Situasi Lucu Dari Perbandingan BIPI Dan ITMA

Dari segi harga, ITMA memang lebih tinggi dari BIPI. Namun sebenarnya, potensi BIPI 10 kali lipat lebih besar dari ITMA. Bagaimana bisa?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Sejak 3 Desember 2018, ada sebanyak 40% saham PT Sumber Energi Andalan (ITMA) beralih kepemilikan ke PT. Astrindo Nusantara Infrastruktur (BIPI). Dikutip dari ipotnews, emiten yang sebelumnya bernama Benakat Integra Tbk ini membeli sebanyak 276.760.000 lembar saham ITMA di harga Rp3465 per lembar. Sedangkan saat itu, saham ITMA di public dihargai sebesar Rp800 saja per lembarnya. Hal ini membuat ITMA terbang 80 poin ke Rp880 per lembar.

 

Sekilas Mengenai ITMA

PT. Sumber Energi Andalan dengan kode saham ITMA adalah anak usaha Tata Power di Indonesia. Usaha utamanya disebutkan berada dalam bidang perdagangan dan ekspor impor, serta jasa konsultasi dalam bidang pertambangan dan energi. Namun dalam laporan keuangannya, ITMA memperoleh pendapatan dari PT. Mitratama Perkasa (MP), yang melakukan bisnis dalam bidang infrastruktur energi.

Saham ITMA

Jadi, perusahaan ini sebenarnya bukan bergerak dalam bisnis jasa konsultasi seperti yang dilaporkan. Yang belum disadari banyak orang adalah, ITMA hanya menguasai 30% kepemilikan atas MP. Sedangkan 70%-nya dikuasai oleh BIPI!

 

Penjelasan Lebih Lengkap Mengenai BIPI Dan ITMA

BIPI sehari-hari diperdagangkan di harga Rp50 saja per lembar sahamnya. Walaupun akhir-akhir ini harganya sempat naik ke angka Rp62 per lembar, saham BIPI jatuh kembali ke titik nadir di Rp50 per saham. Jadi, agak "keterlaluan" jika emiten semurah BIPI bisa memiliki 70% kepemilikan MP, sementara ITMA yang hanya mempunyai 30% MP, justru dihargai 17 kali lipat lebih besar dari BIPI.

Apabila kita meilhat Laporan Keuangan ITMA secara seksama, maka kita hanya akan mendapati satu sumber pendapatan saja, yaitu MP. Sedangkan BIPI memiliki MP, Candice yang ukurannya 3 kali lipat lebih besar dari MP, dan Putra Hulu Lematang.

Ibarat memilih peternak, lebih baik mana peternak dengan 3 sapi perah yang besar-besar dan dihargai 50 saja per sahamnya, atau peternak dengan 1 sapi perah saja yang ukurannya masih imut-imut tapi dijual di harga Rp880 per saham?

Jelas dari nilai aset saja, BIPI ini berkali-kali lipat lebih menjanjikan daripada ITMA. Total Aset BIPI saat ini adalah USD1,346,553,935, sedangkan ITMA hanya USD128,947,948. Lalu berdasarkan laporan keuangan terakhir, BIPI memperoleh pendapatan sebesar USD362,259, itupun belumditambah hasil dari JV-nya. Di sisi lain, ITMA mendapatkan sebesar USD6,163 saja! Bukankah ini lucu? Pendapatan dan Total Aset BIPI jelas 10 kali lipat lebih banyak daripada ITMA, tapi BIPI harga sahamnya hanya Rp50 saja, sedangkan ITMA Rp880/lembar.

 

Mengapa ITMA Lebih Mahal?

ITMA dihargai lebih mungkin karena melihat Tata Power di belakangnya. Penulis akui bahwa manajemen berperan penting. Namun nyatanya, kendali kuasa atas MP dipegang oleh anak usaha BIPI! Maka apabila investor melihat Tata Power di belakang ITMA, ketahuilah bahwa itu hanyalah nama besar belaka. Manajemen atas MP lebih banyak diatur oleh orang-orang BIPI, yang lebih berkuasa karena memiliki 70% lebih kepemilikan atas MP. Hal ini bisa dicek langsung di laporan tahunan BIPI. Ditambah lagi, dengan dibelinya 40% saham ITMA, maka kuasa BIPI atas MP akan semakin kokoh.

 

Menimbang Prospek Saham BIPI

Penulis juga menyadari bahwa keuangan BIPI belum sepenuhnya baik-baik saja. Dengan rasio utang terhadap ekuitas (DER) sebesar 3 kali lipat, jutaan investor langsung kabur mendengarnya. Namun mohon dicatat, BIPI selalu berusaha membayar utang-utangnya, dan kontak-kontrak kerja juga sudah di tangan, sehingga bayangan akan pendapatan BIPI sudah ada di depan mata. Contoh kasusnya seperti Pertamina; walau nyatanya Pertamina selalu telat bayar, tapi pembayaran selalu dilakukan dan tidak pernah mengemplang.

Satu hal lagi mengenai BIPI yang patut diperhatikan adalah, langkah penyelamatan perusahaan dengan menjual divisi minyaknya di tahun 2017 kemarin adalah tindakan tepat, karena terbukti BIPI tidak lihai dalam melakukan bisnis minyak. Oleh karenanya, BIPI bisa dikatakan berfokus pada apa yang menjadi keahlian, dan ini adalah hal yang sangat tepat menurut penulis.

Saham BIPI

Penulis juga akui bahwa Laba per Lembar saham BIPI masih jelek, yaitu sekitar USD0.0003 per lembar saham, jauh lebih kecil jikan dibandingkan dengan ITMA yang sebesar USD 0.01 per lembar saham. Hal ini dikarenakan BIPI masih dalam tahap recovery sejak penghapusan divisi minyak dan perombakan internal yang dilakukan sejak 2017 kemarin. Namun mengingat potensinya, jelas BIPI jauh lebih besar 10 kali lipat daripada ITMA. Maka dari itu, rasanya keterlaluan sekali kalau BIPI hanya dihargai Rp50 per lembar saham, sedangkan ITMA bisa mencapai Rp880 per lembar saham.

Untuk masuk ke BIPI, penulis sarankan agar banyak bersabar, karena untuk menuai hasil akan dibutuhkan waktu beberapa tahun sampai boom komoditas batu bara kembali lagi. Sayangnya, karena kini Supply and Demand batu bara sudah mulai kembai ke titik setimbang, maka harga komoditas batu bara mulai menurun (< USD100), dan menandakan sinyal kurang baik secara momentum. Dengan melihat perbandingannya terhadap ITMA, BIPI jelas lebih berpotensi dan boleh dilirik saat muncul kebangkitan komoditas di siklus berikutnya.

Arsip Analisa By : Shanti Putri

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'