Beberapa Cara Menentukan Stop Loss

103627

Stop Loss memang bukan tools trading favorit para trader. Namun bagi trader profesional, Stop Loss justru adalah senjata yang powerful.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Banyak trader yang mengalami loss besar karena tidak menggunakan Stop Loss, walaupun sebenarnya mereka mengerti bahayanya bila trading tanpa pelindung. Seringkali, profit yang telah diperoleh dengan menghimpun pip demi pip selama beberapa hari bahkan beberapa minggu hilang begitu saja karena loss yang tidak terbendung.

Stop Loss memang bukan alat trading favorit. Banyak trader yang enggan menggunakannya karena berkaitan dengan jumlah kerugian yang mesti ditanggung. Namun bagi trader profesional dan trader yang telah berpengalamanm=, Stop Loss adalah senjata trading yang sangat powerful dan selalu mereka gunakan setiap kali masuk pasar. 

Beberapa Cara Menentukan Stop Loss

Dengan pengalaman menggunakan Stop Loss, mereka mampu menghasilkan profit konsisten dalam kurun waktu tertentu. Suka atau tidak suka, Stop Loss memang sangat penting dan harus ada dalam rencana trading, juga strategi Money Management seorang trader yang ingin sukses.

Tidak ada metode baku dalam menentukan besarnya Stop Loss. Setiap trader bisa dengan bebas menentukan level Stop Loss sesuai dengan analisa kondisi pasar, tapi harus logis dan obyektif. Beberapa cara yang sering digunakan antara lain dengan Equity Stop, berdasarkan pola (pattern) chart, Margin Stop, dan berdasarkan volatilitas harga pasar. Penjelasan selengkapnya bisa Anda simak sebagai berikut:

 

1. Cara Menentukan Stop Loss Dengan Money Management

Dalam strategi Money Management, ada peraturan yang seolah telah menjadi mitos bahwa risiko maksimum sebaiknya tidak melebihi 2% sampai 3% dari total Equity. Berdasarkan peraturan ini, trader menghitung besarnya Stop Loss setelah menentukan ukuran lot sesuai dengan maksimum risiko yang disepakati.

cara menentukan stop loss dengan money management

(Baca juga: Hindari 3 Kesalahan Ini Saat Memasang Stop Loss Dan Take Profit)

Misalnya, besar Balance Account $1,000 dan akan buka posisi buy EUR/USD sebanyak 4000 unit atau per pip-nya sebesar $0.4. Jika risiko yang ditetapkan 2% dari modal, berarti $1,000 X 2% = $20, maka besarnya Stop Loss = $20 / $0.4 = 50 pip. Dalam hal ini, trader tersebut tidak fokus pada analisa pasar dalam menentukan Stop Loss, tetapi lebih ke besarnya risiko per trade dan besarnya trading lot (volume).

 

2. Stop Loss Berdasarkan Pola Chart

Cara menentukan Stop Loss ini sering digunakan dan didasarkan pada pola-pola pergerakan harga dengan level Support dan Resistance, serta kadang-kadang dikombinasikan dengan indikator untuk konfirmasinya. Pada pokoknya, cara ini menggunakan dua pendekatan yang berbeda, yaitu Stop Loss yang didasarkan pada level Support dan Resistance termasuk level-level Fibonacci Retracement, dan Stop Loss yang didasarkan pada garis trend.

Dalam penerapan praktis, cara menentukan Stop Loss ini sering dikombinasikan dengan Equity Stop dalam besaran yang telah dibatasi. Untuk lebih jelasnya, Anda bisa lihat pada gambar di bawah ini:

cara menentukan stop loss dengan pola chart

Cara Menentukan Stop Loss Berdasarkan Pola (Pattern) Chart

 

Beberapa Cara Menentukan Stop Loss

Cara Menentukan Stop Loss Berdasarkan Proyeksi Level Fibonacci

 

Beberapa Cara Menentukan Stop Loss

Cara Menentukan Stop Loss Berdasarkan Trendline (Garis Trend)

 

3. Margin Stop

Cara menentukan stop loss dengan Margin Stop sangat tidak dianjurkan bagi trader pemula. Dengan cara ini, trader menentukan besarnya Stop Loss berdasarkan nilai Margin Call dari total Balance-nya, sehingga jika level Stop Loss kena, sisa uang yang ada di akun trading hanya sebesar margin awal saat buka posisi, atau dengan kata lain trader tersebut berspekulasi habis-habisan pada posisi yang dia buka.

Biasanya, order dibagi dalam beberapa bagian, dan setelah menentukan besarnya trading lot, trader tersebut menghitung besarnya Stop Loss untuk masing-masing bagian berdasarkan nilai Margin Call total balance dalam akunnya. Tentu saja ia harus mempertimbangkan margin level atau level Stop Out yang berbeda untuk setiap Broker Forex.

