Ulasan Saham 19 September: TLKM Dan 3 Saham Lainnya

290156

The Fed akhirnya memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuannya, lalu apakah ada pengaruh positif ke IHSG hari ini? Simak pula saham-saham pilihan kami lainnya.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

IHSG View

The Fed menurunkan suku bunga acuan pada kemarin (18/09), sebesar 25 basis poin (bps) di range (1.75%-2%) berimbas pada kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada perdagangan, Kamis (19/09), IHSG menghijau sebesar +0.64% ke level 6,276.

Beberapa sektor yang mendorong kenaikan IHSG dapat dilihat di bawah ini:

 

Macro View

Bank Indonesia (BI) diperkirakan kembali menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5.25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini. Peluang Rate Cut oleh BI itu diperkuat dengan adanya kebijakan pemotongan suku bunga yang sudah dilakukan oleh Bank Sentral AS, The Fed.

Daily Outlook: Setelah The Fed menurunkan suku bunga, hari ini giliran BI yang akan memutuskan apakah suku bunga benar-benar akan turun atau tetap. Menurut konsensus analis, suku bunga akan diturunkan sebesar 25 bps, dan saham-saham yang berkorelasi terhadap suku bunga sudah mengalami penguatan dalam beberapa hari sebelumnya. Saham-saham yang dimaksud seperti di sektor perbankan dan properti, namun jika BI Rate benar-benar turun, maka investor harus waspada karena bisa saja terjadi Sell on The News.

 

Berita Emiten

Setelah menentukan tiga Strategic Business Unit (SBU), Indofarma (INAF) optimistis kinerja perseroan bakal membaik di tahun ini. Manajemen membagi tiga SBU yang menjadi ujung tombak usaha perseroan, yakni farmasi, produk herbal (natural extract) dan alat kesehatan (alkes).

Walaupun ekonomi dalam negeri masih lesu, penjualan mobil (wholesales) Astra International (ASII) masih tercatat naik. Di Agustus, penjualan mobil ASII, termasuk LCGC, mencapai 58,592 unit, naik tipis 1.40% dari 57,780 unit di bulan Juli. Selain itu, pangsa pasar ASII juga naik menjadi 52% dari nilai 50% di Juli lalu. Meski kenaikan penjualan tipis, kondisi ini merupakan keberhasilan tersendiri bagi Astra International.

Teknikal

Ulasan Saham 19 September: Menu Trading

  • Indeks Overall Trend Short Term: Rebound-Konsolidasi
  • Price: Di bawah MA5 dan MA20
  • Volume: Naik-Sedang
  • Sinyal: Menguji MA20
  • Daily Expectation: Flat dengan volume beli yang sedikit tertahan
  • Range IHSG: 6,200-6,280
  • Prediksi: Sideways

 

Saham-Saham Pilihan

1. Telekomunikasi Indonesia (TLKM)

Last Price: 4,250

Tren Potensial: Short term upside

MA5 masih di bawah MA20 dan MA9, dengan sinyal perpotongan masih menunggu konfirmasi di level 4,300. Terdekat MA5 berpotensi memotong ke atas MA9. RSI oversold (39.9%).

Action: Wait until MA5 confirm crossover MA20

  • TP: 4,340 dan 4,400
  • Support: 4,240
  • Cut Loss: 4,160
  • Area Buy: 4,240-4,260

 

2. Sentul City (BKSL)

Last Price: 126

Tren Potensial: Upside Short Term

MA5 gagal memotong ke bawah MA20, dengan volume beli yang meningkat serta Stochastic sudah Golden Cross (GC). RSI 54.4% (belum jenuh beli).

Action: Speculative Buy

  • TP: 129 dan 134
  • Support: 126
  • Cut Loss: 122
  • Area Buy: 126-128

 

3. Steel Pipe Industry of Indonesia (ISSP)

Last Price: 121

Tren Potensial: Upside Short Term

White long candle bullish diikuti dengan volume beli meningkat tajam, histogram MACD positif, dan RSI belum overbought (<64.2%).

Action: Hold

  • TP: 124 dan 130
  • Support: 116
  • Cut Loss: 114
  • Area Buy: 116-118

 

4. KMI Wire & Cable (KBLI)

Last Price: 670

Tren Potensial: Strong Upside

Rounding bottom selama Juli-September, dengan harga saat ini sudah berada di upper band Bollinger bands, volume beli meningkat serta RSI berada di level 80.2%.

Action: Hold

  • TP: 680 dan 690
  • Support: 625
  • Cut Loss: 610
  • Area Buy: 625-635
Arsip Analisa By : Aditya Putra

Aditya Putra telah aktif di dunia saham selama lebih dari 6 tahun dan hingga saat ini masih menjadi seorang Equity Analyst di perusahaan sekuritas. Aditya menyukai Value Investing, selalu berhasrat menemukan 'Hidden Gems' di saham-saham Small Caps Indonesia, dan terus mengamati saham-saham yang 'salah harga'.