Di Tengah Tantangan Global, Bursa Nantikan Wajah Baru Indonesia

Sepekan sebelumnya, Zona Eropa memanas dan IMF memangkas ekspektasi ekonomi global membuat bursa global bergerak dengan volatilitas yang tinggi. Pergerakan yang sangat liar tersebut, membuat pergerakan bursa saham Indonesia ikut bergerak seirama. Apalagi, sentimen politik dalam negeri ikut mempengaruhi pergerakan IHSG.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Sepekan sebelumnya, Zona Eropa memanas dan IMF memangkas ekspektasi ekonomi global membuat bursa global bergerak dengan volatilitas yang tinggi. Pergerakan yang sangat liar tersebut, membuat pergerakan Bursa Saham Indonesia ikut bergerak seirama. Apalagi, sentimen politik dalam negeri ikut mempengaruhi pergerakan IHSG.

Bursa Saham - ilustrasi

Perlambatan Ekonomi Global Masih Menghantui

Salah satu sentimen yang paling berpengaruh terhadap pergerakan bursa nasional, regional, dan global adalah melambatnya ekonomi global. IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk 2014 menjadi 3.3% dan 3.8% untuk 2015. Menurut IMF, perekonomian kawasan Eropa semakin melemah,  perekonomian China juga mulai melambat, serta upaya Jepang untuk keluar dari stagnasi ekonomi belum membuahkan hasil.

Dari kawasan Eropa, perekonomian negara-negara kawasan ini masih menunjukan pelemahan. Apalagi, belum terselesaikannya krisis geopolitik yang terjadi di Ukraina semakin mengecilkan optimisme bahwa kawasan ini bisa memulihkan perekonomian. Solusi stimulus yang dilakukan Bank sentral Eropa pun dinilai kurang efektif. Kondisi ini membuat Indeks keyakinan investor Jerman turun menjadi minus 3.6 di bulan Oktober dari 6,9 di bulan September. Federal Statistics Office (FSO) pun melaporkan ekspor Jerman bulan Agustus 2014 terkontraksi 5.8% menjadi surplus 17.5 miliar Euro dari sebelumnya 22.2 miliar Euro.

Tingkat inflasi Jerman untuk bulan September tercatat sebesar 0.8% YoY, stagnan dari inflasi bulan Agustus dan Juli pada level yang sama. Pemerintah Jerman juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonominya menjadi 1.2% di 2014 dari estimasi awal sebesar 1.8%. Selain itu, inflasi Inggris untuk bulan September tercatat sebesar 1.2%, lebih rendah dari 1.5% di bulan Agustus, dan juga lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 1.4%. Penjualan ritel Inggris juga turun 2.1% YoY di bulan September. Selain itu, produksi industrial euro zone turun 1.8% MoM di bulan Agustus dan 1.9% YoY yang disebabkan oleh output of capital goods yang turun 4.8% Penurunan tersebut mencerminkan investasi yang terus melemah di kawasan eropa.

Sementara data ekonomi yang dirilis China melaporkan, bahwa surplus perdagangan tercatat sebesar US$31 miliar di bulan September. Surplus perdagangan China bulan September lebih rendah dari surplus di bulan Agustus sebesar US$49,8 miliar. Ekspor China naik 15,3% YoY di bulan September dengan impor China yang juga tumbuh 7%. Data impor China merupakan sentimen positif bagi pasar karena pertumbuhan impor merupakan tanda bahwa permintaan domestik mulai membaik.

Inflasi China bulan September sebesar 1,6% atau lebih rendah dibanding 2% pada Agustus 2014. Untuk merangsang pertumbuhan ekonomi, PBoC pun kembali pangkas suku bunga acuan Yuan sebesar 0.08%. Sedang data PPI Cina turun 1.8% YoY dibanding proyeksi yang turun 1.6%. Langkah pemangkasan suku bunga acuan juga dilakukan Bank of Korea (BoK).BoK pangkas suku bunga acuan menjadi 2% dari 2.25%. BoK pangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2015 menjadi 3.9% dari 4% dan outlook inflasi menjadi 2.4% dari 2.7%. Pertumbuhan ekonomi tahun 2014 diproyeksi 3.5% dari 3.8% dengan inflasi 1.4% dari 1.9%. Menteri Keuangan Korsel berjanji untuk menggunakan 31 triliun Won (USD 29 miliar) stimulus pada tahun ini dan mengusulkan budget sebesar 376 triliun Won untuk tahun 2015 guna mendukung pertumbuhan