 

4. Stop Loss Berdasarkan Volatilitas Harga Pasar

Volatilitas harga pasar bisa juga digunakan untuk menentukan besarnya Stop Loss. Pada kondisi pasar yang bergejolak, trader menetapkan Stop Loss yang cukup besar guna menghindari noise ataupun loncatan harga yang mungkin terjadi dan berdampak merugikan. Sebaliknya pada saat kondisi pasar tenang dan volatilitas rendah, Stop Loss tidak perlu terlalu besar. Indikator yang populer untuk mengukur volatilitas adalah Bollinger Bands seperti pada contoh berikut:

Cara Menentukan Stop Loss Dengan Volatilitas

 

Penutup

Itulah beberapa cara menentukan Stop Loss yang sering dilakukan trader. Sebagai tambahan, jika kebetulan Anda melakukan news trading atau membuka posisi sesaat sebelum rilis berita ekonomi dengan cara trapping (Pending Order buy dan sell secara bersamaan), Anda harus menentukan Stop Loss pada order Anda, karena pada saat berita penting dirilis, server broker biasanya akan overload dan delay berkepanjangan dimana Anda akan kesulitan melakukan order Stop Loss secara manual.

 

Semoga setelah ini Anda bisa bertrading dengan bijak dan tahu cara menentukan Stop Loss yang tepat demi keselamatan akun trading. Selain empat poin di atas, ada satu cara lagi untuk menentukan besaran Stop Loss, yakni dengan menggunakan Price Action. Mau tau caranya? Selengkapnya bisa Anda simak di artikel kami berjudul: Menentukan Stop Loss Dan Target Dengan Price Action.

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.


Mahrus
Kalau pasar sedang volatilitas rendah bisa ndak ya nentuin stop loss yang sempit dari level support dan resistan saja?
Martin S
@ mahrus :
bisa, tetapi untuk pasar yang choppy atau bergerak tidak menentu dengan range trading yang rendah cara tersebut agak berbahaya. Cara itu bisa digunakan jika level support dan resistance-nya sudah jelas atau pasar memang bergerak sideways dengan range tertentu dan price action yang jelas. Sebagai referensi bisa baca: Ketika Pasar Sedang Slow
Fandy_handy
kayakx kalo caranya pakai margin stop sama ja kayak ga pake stop loss deh. buat apa nentuin stop loss kalo kemungkinan terburuknya kena mc? kalo kayak gitu trader yang ga pake pengaman trading sekalipun pasti resikonya juga sama...
Martin S
@ fandy_handy :
Ya, Anda benar, tetapi dalam hal ini ada beberapa posisi dan masing-masing stop loss ditentukan sedemikian rupa sehingga totalnya kalau kena semua sama dengan level margin call-nya.

Namun demikian belum tentu semua stop loss akan terkena apa lagi kalau posisi trading yang dibuka bersifat heding atau korelasinya negartif misalnya buy EUR/USD dan buy USD/CHF.
Arif Wardana
Menentukan stop loss akan lebih mudah jika disesuaikan dengan kepentingan trading, apakah lebih fokus untuk meminimalisir resiko atau mengantisipasi tren pasar yang lebih membuka peluang untuk profit. Cara apapun bisa dilakukan asal penerapannya bisa konsisten dan diimbangi dengan sistem trading yang disiplin juga
H.basuki
ane masi kurang paham kenapa pas volatilitas tinggi stop lossnya makin lebar, bukan nya nanti resiko nya juga tambah besar ya kalo seperti itu?
Martin S
@ h.basuki :
Volatilitas tinggi berarti fluktuasi harga dan range tradingnya juga cenderung tinggi dimana simpangan dari level high ke level low akan lebih lebar. Jika stop loss Anda tidak cukup lebar maka akan mudah terkena. Stop loss yang lebih besar bukan berarti resiko Anda juga lebih besar, Anda bisa mengatur position size atau ukuran lot / volume trading. Justru kalau stop loss terlalu mepet resiko kemungkinan terkenanya lebih besar.
Arif Wardana
@H.basuki; Kalau Anda ingin posisi trading untuk tidak cepat terkena stop loss ya cara yang tepat dilakukan adalah memperlebar level stop loss saat volatilitas sedang tinggi. Kalau terjadi lonjakan harga ke atas, biasanya harga juga akan cepat berbalik ke bawah jika volatilitas pasar tinggi, begitu juga dengan sebaliknya. Kalau menempatkan posisi stop loss terlalu dekat, kemungkinan besar order Anda akan terkena stop loss dulu sebelum mencapai target profit yang diharapkan.
Karis
mau tanya, seandainya kita uda pasang stop loss, harga kena tuh ke SL nya, tapi ternyata harga berbalik ke TP setelah kena SL nya, bagaimana ya menyiasatinya, padahal uda dibuat sedemikian rupa, pakai ratio 40 : 20, pakai level suport dan resist.
Martin S
@ Karis:
Evaluasi lagi cara menentukan stop loss-nya. Kalau berdasarkan level support atau resistance jangan persis pada level tersebut tetapi dibawah level support (untuk posisi buy) atau diatas level resistance (untuk posisi sell). Risk/reward ratio tidak menjamin stop loss nggak bakal kena, tetapi dalam jangka panjang hasil tading Anda akan positif jika ratio-nya lebih besar dari 1:1. Sekalipun Anda menggunakan sistem trading yang profitable bukan berarti stop loss Anda tidak bakalan kena. Hasil trading dilihat setelah beberapa kali trade dalam suatu periode waktu tertentu, bukan trade per trade. Jadi setiap trade tidak harus profit melainkan dilihat dari keseluruhan trade.