Advertisement

iklan

Musim Dividen Bagi Investor Saham Telah Tiba

Musim dividen bagi investor saham telah tiba. Mungkin inilah momen yang ditunggu-tunggu oleh sebagian investor. Setelah menjadi pemilik perusahaan (meski hanya punya 100 lembar saja), sekaranglah saatnya mengharap hak atas kepemilikan itu, mengharap hak atas laba perusahaan, atau mengharap hak atas pembagian dividen.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Musim dividen bagi investor saham telah tiba. Mungkin inilah momen yang ditunggu-tunggu oleh sebagian investor. Setelah menjadi pemilik perusahaan (meski hanya punya 100 lembar saja), sekaranglah saatnya mengharap hak atas  kepemilikan itu, mengharap hak atas laba perusahaan, atau mengharap hak atas pembagian dividen.

Oh iya. Sebelum berbicara lebih jauh lagi, tiba-tiba penulis ingat waktu masih duduk dikelas, kelas perkuliahan, kelas pasar modal. Dari sana lah, awal mula penulis tahu kalau ada dua keuntungan investasi dipasar modal, capital gain dan atau dividen.

 

Mau Dividen Atau Capital Gain?

Dividen atau capital gain bisa dijadikan sebagai orientasi bagi investor pemula, investor yang baru masuk ke investasi pasar modal, namun belum begitu tahu apa dan bagaimana itu pasar modal. Maksudnya, sebelum dia benar-benar menggunakan uangnya, bagi investor pemula amat lah penting untuk menentukan tujuan investasi di pasar modal. Tujuan apakah orientasinya untuk mendapatkan capital gain, atau mendapatkan dividen, atau capital gain dan dividen.

Bagi investor yang orientasinya capital gain, musim pembagian dividen ini dirasa tidak begitu penting. Mengingat, bagi yang orientasinya capital gain hanya mengandalkan garis analisis atau teknikal analisis sebagai dasar keputusan investasinya. Maklum, kuntungan investasi yang diharapkan hanya dari kenaikan harga sahamnya saja, bukan dari laba perusahaan. Beda halnya jika orientasi investor untuk mendapatkan dividen, atau ingin mendapatan dividen dan capital gain. Maka, musim dividen inilah momen yang paling ditunggu-tunggu. Namun, apakah sesungguhnya perusahaan yang membagikan dividen tinggi itulah perusahaan yang menarik?

melihat lebih dalam tentang deviden dan kapital gain
Sebenarnya menarik atau tidak suatu perusahaan, itu dikembalikan lagi ke tipe masing-masing investor dan tujuan investasinya. Karena, ada yang menganggap bahwa yang paling menarik adalah yang membagikan dividen yang paling tinggi. Tinggi disini bukan berarti nominalnya yang besar, tetapi prosentase dari laba bersihnya atau dari yield jika dibandingkan harga saham saat ini.

Misalkan saja PT ABC membagikan dividen sebesar Rp 50 per lembar. Harga saham saat ini adalah Rp 500, per lembar. Jika kita investasikan uang kita ke saham PT ABC di harga itu, per lembarnya kita akan dapat dividen Rp 50. Dengan demikian, keuntungan investasi kita sebesar 10% dalam setahun. Mengapa demikian?

Jika kita lihat besarnya dividen dan harga sahamnya, besarnya dividen adalah 10% dari harga saham saat ini. Jika kita sudah memutuskan investasi di PT ABC dan mengabaikan ke depan saham tersebut naik atau turun, maka setahun keuntungan investasi yang kita dapet sebesar 10%. Dan keuntungan 10% tersebut akan masuk ke rekening kita saat jadwal pendistribusian dividen tiba.

Atau ada juga yang menganggap bahwa perusahaan yang membagikan dividen sampai 50% - 100% dari laba bersih itulah perusahaan yang paling menarik untuk investasi. Misalnya, PT ZYX mengalokasikan 80% laba bersih untuk dividen. Mungkin saja perusahaan ini dianggap menarik oleh investor, mengingat perhatian perusahaan kepada Stockholder nya begitu besar. Dan perusahaan yang membagikan dividen dengan porsi yang besar dari laba bersihnya ini sering dianggap sebagai perusahaan yang sangat mementingkan kesejahteraan para pemegang sahamnya.

 

Perkiraan Investasi Dalam Jangka Panjang

Namun, baik yield yang besar atau porsi dividen yang besar dari laba bersih, penulis merasa perusahaan itu kurang menarik sebagai target investasi. Bagi penulis, yang terpenting adalah bagaimana bisnis perusahaan berkembang lebih cepat. Sehingga, jika penulis sudah membelanjakan uang untuk membeli perusahaan dan perusahaan tersebut kemudian membagikan dividen, penulis sering menganggap kalau itu hanya bonus yang perusahaan berikan kepada para pemegang sahamnya.

Bahkan kalau perusahaan tidak membagikan dividen, penulis malah akan sangat senang. Tetapi, alasan tidak membagikan dividen bukan karena perusahaan mengalami kerugian. Melainkan, ada rencana aksi korporasi yang akan dikembangkan perusahaan dan itu membutuhkan modal yang besar. Daripada modal tersebut didapat dari pinjaman, alangkah baiknya jika modal tersebut didapat dari kas perusahaan sendiri.

Seperti TBIG (PT Tower Bersama Infrastruktur Group, Tbk) yang belum pernah membagikan dividennya kepada para pemegang sahamnya. Padahal, jika dilihat laba bersihnya sejak pertama kali listing tahun 2010 hingga 2013, laba bersih TBIG naik hampir 300%. Menurut penulis, inilah perusahaan yang menarik untuk investasi. Manajemen perusahaan lebih fokus ke bagaimana pertumbuhan bisnis perusahaan, ekspansi dan sebagainya. Sehingga jika dilihat dari tahun yang sama, ekuitas perusahaan naik hampir 90% dengan peningkatan saldo laba sebanyak 440%.

