Advertisement

iklan

Ulasan Saham 23 Januari: SMGR Dan 3 Emiten Lain

Intensitas frekuensi perdagangan agak terhambat dengan minimnya katalis positif. Simak saham-saham pilihan berikut ini

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

IHSG View

Katalis yang mempengaruhi pergerakan indeks dalam tiga hari terakhir, terbilang minim. Investor menunggu rilis data suku bunga Bank Indonesia (BI) dan hasil laporan keuangan emiten di FY19. Investor asing membukukan beli bersih Rp290 miliar. Pada perdagangan (21/Januari), IHSG turun tipis sebesar 0.11 ke level 6,238.

Beberapa sektor yang mendorong penurunan IHSG bisa lihat di bawah ini:

Macro View

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menetapkan alokasi pembiayaan proyek infrastruktur melalui penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau project financing sukuk sebesar Rp27.35 triliun pada tahun ini. Alokasi tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp28.34 triliun.

Daily Outlook

Hari ini akan ada rilis data suku bunga BI Rate yang diprediksi tetap di level 5.0%. Jika BI rate turun, maka ini menjadi surprise bagi investor dan akan berefek positif bagi kenaikan indeks. Di sisi lain, polemik AS-Iran dan perang dagang tensi menurun, hal ini mendorong penurunan volatilitas di pasar saham domestik dan global.

Berita Emiten

Wijaya Karya (WIKA) menargetkan perolehan kontrak baru dari luar negeri sebesar Rp5.7 triliun. Angka tersebut setara dengan 8.77% dari target total nilai kontrak baru sebesar Rp65 triliun. Target tersebut sejatinya turun dari perolehan kontrak baru luar negeri di tahun 2019, yaitu Rp7 triliun.

Elnusa (ELSA) optimis dapat mencatatkan kinerja yang prima di tahun ini. ELSA, anggota indeks Kompas100 ini, menargetkan dapat membukukan pendapatan bersih hingga Rp9 triliun tahun ini. Asal tahu saja, hingga kuartal III-2019, emiten jasa penyedia energi ini meraup pendapatan sebesar Rp5.91 triliun. Jumlah ini tumbuh 27.64% secara tahunan, di mana pendapatan pada triwulan III-2018 lalu hanya Rp4.63 triliun.

Teknikal

Berdasarkan analisa pada grafik di bawah ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

  • Indeks Overall Trend Short Term: Sideways
  • Price: Bearish
  • Volume: Jual
  • Sinyal: Menunggu support di level (6,200)

Ulasan Saham 23 Januari: Dari BTPS

  • Range IHSG: 6,200–6,280
  • Prediksi: Bullish

 

Saham-Saham Pilihan

1. Semen Indonesia (SMGR)

Last Price: 13,000

Tren Potensial: Rebound

Harga berada di atas MA5 dan menjaga support kuatnya dalam sepekan terakhir. Sementara RSI masih berada di level 68.1% yang menunjukkan kondisi belum overbought. Volume beli stabil.

Action: Hold

  • TP: 13,100 dan 13,400
  • Support: 12,750
  • Cut Loss: 12,400
  • Area Buy: 12,750-12,850

 

2. Bank Tabungan Pensiunan Nasional–Syariah (BTPS)

Last Price: 4,650

Tren Potensial: Bullish

Berada di upper band Bollinger bands, dengan tren secara umum, yaitu bulish. Harga terus membuat all time high. Namun, waspadai volume yang mulai rendah sejak awal November tahun lalu.

Action: Sell on Strength

  • TP: 4,750 dan 4,900
  • Support: 4,450
  • Cut Loss: 4,300
  • Area Buy: 4,450-4,500

 

3. Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP)

Last Price: 11,750

Tren Potensial: Bullish

Candle membentuk long white, berada di upper band Bollinger bands. Saat ini cukup menarik dengan MACD yang membentuk Golden Cross.

Action: Sell on Strength

  • TP: 11,900 dan 12,000
  • Support: 11,600
  • Cut Loss: 11,500
  • Area Buy: 11,600-11,650

 

4. Sarana Menara Nusantara (TOWR)

Last Price: 830

Tren Potensial: Bullish

Membentuk long white candle, dan volume beli cukup tinggi dalam dua hari terakhir. Indikator RSI 62.2%. Harga saat ini berada di upper band Bollinger band. MACD berpotensi Golden Cross.

Action: Hold

  • TP: 845 dan 865
  • Support: 800
  • Cut Loss: 790
  • Area Buy: 800-810
Arsip Analisa By : Aditya Putra

Aditya Putra telah aktif di dunia saham selama lebih dari 6 tahun dan hingga saat ini masih menjadi seorang Equity Analyst di perusahaan sekuritas. Aditya menyukai Value Investing, selalu berhasrat menemukan 'Hidden Gems' di saham-saham Small Caps Indonesia, dan terus mengamati saham-saham yang 'salah harga'.