Advertisement

iklan

Ulasan Saham 14 Mei: LPKR dan 4 Saham Lainnya

Kali ini, pola indeks justru makin mendekati Descending Triangle Pattern karena secara perlahan mulai mendekati level 4,500.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Teknikal IHSG

Halo investor! Dalam ulasan sebelumnya saya telah mewanti-wanti akan pola Indeks yang memiliki dua sisi, baik Descending atau Ascending Triangle. Nah, kali ini pola indeks justru makin mendekati Descending Triangle Pattern karena secara perlahan mulai mendekati level 4,500 yang sebelumnya telah penulis perhatikan.

Penurunan IHSG tidak lain karena pelemahan lanjutan sektor finansial, dimana sektor ini menjadi penggerak Indeks karena memiliki bobot yang cukup besar. Pergerakan Indeks patut diwaspadai karena jika tembus di bawah 4,500 maka sangat terbuka untuk melemah hingga level 4,350.

Simak grafik berikut:

Ulasan Saham 14 Mei: LPKR dan 4 Saham

Berita Makro

  1. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun 2021. Dengan asumsi tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan mampu tumbuh pada kisaran 4,5%-5,5% dengan tingkat inflasi antara 2,0%-4,0%.
  2. Neraca dagang Indonesia pada bulan Maret 2020 tercatat mengalami surplus. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, surplus neraca perdagangan pada bulan Maret sebesar US$ 743,4 juta. Surplus neraca dagang ini di dapat setelah sektor non-migas mengalami surplus mencapai US$ 1,68 miliar serta di saat yang bersamaan sektor migas justru mengalami defisit US$ 932,6 juta.

 

Saham Pilihan Hari Ini

1. Lippo Karawaci (LPKR)

Tren LPKR secara weekly dan monthly terlihat bullish rebound, hal ini didukung oleh naiknya volume serta beli bersih asing senilai 800 juta. RSI belum overbought, dengan membentuk higher high support.

  • Close: 155
  • Target terdekat: 160/163
  • Cut loss 138.
  • Katalis: menurut Survei Bank Indonesia (BI) dana internal perusahaan masih memiliki porsi terbesar dalam komposisi sumber pembiayaan utama proyek perumahan. Hal tersebut tercermin dari penggunaan dana internal developer yang dominan hingga mencapai 61,63%.

 

2. Siloam International Hospital (SILO)

Dengan volume yang tipis serta masih belum terlihatnya net buy asing maka saham ini cocok untuk trading pendek dengan disiplin tinggi. Menarik karena saat ini level harga sudah kembali breaknew high (MA50) disaat market yang sedang turun.

  • Close: 5,500
  • Target terdekat: 5,600/5,850
  • Cut loss: 5,300
  • Katalis: Sektor kesehatan masih menarik karena merupakan segmen bisnis yang dibutuhkan oleh masyarakat. Apalagi, sektor rumah sakit akan menghasilkan pendapatan berulang (recurring income) bagi SILO.

 

3. Bank BRI Syariah (BRIS)

Diikuti oleh volume yang cukup tinggi, asing juga mencatatkan beli bersih. Namun waspadai RSI yang sudah mulai memasuki level jenuh beli (overbought). Tren mingguan dan bulanan bullish.

  • Close: 280
  • Target terdekat: 288/300
  • Cut loss: 250
  • Katalis: Bank BRI Syariah mencatatkan laba bersih Rp 75,15miliar di kuartal-I, dengan pertumbuhan 150%(yoy).

 

4. XL Axiata (EXCL)

Terdapat kenaikan volume dengan beli bersih asing senilai Rp 8 miliar. RSI 53% (belum overbought). Sementara weekly dan monthly chart sideways.

  • Close: 2,400
  • Target terdekat: 2,450/2,560
  • Cut loss: 2,150
  • Katalis : Laba bersih XCL melesat 2.577,16% secara year on year (yoy) dari Rp 57,93 miliar pada kuartal I-2019 menjadi Rp 1,5 triliun pada kuartal I-2020. Realisasi kinerja XL Axiata melebihi perkiraan konsensus analis.

 

5. Perusahaan Gas Negara (PGAS)

Bertahan pada fase perubahan pattern, tren harga sideways. Jika berhasil melampaui 895 sangat berpotensi untuk menuju 1000. Tren weekly dan monthly sideways.

  • Close: 855
  • Target terdekat: 870/900
  • Cut loss: 805.
  • Katalis: PGAS akan mengutamakan pengembangan infrastruktur gas dan virtual pipeline untuk meningkatkan pendapatan tahun ini dengan menyasar konsumen-konsumen industri.

Download Seputarforex App

Arsip Analisa By : Aditya Putra
292946

Aditya Putra telah aktif di dunia saham selama lebih dari 6 tahun dan hingga saat ini masih menjadi seorang Equity Analyst di perusahaan sekuritas. Aditya menyukai Value Investing, selalu berhasrat menemukan 'Hidden Gems' di saham-saham Small Caps Indonesia, dan terus mengamati saham-saham yang 'salah harga'.