjudul “Partnership for a Better Connected Asia-Pasific : A view from Indonesia”, disampaikan dalam Forum Asia-Pacific Economic Cooperation, Presiden Jokowi menegaskan bahwa banyak pembangunan infrastruktur besar yang akan dilaksanakan selama 5 tahun pemerintahanya. Minimnya infrastruktur di sejumlah pulau-pulau Indonesia menyebabkan ekonomi Indonesia hanya berpusat di Jawa. Sehingga, untuk membuat perekonomian Indonesia menjadi lebih baik ke depannya, Pemerintah mulai fokus membangun infrastruktur dari pulau Sumatera hingga Papua.

Proyek infrastrutur yang akan dibangun diantaranya:

  • pembangunan jalan tol pelabuhan untuk mempercepat akses logistik,
  • perbaikan waduk dan irigasi untuk menunjang sektor pertanian,
  • memperbanyak pembangkit listrik untuk kelancaran kegiatan ekonomi,
  • pembangunan jalur kereta api di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua
  • membangun 24 pelabuhan besar sebagai pendukung utama untuk merealisasikan program tol laut yang menjadi andalan pemerintah.


Ajakan Presiden Jokowi kepada investor asing untuk ikut mendanai proyek-proyek pembangunan infrastruktur ditanggapi positif oleh para investor dan kepala negara se-Asia-Pasifik, seperti Tiongkok, Jepang, Rusia dan Korea Selatan. Selain itu, Rodrigo A Chaves selaku Director Bank Dunia berniat mendukung realisasi pembangunan tersebut.

Besarnya tanggapan positif dari berbagai pihak tersebut membuat proyek infrastruktur yang sudah dirancang pemerintah optimis akan terealisasi. Dan, dengan dilaksanakannya proyek-proyek tersebut merupakan peluang bagi perusahaan konstruksi sebagai pelaksana proyeknya. Sehingga, wajar saja jika perusahaan konstruksi sekarang menjadi primadona koleksi investor.

Kinerja yang kurang memuaskan hingga akhir September 2014 diharapkan bisa diperbaiki di kuartal terakhir ini. Di kuartal empat inilah pendapatan emiten kontruksi akan meningkat tajam. Karena, banyak tender proyek konstruksi yang dibuka menjelang akhir tahun atau menjelang tutup buku. Misalnya saja yang terjadi di kuartal IV/2013. Emiten baru ACSET (ACST) selama Oktober hingga Desember mendapatkan pemasukan hingga 424 miliar. Angka tersebut naik 252% dari perolehan Januari hingga maret. Atau, emiten WSKT yang memperoleh pedapatan sebesar 4,5 triliun dalam waktu Oktober hingga Desember. Jumlah tersebut naik 465% dari pendapatan yang diperoleh dari Januari hingga Maret sebesar 975 miliar. Sehingga, inilah kesempatan yang bisa dimanfaatkan emiten konstruksi untuk menambah pundi-pundi penghasilannya.

Arsip Analisa By : Royan Aziz

Alumni jurusan Manajemen Universitas Negeri Semarang yang aktif di bidang saham sejak masa kuliah. Royan berfokus pada analisa fundamental dalam memilih investasi potensial, khususnya valuasi emiten.