Data industrial production Jepang bulan Agustus turun 1.9% MoM dari sebelumnya turun 1.5% MoM. Demi menggerakkan perekonomian dalam negeri, salah satu upaya yang terus dilakukan Pemerintah Jepang adalah dengan mendorong inflasi di negara tersebut. Stimulus 60-70 triliun Yen pun digelontorkan Bank sentral Jepang, sebagai upaya untuk mencapai target inflasi 2%. Dan, jika ternyata inflasi masih jauh dari target, BOJ pun tidak menutup kemungkinan untuk memberikan stimulus baru yang lebih besar dari sekarang.

Penguatan Dolar Mulai Memberi Dampak

Di saat kekhawatiran akan pelemahan ekonomi dunia tengah dirasakan sekarang, muncul optimisme perekonomian Amerika mulai pulih. Namun, menguatnya dolar Amerika terhadap mata uang sejumlah negara yang berlangsung terus menerus dan signifikan, dapat mengancam pemulihan Amerika.

Tumpukan barang buatan AS
Impor AS yang dilaporkan Departemen Tenaga Kerja Amerika, turun 0.5% di bulan September. Penguatan dolar AS yang lebih cepat dan signifikan menyebabkan harga barang impor menjadi lebih murah. Selain itu, turunnya harga produk berbasis petroleum ikut melemahkan impor Amerika. Penguatan mata uang negara Paman Sam juga menyebabkan ekspor mengalami penurunan 0.2% di bulan September. Penjualan ritel AS pun turun 0.3% di bulan September, penurunan pertamanya dalam 7 bulan. Selain itu indeks harga produsen AS turun 0.1% di bulan September, penurunan pertamanya sejak Agustus 2013.

Indonesia Menanti Kebijakan Baru Dari Presiden Baru

Sepekan sebelumnya, Bank Dunia memangkas target pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5.2% dari pertumbuhan tahun lalu sebesar 5.8%. Menurut Bank Dunia, pemangkasan tersebut dikarenakan perekonomian Indonesia sangat tergantung pada ekspor. Harga komoditas sebagai barang utama ekspor indonesia masih terus melemah. Sehingga, seiring dengan pelemahan harga komoditas tersebut, ekspor Indonesia diprediksi ikut melemah. Dengan pelemahan ekspor tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia pun akan ikut melemah.

Bank Dunia juga meyakini perekonomian Indonesia akan terus melemah dalam beberapa tahun kedepan. Namun, pelemahan ekonomi Indonesia tersebut dapat dicegah, salah satunya dengan mengoptimalkan pengadaan infrastruktur dari kawasan Indonesia bagian barat hingga Indonesia bagian timur. Namun, pengadaan infrastruktur tersebut dapat segera teralisasi andai saja pemerintah mau memangkas anggaran subsidi energi. Itu artinya, pemerintah harus berani menaikkan harga BBM bersubsidi. Sehingga, dana yang sebelumnya dialokasikan untuk subsidi BBM, bisa dipergunakan untuk membangun infrastruktur.

Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia, Choirul Tanjung, menyampaikan kemungkinan di November mendatang, pemerintah yang baru akan menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar Rp. 1000 sampai Rp. 3.000,-. Kenaikan harga BBM Rp 3000/liter menurut Kementerian Keuangan akan menghemat anggaran belanja APBN hingga Rp 21 triliun, setara 0,2% PDB. Selain itu, kenaikan harga BBM bisa membuat defisit anggaran Indonesia pada akhir 2014 berada di bawah target yang ditetapkan dalam APBN Perubahan 2014, yakni 2.4% terhadap PDB atau Rp241,5 triliun. Hingga Agustus 2014, realisasi defisit anggaran baru mencapai Rp107 triliun (44.3% dari target Rp241.5 triliun), atau sekitar 1.1% terhadap PDB.

