Advertisement

iklan

Kupas Saham Syariah Di Bursa Efek Indonesia

Indeks saham syariah, ISSI dan JII, yang merupakan tolok ukur performa saham syariah mencetak return luar biasa sejak diluncurkan beberapa tahun lalu.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Beberapa tahun terakhir, dunia pasar modal di Indonesia semakin dibanjiri oleh investor lokal baru. Perkembangan online trading serta semakin terjangkaunya modal untuk investasi di pasar modal, membuat masyarakat semakin melek investasi dan tentu saja ingin berinvestasi di pasar modal. Namun, masih banyak masyarakat yang belum mengenal saham syariah. Padahal, saham syariah sudah lama eksis sejak tahun 2007.

Sungguh sangat disayangkan, padahal pengelompokan saham syariah dilatarbelakangi oleh kondisi demografi Indonesia yang memiliki lebih dari 87 persen penganut agama Islam. Tujuannya agar masyarakat Islam dapat lebih mudah untuk mencari saham-saham yang berlabel halal.  Sehingga mampu memaksimalkan investasinya tanpa adanya kekhawatiran mengenai halal dan haramnya bisnis perusahaan penerima investasi.

 

Pasar Modal Syariah

 

Hingga artikel ini ditulis, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang menjadi salah satu tolok ukur kinerja saham syariah mencatat return sebesar 72.37 poin atau naik 58.58 persen sejak indeks ini diluncurkan tahun 2011. Sementara itu, Jakarta Islamic Index (JII) yang terdiri dari 30 saham syariah teraktif, menuai return sebesar 615.7 poin atau naik sebesar 368.86 persen sejak krisis global menghantam dunia finansial tahun 2008. Fantastis bukan? halal pula.

 

Grafik Performa (Return) Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)

ISSI chart

 

Grafik Performa (Return) Jakarta Islamic Index (JII)

JII chart

 

Tak banyak yang tahu jika ternyata nilai kapitalisasi saham syariah juga cukup besar. Berdasarkan data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Desember 2017, ISSI memiliki nilai kapitalisasi 3,704 triliun rupiah atau sekitar 52 persen dari total nilai kapitalisasi saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jumlah saham ISSI sebanyak 366 saham dan merupakan jumlah saham terbanyak yang dimiliki indeks saham manapun di Indonesia selain IHSG. 

Sedangkan nilai kapitalisasi JII sekitar 2288 triliun rupiah atau sekitar 32 persen dari total saham yang listing di BEI. JII biasa disebut blue chip-nya syariah.

Perkembangan saham syariah semakin pesat jika dilihat dari data investor. Dikutip dari Republika, Deputi Direktur Pasar Modal Syariah OJK menyatakan bahwa jumlah investor pemegang saham syariah saat ini ada 203 ribu investor, naik sebesar 100 persen dibanding tahun 2015 yang hanya sekitar 100 ribuan investor.


Definisi dan Kriteria Saham Syariah

Apa sih yang dimaksud saham syariah? Yang dimaksud saham syariah adalah saham-saham perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan telah disaring (filtering, screening) berdasarkan kesesuaian kegiatannya dengan prinsip syariah. Prinsip syariah adalah prinsip hukum Islam yang ditetapkan berdasarkan fatwa DSN-MUI (Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia). 

Sedangkan yang berwenang dalam menentukan apakah sebuah saham tergolong saham syariah atau tidak adalah OJK berdasarkan prinsip syariah tersebut. Adapun kriteria saham syariah adalah saham yang kegiatan emiten-nya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Kegiatan yang bertentangan dengan prinsip syariah antara lain:

  • Perjudian dan permainan yang tergolong judi.
  • Perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang atau jasa.
  • Perdagangan dengan permintaan dan penawaran palsu.
  • Jasa keuangan ribawi, seperti bank berbasis bunga atau perusahaan pembiayaan berbasis bunga.
  • Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dana, atau menyediakan antara lain: barang atau jasa haram zatnya, barang atau jasa haram bukan karena zatnya yang ditetapkan oleh DSN-MUI.
  • Melakukan transaksi yang mengandung unsur suap.

 

Selain kriteria di atas, saham syariah juga harus memenuhi beberapa rasio keuangan, yaitu:

  • Total utang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset tidak lebih dari 45 persen.
  • Total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan dengan total pendapatan usaha (revenue) dan pendapatan lain-lain, tidak lebih dari 10 persen.

 

Daftar Efek Syariah (DES)

Saham-saham yang sudah memenuhi prinsip syariah akan dimasukkan ke dalam DES. Apa itu DES? DES adalah kumpulan efek yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah di pasar modal. Yang berhak mengelola DES adalah OJK atau pihak yang mendapat persetujuan dari OJK.

Loh efek itu apa sih? Efek adalah kumpulan surat berharga, yaitu bisa berupa saham, obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan, surat pengakuan utang, dan surat berharga komersial. Jadi saham adalah salah satu jenis efek.

 

Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)

Saham yang terdaftar di DES kemudian dikelompokkan ke dalam ISSI. ISSI direview setiap enam bulan sekali, yaitu pada bulan Mei dan November, untuk dipublikasikan pada awal bulan berikutnya.

ISSI akan dilakukan penyesuaian apabila ada saham syariah yang baru tercatat atau dihapuskan dari DES. Indeks ISSI dihitung berdasarkan rata-rata tertimbang dari kapitalisasi pasar. Saat ini terdapat 366 saham yang masuk ke dalam kategori ISSI. Untuk melihat saham-saham terupdate yang masuk kategori ISSI bisa dicek langsung di situs IDX.

 

Jakarta Islamic Index (JII)

Sebanyak 30 saham syariah yang paling likuid dan memiliki kapitalisasi pasar besar akan dimasukkan ke dalam JII. Investor biasa menyebutnya sebagai indeks keping biru syariah atau blue chip-nya syariah. Layaknya indeks saham yang yang lain, JII akan direview oleh BEI setiap 6 bulan sekali.

Metode perhitungan JII sama dengan yang digunakan untuk menghitung IHSG, yaitu berdasarkan Market Value Weighted Average Index dengan menggunakan formula Laspeyres.  Untuk melihat saham-saham terupdate yang masuk kategori JII bisa dicek langsung menuju ke situs IDX.

 

Sekilas Mengenai Cara Investasi Di Saham Syariah  Dan Penutup

Seperti yang sudah dijabarkan di atas, sebenarnya saham syariah itu saham konvensional yang sudah melalui filter syariah. Jadi, cara untuk menjadi investor saham syariah sama halnya dengan cara menjadi investor saham konvensial, tidak ada perlakuan khusus. Anda cukup membuka rekening syariah di sekuritas yang Anda pilih. Di platform sekuritas tersebut juga terdapat daftar saham-saham syariah.

Nafier Khan mengenal trading forex sejak 2016. Berdasarkan pengetahuan yang telah digali, kemudian menulis liputan seputar forex dan keuangan umum dengan misi untuk memperluas wawasan pembaca.