Ulasan Saham 18 Oktober: Dari CPIN Hingga ESSA

290616

Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal untuk menurunkan suku bunga acuannya di bulan ini. Apakah berpengaruh terhadap IHSG? Simak pula saham pilihan hari ini.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

IHSG View

Tensi global di pekan ini sedikit mereda, yang memberikan kondusifitas di market. Namun, secara umum pergerakan IHSG masih cukup terbatas hingga pelantikan Presiden dan Wakil Presiden pada (20/Oktober). Meski demikian, pada perdagangan (17/Oktober), IHSG naik +0.18% ke level 6,181.

Beberapa sektor yang mendorong kenaikan IHSG bisa lihat di bawah ini.

 

Macro View

Penerimaan pajak Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sepanjang Januari-Agustus terpantau merosot. Pemerintah mengklaim kondisi itu terjadi lantaran penurunan tarif pajak UMKM dari 1.0% ke 0.5%. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, Penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Final UMKM pada laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Agustus mencapai Rp4.84 triliun. Angka tersebut lebih rendah 21.8% dibandingkan pencapaian periode sama pada tahun 2018, yaitu Rp6.19 triliun.

Daily Outlook: Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal menurunkan suku bunga acuannya di bulan ini, dikarenakan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi melemah dan perlambatan ekonomi global. International Monetary Fund (IMF) juga kembali memangkas pertumbuhan ekonomi global dari 3.2% menjadi 3.0% di tahun ini. Berita ini akan menjadi kabar positif bagi IHSG.

Berita Emiten:

Ketatnya persaingan di industri farmasi membuat Indofarma (INAF) secara perlahan mulai mengurangi portofolio bisnis obat. Sebagai penggantinya, perusahaan mulai fokus di sektor alat kesehatan.

Wijaya Karya (WIKA) getol mencari proyek di luar negeri. Kabar terbaru, perusahaan berkode saham WIKA di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu membidik kontrak pembangunan bandara di Taiwan senilai USD700 juta atau sekitar Rp9.87 triliun. Manajemen Wijaya Karya berharap memenangi proyek tersebut. Perolehan kontrak ini akan menambah capaian kontrak baru 2019.

Teknikal

Ulasan Saham 18 Oktober: Rekomendasi 4

Berdasarkan analisis pada grafik di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

  • Indeks Overall Trend Short Term: Uptrend
  • Price: Above MA20
  • Volume: Strong Buy
  • Sinyal: MACD GC dan Strong Buy Volume
  • Range IHSG: 6,140-6,210
  • Prediksi: Bullish

 

Saham-Saham Pilihan

1. Charoen Pokphand Indonesia (CPIN)

Last Price: 5,800

Tren Potensial: Strong Uptrend

Uptrend sejak pekan kedua di bulan Oktober, harga bertahan di upper band Bollinger bands, dengan RSI 68.1% yang menunjukkan belum overbought. Mendekat ke area resistance MA200 (5,950).

Action: Hold

  • TP: 5,900 dan 6,000
  • Support: 5,625
  • Cut Loss: 5,340
  • Area Buy: 5,625-5,675

 

2. Japfa Comfeed (JPFA)

Last Price: 1,655

Tren Potensial: Bullish Uptrend

Volume beli meningkat dan membawa harga menuju upper band Bollinger bands, potensi untuk mendekat di area sekitar MA200. RSI 68.7% menunjukkan kondisi belum overbought.

Action: Hold

  • TP: 1,690 dan 1,720
  • Support: 1,575
  • Cut Loss: 1,530
  • Area Buy: 1,575-1,590

 

3. Sentul City (BKSL)

Last Price: 121

Tren Potensial: Bullish

Harga sudah menembus MA200 dan bergerak dengan didukung oleh kenaikan volume. RSI 59.3% menunjukkan kondisi belum overbought, dan MA5 baru saja memotong ke atas MA20.

Action: Hold

  • TP: 124 dan 130
  • Support: 118
  • Cut Loss: 112
  • Area Buy: 118-120

 

4. Surya Esa Perkasa (ESSA)

Last Price: 274

Tren Potensial: Reversal-Bullish

Break upper band Bollinger bands, dengan volume di dua hari terakhir cukup tinggi. RSI 64.2% menunjukkan kondisi belum overbought. MA5 memotong ke atas MA9 dan MA20.

Action: Hold

  • TP: 274 dan 284
  • Support: 260
  • Cut Loss: 250
  • Area Buy: 260-264
Arsip Analisa By : Aditya Putra

Aditya Putra telah aktif di dunia saham selama lebih dari 6 tahun dan hingga saat ini masih menjadi seorang Equity Analyst di perusahaan sekuritas. Aditya menyukai Value Investing, selalu berhasrat menemukan 'Hidden Gems' di saham-saham Small Caps Indonesia, dan terus mengamati saham-saham yang 'salah harga'.