Advertisement

iklan

TBIG: Resmi Akuisisi Visi Telekomunikasi Infrastruktur

Sepanjang tahun ini, perusahaan-perusahaan menara gencar berekspansi. Ketersediaan menara pun menjadi incaran 2 raksasa, yaitu PT Sarana Menara Nusantara Tbk dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Setelah mengumumkan tengah melakukan negosiasi pembelian pada awal bulan ini, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk akhirnya resmi menjadi pengendali PT Visi Telekomunikasi Infrastruktur Tbk per 17 Desember 2018.

Pada dokumen resmi yang dipublikasikan emiten dengan kode saham TBIG tersebut, Tower Bersama Infrastructure melakukan pengambilalihan 51% saham, dari lima pihak yang sebelumnya menggenggam Visi Telekomunikasi Infrastruktur atau GOLD. Kelima pihak yang melakukan divestasi saham GOLD yaitu PT Amanda Cipta Persada, PT Mulia Sukses Mandiri, PT Scavino Ventures Ltd, PT Lancar Distrindo, dan PT Sukses Prima Sakti. Mereka melepas total 160,446,200 lembar saham GOLD pada TBIG dengan nilai transaksi Rp35.46 miliar.

TBIG : Resmi Akuisisi Visi

Perseroan sebelumnya telah menandatangani Perjanjian Jual-Beli tertanggal 30 November 2018, yang selanjutnya diubah berdasarkan Tambahan Perjanjian Jual Beli Saham pada tanggal 14 Desember 2018.

Sesuai pasal 1 ayat 4 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 9/2018 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka yang mendefinisikan Pengendali Perusahaan Terbuka, maka dengan kepemilikan 51% tersebut, TBIG resmi menjadi pengendali GOLD per 17 Desember 2018.

"Tujuan dari pengambilalihan ini adalah untuk pengembangan usaha dan memperluas jaringan usaha, serta untuk memperkuat posisi bisnis perseroan di bidang jasa infrastruktur telekomunikasi," ungkap Manajemen TBIG.

Aksi korporasi anorganik ini bukan yang pertama dilakukan TBIG pada tahun 2018. Pada semester 1-2018 emiten milik Grup Saratoga ini juga mencaplok 19.79% saham PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk.

 

Valuasi Menarik GOLD

Visi Telekomunikasi Infrastruktur merupakan emiten menara yang terbilang kecil, karena hanya memiliki 305 menara per September 2018. Perusahaan yang tidak dapat beroperasi dengan efisien tersebut tentu menjadikannya sasaran empuk bagi TBIG.

Berdasarkan laporan keuangannya, GOLD membukukan pendapatan sebesar Rp25.38 miliar hingga September 2018, meningkat 31.2% dibandingkan periode sama di tahun sebelumnya yang sebesar Rp19.4 miliar. Liabilitas perseroan pada periode itu tercatat meningkat 32.86%, dari Rp99.09 miliar ke level Rp131.66 miliar (yoy). Meski pendapatan naik, GOLD membukukan rugi neto tahun berjalan sebesar Rp4.24 miliar, dari laba Rp281.5 juta per September 2017.

Pada penutupan perdagangan Selasa (18/12), harga saham TBIG melemah 60 poin atau 1.56% ke level Rp3,780, sedangkan harga saham GOLD melemah 2% atau 10 poin ke level Rp490.

286676

Penulis lepas bidang saham yang juga merupakan investor pasar modal. Selain itu, Alia merupakan pemerhati aksi korporasi emiten. Penulis sudah berkecimpung lebih dari 3 tahun dalam tulis-menulis sektor ekonomi dan update terhadap isu-isu nasional.