Profil Penulis : n sabila

Sudah aktif berkecimpung di dunia jurnalistik online dan content writer sejak tahun 2011. Mengenal dunia forex dan ekonomi untuk kemudian aktif sebagai jurnalis berita di Seputarforex.com sejak tahun 2013. Hingga kini masih aktif pula menulis di berbagai website di luar bidang forex serta sebagai penerjemah lepas.
Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Beberapa jam jelang tutup tahun 2018, harga emas masih menguat di level tertinggi sejak Juni. Hal itu dikarenakan oleh melemahnya Dolar AS.
Hubungan perdagangan AS-China dan suku bunga The Fed menjadi isu fundamental yang mewarnai pelemahan Dolar AS, jelang tutup tahun 2018 malam ini.
Untuk pertama kalinya sejak 2016, aktivitas manufaktur China terkontraksi di bawah level 50. Namun perkembangan positif isu perang dagang membuat AUD tetap menguat.
PMI Chicago Dan Pending Home Sales menjadi rilis data ekonomi terakhir AS sebelum tutup tahun 2018. Kedua data tersebut melambat dan menambah tekanan bagi Dolar AS.
Euro tetap kokoh meski inflasi Preliminary Jerman lebih rendah daripada ekspektasi. Sebab. melemahnya Dolar AS menjadi isu yang lebih dominan di akhir tahun ini.
Commerzbank optimis harga emas akan menguat di tahun 2019. Namun, paladium justru diprediksi turun oleh bank kenamaan asal Jerman tersebut.
Franc Swiss malah menguat meski indeks kepercayaan bisnis Swiss (KOF) jeblok ke level terendah tahun 2018 ini. Lemahnya Dolar AS menjadi isu yang lebih dominan.
Kabar rencana pelarangan penggunaan produk Huawei dan ZTE di AS membuat pasar khawatir akan meningkatnya tensi perang dagang AS-China.
Optimisme konsumen di AS untuk bulan Desember menurun ke level terendah sejak Juli 2018. Akibatnya, Indeks Dolar AS pun melemah.
European Central Bank (ECB) menyorot adanya sinyal penurunan pertumbuhan global di tahun 2019 ke depan. Namun, EUR/USD masih menguat karena isu anggaran Italia.
Profitabilitas sektor industri China jeblok ke level terendah tiga tahun terakhir. Dolar Australia, yang merupakan mata uang proxy untuk kondisi ekonomi China, melemah karenanya.
Potensi meredanya konflik perdagangan AS-China dan rebound di pasar ekuitas membuat penguatan emas hari ini terbatas.
Dolar AS melemah di sesi Asia Kamis ini, menyusul rumor positif mengenai rencana pertemuan AS-China di Beijing bulan depan.
Dolar AS turun setelah Indeks Aktivitas Manufaktur di area Richmond merosot jauh ke teritori negatif.
Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda mengingatkan bahwa risiko ketidakpastian global makin meningkat. Namun, ekonomi Jepang cukup kuat dalam menghadapi tekanan eksternal.
Trump mengaku senang dengan kinerja Steven Mncuhin sebagai Menkeu. Namun, ia masih menyayangkan kebijakan The Fed yang menaikkan bunga terlalu cepat.
Harga emas naik di pekan terakhir 2018 ini. Para analis memprediksi logam mulia dapat menyentuh 1300 akibat tingginya permintaan pasar.
Kisruh politik di Amerika Serikat menekan Dolar AS di tengah libur panjang tahun baru kali ini. Dolar AS pun melemah terhadap Yen.
Pulihnya Dolar AS dari tekanan pasca pengumuman kebijakan The Fed, membuat harga emas turundari level tertinggi lima bulan.
Data GDP dan Penjualan Ritel Kanada yang dirilis bersamaan malam ini terpantau naik. Namun, Dolar Kanada melemah terhadap Dolar AS.
GDP AS Final kuartal ketiga direvisi turun 0.1 persen. Core Durable Goods Orders bahkan berbalik negatif. Namun, Indeks Dolar AS malam ini malah menguat.
Melebarnya defisit Current Account Inggris tak banyak melemahkan Pound. GBP/USD tetap menguat tipis, terdukung oleh lemahnya Dolar AS.
Indeks Kepercayaan Konsumen GfK Jerman flat di 10.4 persen. Meski sedikit lebih tinggi daripada ekspektasi, angka tersebut masih menjadi yang terendah dalam 2 tahun terakhir.
Dolar AS naik tipis di sesi perdagangan Jumat siang ini. Isu utama yang menggerakkannya adalah kondisi pasar ekuitas dan potensi Government Shutdown AS.
Pasar akhirnya menilai bahwa pernyataan kebijakan moneter The Fed masih bernada dovish. Emas pun mengambil kesempatan ini untuk naik.