Profil Penulis : N Sabila

Sudah aktif berkecimpung di dunia jurnalistik online dan content writer sejak tahun 2011. Mengenal dunia forex dan ekonomi untuk kemudian aktif sebagai jurnalis berita di Seputarforex.com sejak tahun 2013. Hingga kini masih aktif pula menulis di berbagai website di luar bidang forex serta sebagai penerjemah lepas.
Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Konten Oleh N Sabila

Pemotongan proyeksi IMF dan perkembangan negosiasi dagang AS-China, menjadi dua isu utama yang membuat emas dan Dolar AS saling berkompetisi sebagai safe haven.


Kemerosotan data perumahan AS kali ini mencapai yang terendah dalam tiga tahun terakhir. Namun, redupnya minat risiko membuat Dolar AS tetap kuat sebagai safe haven.


Euro melemah di sesi perdagangan Selasa malam ini, akibat lesunya performa data sentimen ekonomi ZEW Jerman dan pemotongan proyeksi pertumbuhan oleh IMF.


Dolar AS mempertahankan level tinggi dua pekan di sesi perdagangan Senin malam ini, terdukung oleh merosotnya pertumbuhan ekonomi China secara tajam di akhir tahun 2018.


Harga emas jeblok sejak akhir pekan lalu, gara-gara rumor bahwa AS akan menambah bea impor pada barang China.


Dari 10 negara pemborong perhiasan emas, Indonesia ternyata termasuk di antaranya. Bahkan, jumlah pembelian perhiasan emas kita tak jauh beda dengan Arab Saudi.


CAD menguat tipis merespon kenaikan inflasi Kanada di akhir tahun 2018. Secara umum, USD/CAD masih bergerak tak jauh dari level rendah yang terbentuk tanggal 9 Januari.


Di tengah kemelut Brexit, Penjualan Ritel Inggris turun ke level terendah satu setengah tahun. Akibatnya, Pound semakin tertekan.


Indeks Philly Fed Manufacturing AS mengawali tahun 2019 dengan kenaikan pesat ke level tertinggi tiga bulan. Namun, Dolar AS melemah tipis beberapa jam setelah rilis data tersebut.


Fokus utama pasar yang tertuju ke isu Brexit membuat rilis data Inflasi Inggris menjadi kurang berpengaruh. Padahal CPI Inggris turun ke terendah satu tahun.