Ulasan Saham 09 Oktober: RALS Dan 3 Emiten Lainnya

290461

Ada sinyal penguatan IHSG dan investor melakukan Net Buy di sektor perbankan. Simak pula ulasan saham-saham pilihan hari ini

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

IHSG View

Investor terlihat melakukan Net Buy di sektor perbankan, setelah ada sinyal suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) bisa kembali turun di bulan ini, merespon data ekonomi AS yang suram dan kemungkinan The Fed kembali akan memangkas suku bunga acuannya. Pada (08/Oktober), IHSG naik 0.37% ke level 6,039.

Beberapa sektor yang mendorong kenaikan IHSG bisa lihat di bawah ini:

 

Macro View

Realisasi penerimaan pajak semakin jauh dari target akhir tahun ini. Berdasarkan sumber Kontan, potensi shortfall pajak di akhir 2019 mencapai lebih dari Rp200 triliun. Shortfall pajak terindikasi dari penerimaan pajak sampai dengan 7 Oktober 2019, yang hanya mencapai Rp912 triliun. Angka tersebut hanya bertambah sekitar Rp110 triliun dari realisasi Januari-Agustus 2019 senilai Rp801.16 triliun.

Daily Outlook: Data Producer Price AS turun 0.3% di bulan September, di bawah estimasi pasar (0.4%). Sementara investor masih menunggu negosiasi perdagangan AS-China yang masih berjalan dalam pekan ini. Kami mengestimasi kinerja indeks masih akan bergerak flat, menunggu momentum yang tepat seperti (hasil pertemuan AS-China dan FOMC Minutes).

Berita Emiten: Dyandra Media International (DYAN) bakal getol menggelar perhelatan di sisa tahun ini. Perusahaan ini tengah mengejar target pendapatan Rp1.1 triliun, sementara perolehan di akhir Juni lalu masih Rp416 miliar atau 38% dari target.

Ekspansi Media Nusantara Citra (MNCN) dalam bisnis multi-channel network (MCN) lewat Youtube dan juga RCTI+ mulai membuahkan hasil. Sejak diluncurkan pada 23 Agustus lalu, monthly active users (MAU) telah mencapai lebih dari 1 juta di akhir September 2019. Tahun ini, MNCN menargetkan MAU mencapai 5 juta. Dengan begitu, pendapatan MNCN diproyeksikan mencapai 5 juta Dolar AS di tahun ini. Channel RCTI+ dan Youtube merupakan media tambahan bagi MNCN.

Teknikal

Ulasan Saham 09 Oktober: Dari RALS

Berdasarkan analisis grafik di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut.

  • Indeks Overall Trend Short Term: Bearish–Lower Support
  • Price: Sejajar dengan MA5
  • Volume: Volume beli sedikit terlihat
  • Sinyal: Melanjutkan rebound
  • Range IHSG: 6,020-6,100
  • Prediksi: Bullish

 

Saham-Saham Pilihan

1. Ramayana Lestari Sentosa (RALS)

Last Price: 1,295

Tren Potensial: Short Term Up Trend

Volume beli stabil dan menunjukkan sinyal peningkatan, breakout resistance (1mo), berada di upper band bollinger bands, RSI 62% (sinyal rebound, namun belum overbought).

Action: Hold

  • TP: 1,320 dan 1,350
  • Support: 1,250
  • Cut Loss: 1,200
  • Area Buy: 1,250-1,270

 

2. Ace Hardware (ACES)

Last Price: 1,800

Tren Potensial: Reversal-Bullish

Breakout resistance jangka pendek diikuti oleh kenaikan volume beli. MA5 memotong ke atas MA20 dan MA9. Saat ini, harga berada di upper band Bollinger bands.

Action: Hold

  • TP: 1,830 dan 1,850
  • Support: 1,750
  • Cut Loss: 1,730
  • Area Buy: 1,760-1,780

 

3. Indofood Sukses Makmur (INDF)

Last Price: 7,775

Tren Potensial: Reversal - Bullish

MACD memberikan sinyal Golden Cross, dengan harga mulai bergerak dari tren sideways menjadi reversal-bullish. MA5 memotong ke atas MA20. RSI 45.7% yang menunjukkan rebound.

Action: Hold

  • TP: 7,900 dan 8,050
  • Support: 7,625
  • Cut Loss: 7,500
  • Area Buy: 7,625-7,675

 

4. Ciputra Development (CTRA)

Last Price: 1,100

Tren Potensial: Rebound

Volume beli meningkat cukup tinggi dengan MA5 mulai memotong ke atas MA9, sementara MACD terkonfirmasi GC, dengan RSI 42.8%.

Action: Hold

  • TP: 1,120 dan 1,150
  • Support: 1,080
  • Cut Loss: 1,025
  • Area Buy: 1,080-1,090
Arsip Analisa By : Aditya Putra

Aditya Putra telah aktif di dunia saham selama lebih dari 6 tahun dan hingga saat ini masih menjadi seorang Equity Analyst di perusahaan sekuritas. Aditya menyukai Value Investing, selalu berhasrat menemukan 'Hidden Gems' di saham-saham Small Caps Indonesia, dan terus mengamati saham-saham yang 'salah harga'.