Data dari BKPM mencatat realisasi investasi pada Januari-September 2014 mencapai Rp342.7 triliun. Investasi yang masuk ke Indonesia sepanjang tahun 2014 mampu tumbuh 16.8 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp228.3 triliun. Hal ini semakin menegaskan bahwa Indonesia masih menjadi target investor untuk mengembangkan modalnya. Dari sisi lain, Indonesia memiliki pasar yang besar dengan tingkat konsumsi masyarakat yang besar pula. Selain itu, komitmen pemerintah untuk mengembangkan infrastruktur demi memajukan perekonomian dalam negeri, semakin membuat investor sulit berpaling dari Indonesia.

Namun, kisruh politik yang sempat memanas beberapa waktu silam, bisa saja membuat investor merasa tidak nyaman berinvestasi di Indonesia. Risiko politik ini dapat menciptakan capital outflow yang lebih besar dari sebelumnya. Beruntung, Presiden terpilih langsung bergerak cepat dan tepat dengan menemui beberapa tokoh yang menjadi kompetitornya. Sehingga, apa yang dilakukan oleh Presiden terpilih dapat mengkondusifkan politik yang sempat memanas selama beberapa hari terakhir.

Seperti yang kita ketahui bersama, pada Jumat akhir pekan minggu sebelumnya, Jokowi sebagai pesiden terpilih telah menemui ketua DPR, ketua MPR dan ketua DPD. Para petinggi masing-masing lembaga tersebut duduk bersama dalam satu forum. Inilah pertama kalinya eksekutif terpilih dan legislatif terpilih duduk bersama. Dan hasilnya, mereka sepakat untuk bekerjasama dalam membangun Indonesia.

Akhir pekan kemarin, satu upaya untuk menstabilkan politik lagi-lagi dilakukan oleh Jokowi. Ya, Jumat pekan kemarin, Jokowi bersilaturami menemui Prabowo yang notabene adalah pesaingnya saat pemilihan presiden yang lalu. Jelas, tindakan yang sudah dilakukan presiden terpilih dengan menemui legislatif dan Prabowo membuat politik dalam negeri terlihat mulai kondusif.

20 Oktober 2014 menjadi hari dilantiknya Presiden dan Wakil presiden terpilih. Sejak hari itu, Jokowi sudah secara resmi mulai menjalankan tugasnya sebagai kepala negara dan juga sebagai kepala pemerintahan. Jokowi merupakan sosok Presiden yang diinginkan oleh rakyat, juga para Investor. Lihat saja ketika Jowoki mendeklarasikan diri maju sebagai kandidat calon presiden. Bursa domestik yang tadinya bergerak di zona merah, seketika berbalik arah dan ditutup dengan keuntungan yang cukup signifikan. Pasar yang memprediksi keterpilihan Jokowi sebagai presiden cukup besar, membuat bursa domestik bergerak naik, dan berlangsung hingga diumumkannya Jokowi sebagai presiden terpilih.

Apa yang terjadi di Bursa Saham adalah, investor optimis bahwa di tangan Jokowi Indonesia bisa lebih berkembang dan maju lagi. Sosoknya yang sederhana, jujur dan bebas dari korupsi dinilai sebagai orang yang tepat untuk memimpin bangsa. Dengan pengalaman dari sederet institusi mulai walikota hingga gubernur, diyakini jika kelak Jokowi akan cepat beradaptasi memimpin birokrasi. Dan juga, pengalamannya sebagai pelaku usaha dinilai dapat membawa perekonomian Indonesia, tumbuh lebih tinggi dari sebelumnya.

20 Oktober ini adalah awal pembuktian dari berbagai macam ekspektasi terhadap Jokowi sebagai presiden terpilih. Setelah itu, kita nantikan seperti apa wajah baru Indonesia dibawah kepemimpinannya. Karena tantangan Indonesia kedepan akan semakin berat, mulai dari ketidakjelasan kapan Fed Rate akan dinaikan, juga perlambatan ekonomi global yang semakin mengkhawatirkan, diharapkan para pemimpin baru dapat bekerja untuk kepentingan negara.

Untuk wakil rakyat dan pemimpin rakyat, selamat bekerja.

Alumni jurusan Manajemen Universitas Negeri Semarang yang aktif di bidang saham sejak masa kuliah. Royan berfokus pada analisa fundamental dalam memilih investasi potensial, khususnya valuasi emiten.