Jika dilihat persentase saldo laba TBIG, tahun 2010 persentase saldo laba hanya 21% dari total ekuitas. Namun, ditahun 2013 persentasenya naik menjadi 65%. Ini membuktikan bahwa, perusahaan tidak membagikan dividen karena fokus membesarkan bisnis perusahaan. Maka pantas saja jika harga saham perusahaan sudah naik sebanyak 186% dari pertama kali listing hingga akhir tahun 2013. Sayangnya, penulis baru tahu dan serius mempelajari pasar modal sejak tahun kemaren. Sehingga, kalau beli TBIG sekarang, penulis rasa sudah terlambat. Harga saham TBIG sudah 7 kali dari harga wajarnya. Sudah sangat mahal dan penulis tidak sanggup.

Berkaca dari TBIG diatas, memang dividen memiliki peran krusial terhadap perusahaan. Dan hal ini sangat nampak terlihat saat kita menganalisis dari mana sumber dividen itu berasal. Dividen berasal dari laba perusahaan. Jika laba tersebut dikelola untuk mengembangkan bisnis perusahaan, maka perusahaan tidak perlu sumber pendanaan lain, kecuali kalau modal tersebut dirasa kurang. Misalnya perusahaan akan buka pabrik baru atau akan mendirikan anak usaha baru. Modal yang digunakan bisa berasal dari laba perusahaan. Sebagai konsekuensinya, pemegang saham tidak mendapatkan dividen. Namun sisi positifnya, perusahaan tidak perlu menambahkan hutang baru untuk modal pengembangan tersebut.

Dan juga, ada keuntungan lain yang didapatkan ketika pengembangan bisnis dimodali dengan kas perusahaan sendiri, yaitu ketika pengembangan itu berhasil menambah laba usaha perusahaan, perusahaan tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar beban hutang beserta beban bunga nya. Sehingga, laba bersih yang didapatpun akan maksimal. Dan hal ini tentu dapat dilihat dari net profit marginnya (NPM), yaitu persentase nilai NPM akan meningkat.

 

Keuntungan Dari Investasi Yang Bagus

Jika perusahaan tidak membagikan dividen, sedangkan kita adalah investor jangka panjang, dari mana keuntungan investasi yang kita dapatkan?

Sebelum kita membeli perusahaan, tentunya kita sudah menganalisis bagaimana perkembangan bisnis perusahaan itu kedepan, bagaimana kondisi keuangan nya, dan juga bagaimana posisi harga saham nya sekarang. Kita tidak akan memilih perusahaan yang tidak bisa berkembang bisnisnya. Kita pun tidak akan membeli perusahaan yang memiliki kondisi keuangan yang buruk. Untuk perusahaan yang memiliki prospek baik dan juga posisi keuangan sehat, namun harga sahamnya yang sudah terlalu mahal, mungkin kita akan sedikit mempertimbangkannya.

Namun, untuk perusahaan yang memiliki prospek perkembangan bisnis yang bagus, kondisi keuangan yang sehat, dan harga saham yang masih murah, walau ia membagikan porsi dividen yang kecil atau bahkan tidak membagikan dividen demi mengembangkan perusahaan, inilah target perusahaan yang akan kita beli. Meskipun nanti tidak mendapatkan dividen, kita akan mendapatkan perusahaan yang berkembang dengan begitu pesatnya. Sehingga, tidak usah khawatir kita tidak mendapatkan keuntungan.

Seperti TBIG yang tidak mendistribusikan dividen, namun harga sahamnya sudah meningkat 186%. Karena sejatinya, harga saham akan mengikuti bagaimana perkembangan perusahaan. Dan sebetulnya, keuntungan investasi jika orientasi kita ke dividen, paling besar tidak sampai 20% pertahun. Namun, jika kita menginginkan keuntungan investasi sampai 50%, 100% bahkan lebih pertahun, maka dividen bukanlah cara tepat untuk merealisasikan keinginan itu.

 

Kesimpulan Tentang Keuntungan Saham

Penulis sendiri sejujurnya lebih berorientasi ke capital gain dan dividen sebagai tujuan investasi. Sehingga, penulis lebih memilih perusahaan yang memiliki prospek bisnis yang bisa berkembang pesat kedepannya. Meskipun hanya membagikan dividen 20% dari persentase laba bersih, bagi penulis tidak masalah. Toh, penulis sudah menganggap bahwa dividen adalah bonus yang perusahaan berikan kepada pemegang saham.

Sehingga, kalaupun perusahaan tidak memberikan dividen, asalkan laba bersih yang didapat dipakai untuk pengembangan perusahaan, penulis malah sangat senang. Dengan perusahaan yang semakin berkembang, maka harga sahamnya pun akan ikut berkembang. Bahkan, sering kali perkembangan harga saham inilah yang paling besar persentase keuntungannya jika dibandingkan persentase keuntungan dari pembagian dividen.

Musim dividen telah tiba. Dan sekali lagi penulis mengingatkan jika dividen memiliki peran yang penting bagi perkembangan bisnis perusahaan. Meskipun begitu, semua keputusan investasi ada ditangan masing-masing investor. Jadi, mau dividen, capital gain atau dividen + capital gain, silahkan pilih menu favorit menurut selera Anda.

Selamat berinvestasi.

Alumni jurusan Manajemen Universitas Negeri Semarang yang aktif di bidang saham sejak masa kuliah. Royan berfokus pada analisa fundamental dalam memilih investasi potensial, khususnya valuasi emiten.